Tingkat Pengangguran Ternyata Berkorelasi dengan Penyakit Kanker dan Angka Kematian

Penjelasan sederhana mengapa angka kematian meningkat pada usia paruh baya bisa jadi karena naiknya tingkat pengangguran atau mengalami penurunan pendapatan, akan tetapi para ahli mengidentifikasi pada tahun 2015 terjadi suatu tren kematian akibat keputus asaan dari akibat pemakaian obat obatan terlarang, penyakit akibat alkohol, dan peristiwa bunuh diri atas terjadinya pergolakan sosial.

Seperti tingkat kematian pada paruh baya yang telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir di Amerika, hal ini dianggap karena telah hilangnya nilai nilai tradisional, kekeluargaan serta norma agama yang dapat mempengaruhi kesejahteraan dan keamaan, pendapat ini dikemukakan oleh Profesor Angus Deaton peraih nobel dan koleganya Anne Case seorang profesor ilmu ekonomi dan hubungan internasional Universitas Priceton.
Deaton dan Case membagikan hipotesis mereka mengenai faktor penyebab kematian usia paruh baya pada perempuan dan laki laki berkulit putih di Aamerika yang diadakan di USC Town and Gown. Ini adalah kali pertama Deaton menyampaikan hipotesisnya semenjak ia dilantik menjadi Profesor.

Case dan Deaton telah menunjukkan peningkatan yang signifikan dan menakjubkan dalam pengembalian harapan hidup dalam sebuah penelitian yang diunggah dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Desember 2015.

“Morbidity and Mortality in 21st Century America” panel dengan moderator USC Professor Arthur Stone.

Statistik Federal menunjukkan bahwa dari tahun 1978 hingga 1998, tingkat kematian pada warga Aamerika kulit putih usia 45 sampai 54 tahun menurun  2 persen dalam setahun, diduga hal ini akibat meningkatnya kesehatan dan pengaruh tren mortalitas di Eropa. Akan tetapi, setelah tahun 1998 angka kematian pada usia paruh baya di Amerika mulai menunjukkan peningkatan 0,5 persen dalam kurun waktu satu tahun. Case dan Deaton melakukan pemeriksaan lebih dekat pada periode tersebut.

Baca juga:  Pemberian Antibiotik Bagi Anak

Angka kematian terindikasi didorong oleh peningkatan kasus bunuh diri dan overdosisi obat obatan terlarang serta penggunaan minuman beralkohol, seperti penyakit kelainan hati.

Peningkatan kematian melaju untuk warga berkulit putih, usia 45 hingga 54 tahun, dari jumlah terendah 375 kematian per 100.000 penduduk di tahun 2000 hingga 415 sampai 425 kematian per 100.000. Angka kematian yang tertinggi berada diantara mereka yang lulusan Sekolah Menengah Atas atau berpendidikan di bawahnya.

Deaton dan Case kembali mengatakan bahwa orang yang tidak memilki gelar sarjana berada dalam kerugian kumulatif dalam hubungan di masyarakat. Pasar tenaga kerja umumnya menjadi tantangan yang harus mereka hadapi. Bagi warga berkulit putih usia paruh baya di Amerika yang tidak memiliki gelar sarjana juga dilaporkan memiliki perasaan yang buruk dibanding dengan kelompok usia lainnya.

Banyak dari mereka yang mempunyai permasalahan nyeri kronis, kesedihan mental, dan kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari hari. Mereka nampak lebih buruk dari pada usia yang lebih tua maupun usia yang jauh lebih muda, penemuan ini kembali berkorelasi dengan rasa sakit. Rasa sakit adalah faktor penyebab untuk bunuh diri.

Baca juga:  Apakah Perlu Skrining Kesehatan Untuk Wanita Usia 75 Tahun ke Atas?

Case mengatakan bahwa setiap negara telah melihat suatu tren bahwa orang di usia menengah mengalami kesehatan yang lebih buruk, dan orang di usia senja memilki kesehatan yang lebih baik. Kombinasi dari berbagai masalah yang mempengaruhi kesehatan dan harapan usia menengah.

Beberapa pengaruh lain bahwa orang yang belum menikah dan tidak memiliki tekanan dalam pekerjaan atau pengangguran juga berpengaruh pada tingkat kematian. Struktur ekonomi dan sosial menjadi kian melemah dan mengalami kemerosotan.

Pernikahan dianggap mampu memberikan jalan untuk menumbuhkan nilai keagamaan yang tentunya dapat menurunkan angka kematian pada usia menengah.

Akan tetapi, banyaknya kasus di Amerika di mana banyak wanita yang melahirkan anak di luar nikah, atau semakin banyaknya kasus perpisahan orang tua dapat memperburuk keadaan psikis seorang anak. Perceraian mengakibatkan jalinan terputus dari nenek moyang mereka dan berpengaruh pada nilai nilai tradisional yang seharusnya bisa didapatkan dari keluarga secara turun menurun.

Bagaimanapun juga, jika kita berpikir apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi permasalahan ini, memberikan pendapatan lebih tidak akan mampu memutar waktu, tutur Case.

Kesedihan jiwa bisa membunuh lebih cepat daripada bakteri. (John Steinbeck)

Namun tidak senada dengan Case,  ilmuwan Dr Andres Pinto menyatakan pemerintah seharusnya membantu masyarakat yang kekurangan ekonomi. Penelitian ini juga menurut Pinto, sesuai dengan informasi lain tentang bagaimana tetap atau tidaknya pekerjaan memengaruhi kesehatan masyarakat.

Baca juga:  Review La Tulipe Intensive Whitening Cream, Produk untuk Menghilangkan Noda Hitam

Lebih lanjut mengenai pengangguran, sebuah penemuan studi baru dari Harvard, mereka mengungkapkan bahwa orang yang tidak bekerja memiliki tingkat mengidap penyakit kanker lebih tinggi daripada kelompok pekerja. Dari data yang diperoleh dari Canadian Data diketahui bahwa tingkat kematian akibat kanker meningkat dengan pesat di berbagai negara selama masa krisis ekonomi global yang terjadi beberapa tahun terakhir.

Penemuan ini membuat Dr Rifat Atum yang merupakan profesor sistem kesehatan global dari Harvard School, Boston menganalisis keterkaitan antara orang yang tidak bekerja dengan tingkat kematian akibat kanker di beberapa negara.

Dari hasil analisis yang diperoleh, setelah membandingkan perkiraan kematian akibat kanker, ia menyatakan bahwa pengangguran mengakibatkan kelebihan jumlah kematian akibat kanker, akan tetapi jika ada kesehatan sistem yang kuat dan peningkatan kesehatan masyarakat, banyaknya kematian akibat kanker ini dapat dikurangi.

Atum menjelaskan secara rinci dari hasil penelitiannya, bahwa kenaikan satu persen pengangguran dikaitkan dengan 0,37 persen kematian pertambahan per 100.000 orang, dari semua jenis kanker. Ia menyarankan agar pemerintah memastikan kembali nilai uang, karena pengobatan kanker membutuhkan banyak  biaya dan umumnya berlangsung dalam jangka waktu lama. Hal itu dapat dilakukan dengan memastikan cakupan kesehatan yang benar benar universal dan adil bagi masyarakat yang rentan.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: