Studi: Transportasi Murah Tingkatkan Taraf Kesehatan Lansia

Ilustrasi: lansia bahagiaIlustrasi: lansia bahagia

Transportasi merupakan salah satu sarana yang mempermudah kita dalam mengakses berbagai tempat yang ingin kita datangi. Sejumlah transportasi umum bahkan memiliki berbagai macam fasilitas menarik. Tidak hanya sekedar pendingin ruangan saja, beberapa transportasi umum juga dilengkapi dengan sistem keamanan yang baik. Walaupun dari segi fasilitas sudah cukup berkembang, namun ini ternyata masih belum cukup.

Korelasi Transportasi dengan Dunia Medis 

Seperti yang kita ketahui, penduduk di Indonesia bukan hanya remaja atau orang dewasa. Banyak juga lansia di antara kerumunan orang yang masih sanggup melakukan aktivitasnya. Tidak hanya bekerja, bahkan para lansia juga sering melakukan kegiatan seperti orang dewasa atau anak muda pada umumnya. Beberapa lansia bahkan memiliki komunitas dengan kegiatan menari, menyanyi, dan senam sehat.

Jumlah lansia di Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun, walaupun angka kematian di tingkat lansia juga semakin tinggi. Kebanyakan lansia memiliki taraf hidup kurang karena masalah kesehatan. Walaupun dunia kesehatan saat ini sudah berkembang pesat, para lansia tidak bisa dengan mudah mendapatkan perawatan di klinik, dokter, hingga rumah sakit. Bukan karena asuransi kesehatan, terlebih karena akses yang cukup sulit bagi mereka. 

Walaupun dunia medis telah berkembang sangat baik, jika tidak ada media yang membantu mereka dalam mengakses, mereka juga tidak bisa merasakannya. Sayangnya, transportasi umum saat ini lebih dominan dengan harga yang tinggi dan jalur tempuh yang jauh bagi sebagian besar lansia. Selain itu, perekonomian para lansia juga tidak sebaik tingkat perekonomian orang dengan usia produktif. 

Banyak di antara para lansia menghemat untuk tidak menggunakan transportasi umum karena tingkat perekonomian mereka. Sementara, untuk berobat atau sekadar periksa dan menjaga kesehatan, mereka perlu memanfaatkan alat transportasi umum. Walaupun sekarang lebih mudah dengan transportasi online, tetapi para lansia juga memiliki tingkat pengetahuan dunia digital yang terbilang rendah. 

Transportasi Murah Bantu Jaga Kesehatan Lansia 

Ilustrasi: transportasi umum (sumber: Yahoo Finance)

Ilustrasi: transportasi umum (sumber: Yahoo Finance)

Akses yang lebih baik dalam menggunakan transportasi dan sesuai permintaan, dapat membantu para lansia mengakses dunia medis. Hal ini juga dapat mengurangi isolasi sosial mereka untuk meningkatkan kesehatan mereka secara keseluruhan. Ini merupakan saran dari sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam Journal of Health oleh para peneliti di USC Center for Body Computing (USC CBC) di Keck School of Medicine USC.

Peneliti USC CBC membuat sebuah program penelitian bernama “Lyft”. Program ini berupa pemberian tumpangan dengan dengan gratis dan tidak terbatas selama tiga bulan kepada 150 pasien lansia dengan penyakit kronis. Tujuan dari adanya program ini, untuk melihat apakah akses transportasi yang lebih baik dapat meningkatkan akses mereka ke pusat medis dan mengurangi isolasi sosial mereka. Para peneliti juga ingin mengetahui dampak keseluruhannya terhadap kesehatan mereka.

Diketahui, 93%  lansia menggunakan program Lyft untuk mengakses perawatan medis dan sejumlah besar belajar menggunakan aplikasi smartphone dengan meminta bantuan pada petugas layanan telepon untuk melakukannya. Mereka telah menghitung sepertiga dari semua perjalanan yang mereka lakukan, yaitu sekitar 31%  untuk mengunjungi dokter atau pusat medis lainnya. Lebih banyak lagi, yaitu sekitar 92%, para lansia menggunakan perjalanan yang tersisa untuk mendapatkan kebugaran, kegiatan sosial dan waktu luang, dan melaporkan bahwa ini meningkatkan persepsi kualitas kehidupan sehari-hari mereka.

“Akses menuju transportasi lebih dari mendapatkan dari titik A ke titik B. Ini mencakup berbagai aspek kehidupan manusia. Penelitian ini menyimpulkan bagaimana platform berbagi perjalanan dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi kesejahteraan para lansia,” kata Leslie Saxon, MD, direktur eksekutif Pusat Komputasi Tubuh USC dan peneliti utama penelitian ini. “Dengan memberdayakan mereka, untuk menjadi peserta aktif dalam perawatan mereka sendiri dan juga di bidang lain kehidupan mereka.”

Ilustrasi: penumpang bus lansia (sumber: queenstown.net.nz)

Ilustrasi: penumpang bus lansia (sumber: queenstown.net.nz)

Dalam penelitian tersebut, 150 orang lansia di atas usia 60 tahun terdiri dari 63% perempuan dan 54% Kaukasia dengan penyakit kronis. Mereka telah disaring untuk faktor psikologis serta untuk memastikan bahwa akses ke transportasi merupakan faktor penting untuk mengakses dunia medis saat ini. Para pasien tersebut rata-rata tinggal dengan jarak 20 mil dari pusat medis dan lebih dari 45% bergantung pada orang lain untuk transportasi.

Sebelumnya, para pasien ditawari naik gratis ke tujuan medis dan non-medis selama tiga bulan dan menerima pelatihan pribadi dalam memanggil tumpangan dari aplikasi berbagi perjalanan. Mereka juga memiliki opsi untuk menjadwalkan perjalanan melalui platform concierge telepon Lyft. Untuk mengetahui aktivitas perjalanan menuju pusat kesehatan, setiap peserta diberi pelacak aktivitas harian yang dikenakan di pergelangan tangan.

Mayoritas lansia melaporkan bahwa biaya adalah penghalang utama yang mencegah mereka untuk terus menggunakan transportasi menuju pusat kesehatan. Dikatakan Saxon, karena peserta penelitian menyatakan tantangan dengan biaya yang terkait dengan transportasi, langkah peneliti selanjutnya adalah membandingkan biaya jangka panjang menggunakan aplikasi ini untuk kebutuhan perawatan kesehatan versus biaya peluang dari akses yang tidak konsisten ke transportasi. “Temuan kami tentang manfaat bagi lansia dapat memberikan insentif pada program serupa pada skala yang lebih besar oleh kota dan perusahaan asuransi,” tutur Saxon

“Akses ke transportasi yang andal dan terjangkau sangat penting bagi para lansia,” timpal Lisa Marsh Ryerson, presiden AARP Foundation. “Ketika para lansia tidak bisa mendapatkan janji medis atau kegiatan sosial, efek negatifnya pada kesejahteraan, baik dari kondisi medis yang tidak diobati atau kurangnya interaksi sosial akan sangat besar.”

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: