Tidak Bergejala, Virus Polio Turunan Vaksin Bisa Menyebabkan Kelumpuhan

Ilustrasi: vaksin polio (sumber: worldatlas.com)Ilustrasi: vaksin polio (sumber: worldatlas.com)

Imunisasi polio merupakan imunisasi untuk mencegah penyakit poliomyelitis, yakni penyakit sistem saraf pusat yang akibat virus polio tipe 1, 2, dan 3.[1] Meskipun bisa dicegah, tak jarang orang terkena polio secara tidak sadar, apalagi jika itu disebabkan virus polio turunan vaksin yang tidak bergejala.

Penemuan Virus Polio Turunan Vaksin

Jika Anda tidak tahu banyak tentang polio, itu adalah hal yang umum. Berkat vaksinasi, tidak ada kasus infeksi polio liar yang berasal dari Amerika Serikat sejak 1979. Sayangnya, itu tidak berarti bahwa tidak ada polio di AS dan negara-negara lainnya.

Pelancong dari negara lain dapat membawa, baik virus polio liar maupun virus polio turunan vaksin. Belakangan ini kita sering mendengar berita tentang kasus polio, kebanyakan polio yang berasal dari vaksin, dan kebanyakan berasal dari negara lain. Namun data air limbah menunjukkan bahwa virus polio menyebar hingga ke berbagai penjuru dunia dan ini yang harus diwaspadai para orang tua.

Bahkan, dilansir dari CNN Indonesia, virus polio ditemukan pada sampel limbah di London, Inggris. Hal ini membuat otoritas kesehatan setempat mewanti-wanti masyarakat soal pentingnya vaksinasi polio. Virus itu ditemukan dalam sampel limbah dari Becton Sewage Treatment Works, London yang diambil antara Februari hingga Mei 2022.

Baca juga:  Wanita Wajib Waspadai Endometriosis! Ini Ciri-Ciri & Pengobatannya
Ilustrasi: virus polio (sumber: seekingalpha.com)

Ilustrasi: virus polio (sumber: seekingalpha.com)

Apa Itu Virus Polio yang Diturunkan dari Vaksin?

Vaksin polio membantu tubuh membuat antibodi yang dibutuhkan untuk melawan polio. Dilansir dari Harvard Health Publishing, vaksin polio oral yang digunakan di banyak negara mengandung versi virus polio yang dilemahkan. Sejak tahun 2000, AS hanya menggunakan vaksin yang tidak aktif, berdasarkan versi virus yang dibunuh dan diberikan sebagai suntikan.

Nah, virus polio yang diturunkan dari vaksin ini umumnya berasal dari vaksin polio oral. Sementara vaksin oral efektif dan umumnya aman, virus yang dilemahkan dapat menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Penyakit dapat menyebar ketika ada banyak orang yang tidak divaksinasi.

Jika cukup banyak orang yang divaksinasi, wisatawan dengan virus polio liar atau yang diturunkan dari vaksin tidak menimbulkan masalah. Kekebalan komunal adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana vaksinasi melindungi orang. Jika cukup banyak orang yang dilindungi vaksinasi, sulit bagi penyakit untuk menyebar.

Baca juga:  6 Bedak untuk Memutihkan Wajah yang Diklaim Aman Tanpa Efek Samping

Persentase orang yang perlu divaksinasi untuk menghentikan penyebaran bervariasi dari infeksi ke infeksi, untuk polio jumlahnya sekitar 80% sampai 85%. Sementara sebagian besar anak-anak di AS divaksinasi polio, keragu-raguan vaksin tetap menjadi masalah, terutama ketika anak-anak yang tidak divaksinasi tinggal dalam kelompok di mana infeksi dapat menyebar. Anda tidak dapat selalu mengandalkan kekebalan komunal untuk melindungi anak-anak yang tidak divaksinasi.

Ilustrasi: vaksinasi polio (sumber: news.sky.com)

Ilustrasi: vaksinasi polio (sumber: news.sky.com)

Gejala Virus Polio yang Diturunkan dari Vaksin

Virus polio turunan vaksin bisa berbahaya. Kebanyakan orang yang terkena virus ini tidak memiliki gejala atau memiliki gejala seperti flu ringan, yang memungkinkannya menyebar tanpa disadari. Dalam beberapa kasus, polio dapat mempengaruhi otak dan sumsum tulang belakang. Pada sekitar satu dari 200 orang yang terkena polio, dapat menyebabkan kelumpuhan atau bahkan kematian. Pada akhir 1940-an, wabah polio melumpuhkan sekitar 35.000 orang setiap tahun.

Namun, vaksinasi bekerja dengan sangat efektif. Dengan pengembangan vaksin polio yang tidak aktif dan oral pada 1950-an hingga 1960-an, jumlah kasus kelumpuhan akibat polio di AS turun dengan cepat dari 15.000 pada 1950-an menjadi 10 pada 1970-an.

Baca juga:  Apakah Sarapan Mampu Menurunkan Berat Badan?

Dua dosis vaksin yang tidak aktif 90% efektif dalam mencegah polio dengan dosis ketiga, perlindungan itu meningkat menjadi 99% hingga 100%. Jadwal yang direkomendasikan saat ini adalah dosis vaksin yang tidak aktif pada usia 2, 4, dan 6 bulan, dengan dosis booster pada usia 4 hingga 6 tahun.

Vaksinasi polio yang telah berkembang juga aman. Beberapa orang merasa pusing sebentar setelah mendapatkannya, dan mungkin ada kemerahan atau nyeri di tempat suntikan. Setiap orang setelah vaksin memang akan mengalami efek samping dan alergi yang sulit diprediksi, tetapi tidak ada masalah serius yang terkait dengan vaksin polio yang dinonaktifkan.

[1] Indrayani, Mira. 2021. Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Pemberian Imunisasi Polio pada Balita di Rumah Sakit Imelda Pekerja Indonesia (IPI) Medan. Jurnal Ilmiah Kebidanan Imelda Universitas Imelda Medan, VOl. 7(1): 6-11.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: