Wanita Wajib Tahu, Ini Mitos Seputar Endometriosis

Ilustrasi: wanita mengalami nyeri haid (sumber: prima.co.uk)

Ada banyak gangguan alat reproduksi wanita yang umum terjadi, salah satunya adalah endometriosis. Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa ini adalah salah satu penyakit yang dapat menyebabkan siklus menstruasi terganggu. Mitos seperti ini tampaknya perlu diluruskan, sehingga Anda bisa mengetahui apakah Anda benar-benar mengidap endometriosis atau tidak.

Endometriosis didefinisikan dengan adanya mukosa yang berkarakteristik seperti endometrium di luar rongga rahim.[1] Dilansir dari Harvard Health Publishing, kondisi seperti ini bisa terjadi ketika jaringan yang bentuknya sama dengan jaringan pelapis rahim (endometrium) mulai tumbuh di luar rahim. Pertumbuhan jaringan bisa menyebabkan nyeri, jaringan parut, dan pada beberapa kasus terjadi kemandulan.

Masih dilansir dari sumber yang sama, diperlukan waktu hingga tujuh tahun bagi seorang wanita untuk mendapatkan diagnosis endometriosis, karena gejalanya mirip dengan kondisi atau penyakit dalam yang umum, di antaranya sindrom iritasi usus besar dan penyakit radang panggul. Gejala yang hampir sama ini yang membuat kebanyakan orang sering salah paham dan menganggap beberapa mitos endometriosis adalah hal yang benar. Berikut adalah mitos-mitos tersebut.

Mitos Endometriosis

Ilustrasi: nyeri pada organ intim wanita (sumber: veggieshake.com)

Ilustrasi: nyeri pada organ intim wanita (sumber: veggieshake.com)

  • Gejala endometriosis adalah menstruasi dengan darah yang berlebihan. Tidak semua wanita dengan endometriosis mengalami menstruasi berat, bahkan beberapa ada yang normal atau terhambat. Hal ini terkadang membuat sebagian wanita yang mengalami periode haid yang berat merasa harus memeriksakan diri, sehingga dianggap berlebihan oleh beberapa orang. Namun, Anda tidak perlu khawatir, ini juga salah satu cara untuk mengetahui apakah Anda mengidap penyakit lain atau tidak, karena bisa jadi menstruasi yang berat dipicu oleh penyakit lainnya.
  • Gejala endometriosis adalah nyeri berlebihan saat haid. Hal ini bisa saja benar jika nyeri yang Anda rasakan menimbulkan peradangan atau pembengkakan yang tidak wajar. Selama siklus menstruasi, jaringan yang mirip dengan endometrium akan menebal dan akhirnya menyebabkan pendarahan. Darah pada jaringan ini tidak bisa dikeluarkan oleh tubuh, berbeda dengan jaringan endometrium yang darahnya bisa dikeluarkan lewat vagina. Darah yang terhambat di dalam tubuh akan berkumpul dan mengiritasi bagian tersebut, sehingga timbul rasa nyeri yang bisa berkembang menjadi jaringan parut dan terlihat bengkak.
  • Endometriosis hanya menyerang daerah panggul. Hal ini adalah mitos yang membuat beberapa wanita menjadi gelisah saat periode menstruasinya terasa lebih nyeri dibandingkan masa haid lain. Perlu Anda ketahui, jaringan yang mirip endometrium ini tidak hanya bisa tumbuh di daerah panggul, tetapi bisa menyebar ke organ lainnya. Pada beberapa kasus, ditemukan jaringan mirip endometrium di paru-paru dan ini membuat dada Anda merasa nyeri dan terkadang sesak napas.
  • Gejala endometriosis selalu menyebabkan rasa nyeri atau linu. Ini hanyalah mitos yang beredar di masyarakat. Tidak semua orang dengan endometriosis mengalami nyeri. Tak jarang seorang gadis tidak mengetahui bahwa dirinya menderita gangguan ini. Inilah yang membuat penyakit ini terbilang cukup berbahaya. Selain itu, jika Anda tidak tahu apakah Anda mengidap endometriosis atau tidak, hal ini bisa meningkatkan risiko keguguran saat hamil atau susah mendapatkan keturunan.
  • Endometriosis dapat dicegah. Menurut US Office of Women’s Health, tidak ada kejelasan mengenai penyebab endometriosis atau tumbuhnya jaringan di luar rahim, sehingga belum ada cara untuk mencegahnya. Namun, ada cara tertentu untuk membantu menurunkan kadar estrogen dalam tubuh untuk mengurangi risiko endometriosis. Estrogen dapat memicu pertumbuhan endometriosis dengan cepat dan memperbesar gejalanya. Untuk mengurangi kadar hormon ini, Anda bisa memilih menggunakan metode kontrasepsi estrogen rendah, berolahraga secara teratur, dan mengurangi berat badan.
Baca juga:  Pilihan Merek Suplemen Vitamin Untuk Atasi Kulit Kering dan Kusam

Selain mitos di atas, beberapa orang juga percaya, endometriosis dapat membaik setelah menopause. Meskipun gejala endometriosis paling sering terjadi selama menstruasi, bagi beberapa wanita, gejala ini bertahan lama setelah siklus bulanan berakhir. Setelah seorang wanita mengalami menopause, ovarium terus memproduksi sejumlah estrogen. Sehingga, endometriosis dapat terus berkembang dan menyebabkan rasa sakit.

Beberapa wanita yang telah mengalami menopause dengan kondisi ini, dapat memilih prosedur pembedahan untuk mengangkat implan atau adhesi endometriosis atau histerektomi dan ooforektomi (pengangkatan ovarium). Namun, prosedur ini tidak selalu berhasil mengendalikan rasa sakit. Terapi hormonal juga tampaknya kurang efektif pada wanita setelah menopause.

[1] Luqyana, Salwa Darin & Rodiani. 2019. Diagnosis dan Tatalaksana Terbaru Endometriosis. JIMKI Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Universitas Lampung, Vol. 7(2): 67-75.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: