Yang Harus Anda Lakukan Saat Alami Pelecehan Seksual

Para bintang berbaju hitam demi mendukung korban pelecehan seksual Para bintang berbaju hitam demi mendukung korban pelecehan seksual

Kampanye yang didengungkan para pesohor untuk mendukung korban kekerasan seksual menyuarakan kasusnya terus menggema. Setelah karpet merah Golden Globe dipenuhi gelombang busana berwarna hitam, kini hal yang sama akan terjadi pada BAFTA Awards.

BAFTA Awards adalah penghargaan film tahunan yang digelar oleh British Academy of Film and Television Arts. Banyak nominator dan tamu berencana mengenakan busana serba hitam saat nanti hadir pada malam penghargaan. Dilansir dari laman Variety, langkah ini merupakan bentuk solidaritas terhadap mereka yang menjadi korban pelecehan seksual sebagaimana yang sudah dilakukan di ajang penghargaan Golden Globe.

Para nominator dan tamu wanita di BAFTA Awards sepakat mengenakan gaun hitam untuk menunjukkan dukungan gerakan Time’s Up dan #MeToo. “Dengan sisa waktu kurang dari tiga pekan, para desainer dan produsen pakaian tergopoh-gopoh mengganti konsep busana agar sesuai dengan warna yang menyuarakan gerakan #MeToo,” demikian diberitakan laman WWD.

BAFTA menyatakan pihak penyelenggara tidak pernah meminta para tamu untuk mengenakan busana tertentu. Ketua BAFTA Jane Lush hanya menyebut bahwa lembaga yang dipimpinnya mendukung penyuaraan hak-hak korban kekerasan seksual. Ia mengatakan sudah saatnya gerakan #MeToo berubah menjadi #WeToo.

Kepala Eksekutif BAFTA Amanda Berry mengungkapkan dirinya mendapat banyak pertanyaan. “Orang-orang bertanya apakah semua akan menggunakan baju berwarna hitam?” kata Berry. “Aku tidak tahu jawabannya tapi aku menebak hal itu akan terjadi selama musim pemberian penghargaan,” jelasnya.

Pada ajang Golden Globe Awards di 2018 awal Januari lalu, semua artis Hollywood juga memakai pakaian hitam. Bukan kebetulan, mereka ternyata memang sengaja memakai pakaian hitam untuk mendukung gerakan #MeToo dan Time’s Up. Kedua gerakan tersebut digalakkan agar semua orang bisa speak up tentang pelecehan seksual yang pernah dialaminya, sekarang atau di zaman dulu.

Baca juga:  Model Rambut Pendek Lurus Sebahu ala Artis Korea

Gerakan #MeToo sebenarnya adalah gerakan yang sudah cukup banyak dilakukan oleh aktivis sosial di Amerika Serikat. Adalah Tarana Burke, seorang aktivis sosial yang pertama kali membuat gerakan #MeToo melalui media sosial MySpace pada 2006. Tarana Burke terinspirasi kisah pelecehan seksual yang tidak mendapatkan ruang sendiri di Amerika Serikat.

Hampir satu dekade terlewat, gerakan #MeToo semakin masif. Pada tahun 2017, artis Alyssa Milano mengangkat kembali gerakan tersebut. Hasilnya, sekarang #MeToo menjadi isu nasional setelah beberapa skandal pelecehan seksual berhasil dibuka di Amerika Serikat. Gerakan #MeToo sekarang ada di 16 negara dengan bahasa yang berbeda-beda.

Gerakan #MeToo & Time’s Up di Kalangan Hollywood

Gerakan #MeToo untuk mengecam tindakan pelecehan terhadap wanita (sumber: medium.com)

Gerakan #MeToo untuk mengecam tindakan pelecehan terhadap wanita (sumber: medium.com)

Sebelum acara Golden Globe 2018, deretan artis Hollywood sepakat untuk membuat gerakan yang terinspirasi dari #MeToo dengan nama Time’s Up. Gerakan yang sukses mengumpulkan donasi 13 juta dolar ini bertujuan agar para artis Hollywood yang dulunya pernah mengalami pelecehan seksual bisa speak up.

Hasilnya luar biasa, beberapa artis dan public figure di Amerika Serikat akhirnya bersuara, bahwa dirinya pernah mengalami pelecehan seksual. Sekarang gerakan ini mendapatkan dukungan dari artis papan atas seperti Taylor Swift, Ashley Judd, dan Rose McGowan.

Tidak hanya ramai di AS, #MeToo movement ternyata juga berhasil menggerakkan orang-orang di berbagai negara seperti Kenya, Pakistan, dan China. Dikutip dari Huffington Post, semangat Time’s Up baru-baru ini juga masuk ke Korea Selatan setelah jaksa Seo Ji Hyeon angkat bicara soal pelecehan yang diterimanya dari mantan Jaksa Penuntut Departemen Kehakiman Ahn Tae Geun pada tahun 2010 lalu.

Baca juga:  Tutorial Berjilbab Ala Laudya Chintya Bella

Pengakuannya ini kemudian menginspirasi banyak korban perempuan lainnya untuk ikut bicara, termasuk orang-orang ternama seperti assemblywoman Lee Jae Jeong dan reporter Lim Bo Young. Mereka juga cerita bagaimana selama ini mereka tidak bisa berkata apa-apa karena laki-laki yang melecehkan mereka biasanya adalah orang dengan jabatan yang lebih tinggi.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anda Menjadi Korban Pelecehan Seksual?

Masalah pelecehan seksual memang sangat berbahaya. Dari sisi korban, bisa jadi mereka enggan untuk mengungkapkan ke publik. Tetapi di sisi lain, jika tidak diungkapkan, tentu pelaku masih akan berkeliaran. Jadi, gerakan ini sangat membantu untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual.

Ada banyak alasan yang membuat para korban pelecehan takut untuk melaporkan pelecehan yang dialaminya. Salah satu alasannya adalah karena takut dibully, takut pada pelaku, dan rasa malu yang tinggi. Padahal, sebenarnya Anda tak perlu malu dan takut untuk melaporkan pelecehan seksual yang Anda alami.

Tidak hanya dunia hiburan saja yang rentan terhadap perilaku pelecehan seksual. Dunia kerja yang lain, termasuk kerja kantoran sampai dunia fesyen juga rentan pelecehan seksual.

Ilustrasi: pelecehan terhadap wanita di tempat kerja (sumber: vonderhaarlaw.com)

Ilustrasi: pelecehan terhadap wanita di tempat kerja (sumber: vonderhaarlaw.com)

“Tindakan seksual yang tidak diinginkan, permintaan untuk kesenangan seksual, kata-kata atau tindakan fisik lainnya yang bersifat seksual merupakan sebuah pelecehan seksual ketika tindakan ini secara eksplisit atau implisit memengaruhi pekerjaan seseorang, mengganggu kinerja pekerjaan seseorang secara tidak wajar, atau menciptakan intimidasi, permusuhan, atau menyinggung perasaan di lingkungan kerja,” tulis The United States Equal Employment Opportunity Commission (EEOC) dikutip dari Psychology Today.

Baca juga:  Penyakit Jantung dan Kanker Payudara: Bisakah Wanita Mengurangi Risiko untuk Keduanya?

Berikut hal-hal yang harus dilakukan saat mengalami pelecehan seksual:

  • Jika Anda berani berterus terang, maka katakan kepada pelaku untuk berhenti melecehkan Anda.
  • Jika tak berani bicara pada pelaku dan dia tak berhenti melakukan pelecehan pada Anda, maka simpan berbagai bukti pelecehan dari si pelaku.
  • Jika pelecehan ini terjadi di kantor, maka cek kebijakan kantor terkait hal ini. Cek di laman hak karyawan atau di buku panduan karyawan. Jika tak menemukannya, Anda bisa bertanya pada supervisor atau karyawan di bagian HRD.
  • Jika ada aturan tertulis soal hal ini, ikuti langkah-langkahnya. Kebijakan tersebut akan memberikan berbagai pilihan untuk melaporkan pelecehan termasuk pilihan untuk mengajukan keluhan.
  • Jika tak ada kebijakan soal ini, maka bicaralah dengan atasan Anda atau atasan pelaku pelecehan.

Anda tak perlu takut melaporkan perbuatan ini karena hukum melindungi korban yang mengajukan keluhan soal pelecehan. Anda punya hak untuk melaporkan keluhan.

Anda selalu punya pilihan untuk memidanakan pelaku pelecehan.

Para penyintas korban pelecehan seksual umumnya akan menceritakan pengalaman buruk mereka setidaknya kepada satu orang teman terdekat mereka. Ketika Anda berada di posisi teman yang diceritakan ini, Anda mungkin tak bisa menyelesaikan masalahnya, tetapi dukungan Anda sangat berarti dalam proses pemulihannya.

Perlu waktu bagi korban pelecehan seksual untuk pulih dari trauma yang ia alami. Hindari juga menanyakan detail pengalamannya tersebut jika ia enggan menceritakannya. Bantu juga teman Anda untuk merasa aman di lingkungan interaksi dia saat ini.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: