Trauma Masa Kecil Berdampak pada Usia yang Pendek dan Pelemahan Sistem Imun Tubuh

Trauma masa kecil [foto:maxlkt]

Hubungan antara pikiran dan tubuh telah banyak diteliti. Salah satunya mengenai hal yang bersangkutan dengan orangtua dan keadaan emosional anak ketika dewasa. Beberapa waktu terakhir, dalam dunia ditemukan hasil bahwa emosi negatif dapat melemahkan imun tubuh.

Emosi ini mencakup depresi, kronis dan kesepian. Steve Cole, PhD dari Cousins Center for Psychoneuroimmunology di UCLA menyatakan hal tersebut berhubungan. Ia menunjukkan beberapa tahun lalu, bahwa emosi negatif dapat berdampak terhadap sistem imun.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences menyatakan hasil yang cukup mengejutkan. Peneliti menemukan bahwa orang dewasa yang mengalami masa kecil kurang menyenangkan mempunyai imun yang lebih rendah daripada yang tidak mengalaminya.

Para pakar psikologi juga terlibat dalam penelitian ini. Mereka ingin mengetahui bagaimana perpisahan orangtua dan bagaimana cara mengendalikan hal tersebut dan dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang anak.

Bagi orangtua yang suka berdebat atau bertengkar dengan berteriak satu sama lain berdampak terhadap kesehatan anak, yaitu anak-anak mereka lebih mudah terserang seperti flu.

Untuk melakukan penelitian ini, para peneliti mengumpulkan 201 orang dewasa. Pertama, mereka dikarantina, kemudian masing-masing diberi virus yang dapat mengakibatkan flu. Peneliti kemudian mengamati selama lima hari, untuk melihat apakah mereka akan sakit atau tidak. Bagi anak-anak yang mengalami trauma, berasal dari yang orangtuanya bercerai, secara signifikan lebih mudah terkena flu. Namun, kabar baiknya, bagi orangtua yang berpisah, namun tetap menjaga sikap mereka di depan anak-anaknya, mengakibatkan anak-anaknya memiliki sistem imun yang baik.

Michael Murphy, doktor bidang psikologi di Carniege Melon University mengatakan bahwa “Pengalaman hidup yang mengakibatkan stres dapat berpengaruh terhadap psikis dan proses penyembuhan yang dapat meningkatkan risiko bagi kesehatan dan menyebabkan sakit.” Berdasarkan penelitian ini, orang yang memiliki trauma masa kecil dapat terkena dampak setelah dua atau empat dekade kemudian.

Profesor Psikologi Sheldon Cohen dari Robert E. Doherty University menambahkan, “ Target kami yaitu sistem imun menjadi satu hal yang penting bagi dampak negatif jangka panjang dari masalah keluarga.” Akan tetapi dengan komunikasi yang baik akan mengurangi dampak buruk bagi kesehatan, tambahnya.

Kenangan masa kecil punya dampak masa depan yang permanen
[foto:NatoPereira]

Sistem imun manusia tidak hanya dipengaruhi oleh kejadian masa kecil yang tidak menyenangkan, namun juga karena beberapa hal di bawah ini:

Kebiasaan begadang

Mengurangi waktu tidur memiliki efek merugikan bagi tubuh, hal ini karena jam tidur yang kurang berkaitan dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Peneliti dari University of Chicago menemukan bahwa orang yang tidur hanya 4 jam setiap harinya menghasilkan antibodi sebanyak 50% di dalam tubuhnya.

Merasa tertekan dan stres

Stres dan tekanan kronis yang diterima setiap hari tidak hanya membuat aktivitas sehari-hari menjadi tidak nyaman, tapi juga merugikan aspek kesehatan termasuk kekebalan tubuh. stres yang dialami dapat menyebabkan penurunan kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam melawan penyakit.

Menyendiri

Orang yang kesepian cenderung lebih mudah stres sehingga dampaknya pun terasa pada sistem imun. Menurut Sheldon Cohen, psikolog di Carnegie Mellon University, penting hukumnya untuk menjadwalkan waktu berkualitas dengan teman, rekan, bahkan tetangga guna memperkuat sistem imun.

Sering mengonsumsi antibiotik

Seseorang yang mengonsumsi antibiotik tertentu dapat mengurangi jumlah sitokin (hormon pembawa pesan dari sistem kekebalan tubuh). Sehingga ketika sistem kekebalan tubuh ditekan, seseorang akan lebih mudah mengembangkan bakteri resisten. Untuk itu sebaiknya tidak mengonsumsi sembarangan antibiotik, kecuali diresepkan oleh dokter.

Selain merendahkan sistem imun tubuh, trauma masa kecil dapat pula memperpendek umur manusia, sekitar 20 tahun lebih pendek. Penelitian yang dilakukan pusat pengendalian dan pencegahan penyakit di Amerika menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami 6 kali atau lebih kejadian termasuk emosi, fisik atau kekerasan seksual rata-rata memiliki umur 19 tahun lebih pendek dibandingkan dengan yang tidak memiliki trauma.

“Stres yang dialami secara terus menerus akan cenderung terakumulasi dalam kehidupan seseorang sehingga mempengaruhi bagaimana cara berkembang, berpikir dan mengontrol emosi orang tersebut,” ujar Dr. Robert Anda, yang melakukan investigasi dalam studi Adverse Childhood Experiences (ACE) di CDC

Untuk melakukan penelitian ini melibatkan lebih dari 17.000 orang yang disertai dengan catatan kesehatan dan kelakuannya selama tahun 1995 sampai 1997. Lalu pada tahun 2006 peneliti melihat kembali siapa saja yang masih bertahan hidup. Peneliti menemukan orang yang mendapatkan 6 atau lebih kejadian yang kurang baik selama hidupnya rata-rata memiliki usia 60 tahun sedangkan yang tidak bisa hidup hingga usia 79 tahun.

Anak-anak yang mengalami trauma tersebut cenderung mengambil faktor risiko yang bisa memperburuk kesehatan seperti merokok, mengonsumsi alkohol, penggunaan -obatan terlarang, obesitas atau kurang melakukan aktivitas fisik.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: