Usia Ayah, Salah Satu Faktor Penting Yang Membentuk Perkembangan Anak

Ayah dan anak sedang bermain - (Photo: Halfpoint) Ayah dan anak sedang bermain - (Photo: Halfpoint)

Di masa kini, sebagian besar orang menunda untuk menikah dan memiliki anak. Kaum milenial memerlukan lebih banyak waktu untuk belajar dan menghabiskan waktu mereka untuk berkarir.

Banyak telah berfokus kepada dampak dengan usia matang terhadap perkembangan anak. Dari segi perempuan, memiliki anak dapat meningkatkan risiko keguguran, masalah kehamilan, dan anak-anak mengalami gangguan dalam perkembangannya. Tetapi, sisi positifnya, wanita dengan umur yang matang mungkin bisa menjadi orang tua yang lebih baik.

Kini, penelitian diarahkan kepada umur ayah. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak-anak yang mempunyai ayah dengan kisaran umur 35 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi terkena autisme, schizophrenia atau cacat lahir. Penelitian lain menyebutkan bahwa anak-anak yang mempunyai ayah dengan kisaran umur lebih dari 40 tahun mungkin dapat mengalami penurunan kemampuan dalam menerima pelajaran.

Penelitian di Inggris menjalankan sebuah yang mendorong siswa dengan kisaran umur 18 tahun untuk menyumbangkan sperma mereka, dan National Health Service akan membayarnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jika hal ini ditetapkan, kantor tersebut mungkin menginginkan untuk mengumpulkan hingga laki-laki tersebut beranjak dewasa.

Baru-baru ini, penelitian memperlihatkan hasil bahwa umur ayah yang lebih dewasa adalah satu penting dalam pengembangan kemampuan sosialnya. Hal ini merupakan sesuatu yang independen dari umur ibu. Hasil dari penelitian ini telah dipublikasikan di Journal of the AMerican Academy of Chils and Adolescent Psychiatry (JACCP). Hasilnya termasuk kemampuan sosial seperti menolong, berbagi, mengakui perasaan mereka dan menjadi seseorang yang perhatian kepada sesama.

Peneliti menguji data dari 15.000 anak kembar di Inggris. Orang tua mereka menjawab kuesioner mengenai kekuatan dan kesulitan. Hal ini merupakan evaluasi keperilakuan untuk anak usia 3-16 tahun yang dilakukan oleh petugas klinik, pengajar, dan peneliti. Semua subjek yang dipilih merupakan bagian dari proyek lain yang disebut Twins Early Development study (TEDs). Peneliti menguji anak-anak yang terdaftar dalam masalah sosial dengan temannya, misalnya anak-anak yang hiperaktif dan emosional. Mereka juga melihat dari segi umur ayahnya dan faktor lingkungan dan genetik.

Hal yang dapat diambil kesimpulan oleh peneliti adalah anak-anak yang mempunyai ayah di bawah umur 25 tahun memiliki kemampuan sosial yang lebih baik ketika mereka muda. Pernyataan yang sama juga berlaku untuk anak-anak yang memiliki ayah dengan umur 51 tahun atau bahkan lebih tua. Ketika anak-anak terlahir di dalam lingkungan yang ayahnya terlalu muda atau tua, kebiasaan sosial mereka akan cenderung lebih lambat pada saat remaja.

Dr. Magdalena Janecka, ketua dari penelitian ini mengatakan bahwa peningkatan pentingnya dampak dari faktor genetik terhadap keturunan telah diteliti, tetapi bukan ayah yang terlalu muda, ia berpendapat bahwa ada perbedaan mekanisme di balik dampak dari dua hal ekstrem dari umur ayah. Ia juga menambahkan, walaupun kebiasaan anak-anak mereka mirip, tetapi tetap saja berbeda.

Berdasarkan pendapat Janecka, dalam mengidentifikasi struktur saraf yang dipengaruhi oleh konsep umur ayah, dan melihat bagaimana perbedaan perkembangan dari pola seperti itu, akan memberikan gambaran kepada Anda supaya memahami lebih baik mekanisme di balik dampak dari umur ayah seperti autisme dan schizophrenia.

Serupa dengan penelitian yang dilakukan di Swedia terhadap jutaan anak. Analisis terhadap kelahiran anak di tersebut juga menemukan hasil bahwa anak yang lahir dengan ayah berusia matang berisiko tinggi melakukan kekerasan, bunuh diri dan mengalami kegagalan akademik.

Untuk meneliti efek usia orang tua terhadap gangguan pada anak, Donofrio, peneliti di Swedia yang juga psikolog anak, bekerja sama dengan para peneliti di Karolinska Institute. Mereka menganalisa catatan lebih dari 2,6 juta anak yang lahir di Swedia antara tahun 1973 dan 2001.

Donofrio menyebutkan bahwa para ayah dengan rata-rata usia 45 tahun hingga 79 masuk ke dalam golongan tua. Sedangkan untuk golongan muda adalah ayah dengan rentang usia 20-24 tahun.

Dalam analisisnya, para peneliti menyingkirkan faktor sosial dan lingkungan yang bisa mempengaruhi kondisi anak. Karenanya, peneliti membandingkan kondisi anak dengan saudara mereka yang lebih tua namun lahir dari keluarga yang mempunyai ayah dengan usia lebih muda.

Hasilnya, anak-anak dengan ayah berusia lebih tua cenderung mengalami gangguan bipolar, dengan risiko 25 kali lebih tinggi. Mereka juga 13 kali berisiko mengalami gangguan konsentrasi dengan kondisi hiperaktif, serta 3,5 kali lebih berisiko mengidap autisme. Kondisi ini kemudian dibandingkan dengan anak-anak yang mempunyai ayah dengan usia lebih muda.

Seorang Anak Ditemani Ayahnya - (Sumber: askmen.com)

Seorang Anak Ditemani Ayahnya – (Sumber: askmen.com)

Anak-anak yang lahir dengan ayah berusia lebih tua memiliki kecenderungan dua kali lebih tinggi untuk bunuh diri, selain itu juga meningkatkan kemungkinan menjadi pelaku kekerasan, serta 1,6 kali lebih banyak tinggal kelas dan 1,7 kali lebih banyak putus sekolah.

Meskipun begitu, Donofrio mengatakan bahwa ayah dengan usia lebih tua memiliki kecenderungan kecil dalam memiliki anak dengan gangguan mental.

Studi menemukan ada 2.424 kasus autisme dari 900.000 anak yang lahir antara tahun 1992 dan 2001. Sementara untuk penderita bipolar, jumlah kasusnya sekitar 6.819 dari 2,3 juta anak lahir antara 1973 dan 1997.

Menurut psikiater dan direktur Child Study Center di Yale School of Medicine, Fred Volkmar mengatakan bahwa studi mengenai dampak umur ayah terhadap psikologis anak tidak mengubah pandangannya terhadap orangtua. Tetapi, menurutnya, hasil studi tersebut masih masuk akal. Pada saat usia ayah semakin tua, maka sperma mereka akan menurun sehingga berpotensi menimbulkan masalah.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: