Waspada Bercak Putih di Kulit, Mungkin Vitiligo yang Menyebabkan Kematian

Ilustrasi: penyakit kulit vitiligo (sumber: health.com)Ilustrasi: penyakit kulit vitiligo (sumber: health.com)

Tidak hanya bercak hitam yang sering muncul di permukaan kulit, beberapa orang juga memiliki bercak putih di kulitnya. Jika itu bercak hitam karena freckles, mungkin tidak perlu terlalu dikhawatirkan, karena banyak sekali produk kecantikan dan kesehatan kulit yang mampu mengatasinya.

Nah, yang perlu Anda waspadai jika yang timbul di permukaan kulit adalah bercak putih yang sangat kontras dengan warna kulit Anda. Jika bercak tersebut tidak hilang dalam waktu 1 bulan, bahkan semakin merambah daerah lain, ada baiknya Anda segera menghubungi dokter kulit. Bisa jadi, itu merupakan gejala vitiligo.

Apa itu Vitiligo?

Mungkin kata vitiligo terdengar asing bagi sebagian orang, hal ini karena penyakit ini bukan penyakit biasa. Tidak banyak orang mengalami vitiligo, karena sebagian besar orang cenderung memiliki kulit normal yang sehat. Vitiligo sendiri termasuk salah satu jenis penyakit yang tidak menular dan sangat jarang ditemui. Di Indonesia, jumlah penderita vitiligo tidak begitu banyak dan sangat jarang dengan perbandingan 1:1000.

Dilansir dari Health Harvard Edu, vitiligo bukan jenis penyakit atau gangguan biasa yang terjadi pada bagian permukaan kulit. Vitiligo dengan pengucapan “vit-uh-LIE-go,” merupakan sebuah kondisi medis ketika ada bagian epidermis yang kehilangan pigmen. Kondisi ini menyebabkan beberapa bagian kulit terlihat seperti bercak putih yang tak beraturan. Vitiligo terjadi ketika melanosit, sel-sel yang bertanggung jawab untuk membuat pigmen kulit hancur. Vitiligo dapat memengaruhi bagian tubuh manapun, dan itu dapat terjadi pada orang dari segala usia, etnis, atau jenis kelamin.

Baca juga:  Cara Melakukan Extension Bulu Mata

“Bahaya dari vitiligo tidak hanya berdampak pada fisik saja, vitiligo dapat menjadi penyakit yang menghancurkan seorang individu secara emosional dan sosial. Terutama frustasi bagi banyak orang,” kata seorang dokter kulit di Brigham and Women’s Hospital, Kristina Liu, MD, MHS. “Sejauh ini, tidak ada obat untuk vitiligo. Tetapi, sebuah harapan muncul, berkat penelitian terbaru yang meningkatkan pemahaman kita tentang vitiligo dan cara baru yang berpotensi untuk mengobatinya.”

Ilustrasi: penyakit kulit vitiligo (sumber: moddermatology.com)

Ilustrasi: penyakit kulit vitiligo (sumber: moddermatology.com)

Vitiligo Sebabkan Kematian?

Jika seseorang terjangkit vitiligo, tubuhnya secara tidak wajar dapat menyerang sel-sel yang berfungsi untuk memproduksi pigmen kulit. Vitiligo juga dianggap sebagai penyakit autoimun, ketika sistem kekebalan tubuh seseorang secara keliru menyerang tubuhnya sendiri. Dalam hal ini, sistem imun dapat menyerang melanosit. Melanosit seseorang dengan vitiligo tampaknya tidak dapat mengatasi ketidakseimbangan antioksidan dan radikal bebas berbahaya dalam tubuh, yang mengakibatkan kerusakan sel dan kematian.

Perlu Anda ketahui pula, vitiligo juga berhubungan dengan penyakit tiroid, baik kelebihan atau kekurangan aktivitas tiroid. Lebih jarang, terjadi bersamaan dengan kondisi autoimun lainnya, seperti lupus atau diabetes tipe 1.

Baca juga:  Varian Produk Bedak Inez Untuk Jenis Kulit Kering

Pengobatan Gangguan Vitiligo

Ada sejumlah perawatan yang bertujuan mengembalikan warna kulit yang rusak. Salah satu perawatan tertua dan paling efektif adalah fototerapi (terapi cahaya) dengan sinar ultraviolet B (UVB). Untuk perawatan ini, pasien harus melakukan terapi dengan kulit terpapar sinar UVB sebanyak dosis yang dibutuhkan selama seminggu, baik di klinik atau di rumah.

Terapi cahaya sering digunakan dalam kombinasi dengan obat topikal yang diterapkan pada kulit. Beberapa jenis obat topikal tersebut, seperti steroid topikal, inhibitor kalsineurin topikal (seperti tacrolimus atau pimecrolimus), atau analog vitamin D topikal (seperti kalsipotriol dan tacalcitol). Obat topikal juga dapat digunakan sendiri, tanpa terapi cahaya, meskipun ketika dua perawatan digunakan bersama, pasien dapat melihat hasil yang lebih baik. Jika area yang di-depigmentasi luas, ada juga pilihan untuk menggunakan obat topikal untuk memutihkan kulit yang tidak terpengaruh, menjadikannya lebih dekat warnanya ke area yang di-depigmentasi.

Ilustrasi: mengobati vitiligo (sumber: praxisvita.de)

Ilustrasi: mengobati vitiligo (sumber: praxisvita.de)

Jika perawatan medis seperti di atas tidak efektif, perawatan bedah mungkin menjadi pilihan bagi orang-orang tertentu. Cangkok kulit dapat diambil dari kulit yang berpigmen normal, biasanya dari bagian pantat atau pinggul, dan dipindahkan ke daerah yang mengalami depigmentasi di bagian tubuh yang lebih terlihat.

Baca juga:  Saran Konsumsi Produk Herbalife Untuk Diet Saat Puasa

Tidak semua orang akan melakukan cangkok kulit, dan baru-baru ini beberapa penelitian menarik telah melihat kelas obat yang disebut JAK inhibitor sebagai opsi pengobatan baru yang mungkin. Inhibitor JAK ini bekerja dengan mengurangi kadar bahan kimia inflamasi yang mendorong perkembangan penyakit serta merangsang melanosit untuk tumbuh kembali.

Sebuah penelitian, yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Dermatology meneliti JAK inhibitor ruxolitinib terhadap penyakit vitiligo pada seorang pasien dan melaporkan hasil yang menjanjikan untuk repigmentasi pada orang dengan vitiligo ketika JAK inhibitor digunakan bersama dengan fototerapi UVB.

Meskipun penelitian awal ini hanya menganalisis kelompok kecil dari sebagian besar pasien vitiligo, beberapa penelitian skala besar sedang dilakukan untuk menilai bagaimana kedua penghambat JAK oral dan topikal dapat meningkatkan vitiligo. Data awal dari uji cobaini menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk repigmentasi pada kulit pasien vitiligo, terutama pada wajah. Harapannya adalah hasil penelitian ini pada akhirnya akan mengarah pada persetujuan FDA bahwa JAK inhibitor dapat digunakan untuk pengobatan vitiligo.

Karena JAK inhibitor masih dianggap tidak berlabel oleh FDA untuk digunakan dalam pengobatan vitiligo, saat ini obat-obatan tersebut jarang ditanggung oleh asuransi kesehatan. Karena itu pula, tak heran jika obat-obatan tersebut memiliki harga yang mahal.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: