Tindakan Suami yang Kasar Bisa Memperburuk Gejala Menopause

Gejala, memasuki, masa, menopause, wanita, hubungan, seks, seksual, hot, flashes, risiko, kesehatan, kualitas, tidur, obat, nyeri, kepala, migrain, masalah, sakit, metabolisme, berat, badan, perubahan, suasana, hati, mood, ingatan, terapi, dokter, penyebab, hormon, estrogen, usia, vagina, medis, siklus, menstruasi, ahli, gairah, suami, kasar, KDRT, faktor, eksternal, internal, emosional,Ilustrasi: kekerasan dalam rumah tangga (sumber: mypathtocitizenship.com)

Wanita akan mengalami beberapa gejala menopause sebelum benar-benar memasuki fase menopause. Gejala menopause umumnya dipengaruhi oleh faktor internal pada tubuh perempuan.

“Secara tradisional, gejala menopause sebagian besar disebabkan oleh perubahan hormonal dan biologis,” papar ketua peneliti sekaligus psikolog peneliti klinis dari University of California Carolyn Gibson seperti dilansir WebMD.

Menopause sendiri adalah suatu transisi biologis alami yang terjadi ketika ovarium berhenti memproduksi hormon. Penurunan kadar hormon jelas berdampak negatif pada kualitas hidup selama periode ini. Namun, kebanyakan wanita dapat merasakan perubahan yang lebih baik dengan cara pandang yang tepat, beberapa langkah praktis, dan sedikit bantuan medis. Secara sederhana, menopause adalah masa berakhirnya siklus menstruasi. Seiring dengan proses penuaan, semua wanita akan mengalami proses ini.

Usia dan Gejala Saat Menopause

Sebenarnya usia terjadinya menopause pada tiap wanita berbeda-beda, tapi umumnya terjadi pada sekitar usia 50 tahun. Meski demikian, ada juga sebagian wanita yang mengalaminya sebelum usia 40 tahun. Inilah yang disebut menopause dini atau prematur.

Gejala umum yang terjadi selama menopause adalah kilasan rasa panas dan keringat malam, vagina kering, rasa sakit saat berhubungan seksual, masalah tidur, sakit kepala, berat badan bertambah dan metabolisme melambat, perubahan suasana hati, masalah dengan ingatan, rambut menipis, kulit kering, penurunan gairah seks, gangguan buang air kecil, dan payudara mengendur.

Namun, setiap wanita memiliki gejala menopause yang berbeda. Proses ini umumnya ditandai dengan menstruasi yang berakhir secara bertahap. Frekuensi dan interval menstruasi akan semakin jarang sebelum akhirnya berhenti sama sekali. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa ada sebagian wanita yang mengalami menopause dengan siklus menstruasi yang berakhir secara tiba-tiba. Jika ini terjadi, gejala-gejala yang dialami biasanya akan lebih parah.

Baca juga:  Pengidap Kanker Payudara Tahap Awal Tak Harus Jalani Kemoterapi, Benarkah?

Menjelang menopause, terdapat beberapa indikasi emosional serta fisik yang dapat dirasakan oleh seorang wanita. Berikut ini gejala yang umumnya akan Anda alami ketika masuk masa menopause

Hot Flashes

Gejala, memasuki, masa, menopause, wanita, hubungan, seks, seksual, hot, flashes, risiko, kesehatan, kualitas, tidur, obat, nyeri, kepala, migrain, masalah, sakit, metabolisme, berat, badan, perubahan, suasana, hati, mood, ingatan, terapi, dokter, penyebab, hormon, estrogen, usia, vagina, medis, siklus, menstruasi, ahli, gairah, suami, kasar, KDRT, faktor, eksternal, internal, emosional,

Salah satu gejala menopause yang umum dialami, hot flashes (sumber: everydayhealth.com)

Hot flashes merupakan kondisi di mana Anda mengalami sensasi panas, baik di bagian atas tubuh Anda atau bahkan seluruhnya. Wajah dan leher Anda mungkin dapat menjadi merah dan Anda mungkin akan menjadi berkeringat. Intensitas hot flash dapat bervariasi mulai dari ringan hingga kuat, bahkan sampai mengganggu tidur. Kondisi ini biasa berlangsung antara 30 detik hingga 10 menit. Sebagian besar wanita mengalami kondisi ini selama satu hingga dua tahun setelah menstruasi terakhir mereka.

Gangguan Suasana Hati (Mood Swing)

Perubahan produksi hormon dapat mempengaruhi suasana hati wanita yang sedang menghadapi menopause. Beberapa wanita mengalami gangguan seperti cepat marah, depresi, dan suasana hati yang mudah berubah. Penting bagi Anda untuk tahu bahwa perubahan hormon dapat mempengaruhi otak Anda, dan kondisi Anda ini sangat wajar untuk dialami.

Nyeri Kepala atau Migrain

Nyeri kepala dapat mengenai lebih dari 90% wanita yang memasuki masa menopause, di mana beberapa orang wanita di antaranya akan mulai mengalami serangan migrain untuk pertama kalinya. Penyebab utama terjadinya nyeri kepala dan migrain ini adalah kadar hormon estrogen yang berubah-ubah di dalam tubuh. Menurunnya kadar estrogen di dalam tubuh dapat memicu perubahan zat kimia di dalam otak, yang akan menyebabkan terjadinya migrain.

Baca juga:  Kenali Gejala Siklus Menstruasi Tidak Normal

Akan tetapi, perubahan hormonal dan biologis mungkin bukan satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi gejala menopause. Suasana hati yang buruk, kebiasaan merokok serta masalah kesehatan kronis seperti obesitas juga dapat mendorong timbulnya gejala menopause.

Terlepas dari itu, faktor eksternal tampaknya juga bisa mempengaruhi gejala menopause pada perempuan. Menurut penelitian terbaru, perilaku pasangan atau suami yang buruk terhadap perempuan juga dapat mempengaruhi gejala menopause.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa perasaan tersiksa secara emosional akibat perlakuan buruk suami cenderung membuat gejala menopause pada perempuan menjadi lebih banyak dan berat. Beberapa gejala menopause yang mungkin terjadi adalah keringat berlebih di malam hari, rasa sakit saat berhubungan seksual dan hot flash atau rasa panas tiba-tiba yang muncul di sekitar wajah, leher maupun dada.

Gejala, memasuki, masa, menopause, wanita, hubungan, seks, seksual, hot, flashes, risiko, kesehatan, kualitas, tidur, obat, nyeri, kepala, migrain, masalah, sakit, metabolisme, berat, badan, perubahan, suasana, hati, mood, ingatan, terapi, dokter, penyebab, hormon, estrogen, usia, vagina, medis, siklus, menstruasi, ahli, gairah, suami, kasar, KDRT, faktor, eksternal, internal, emosional,

Ilustrasi: hubungan yang buruk antara suami dan istri (sumber: ravishly.com)

Seperti dilansir WebMD, penelitian terbaru ini melibatkan lebih dari dua ribu perempuan paruh baya dan perempuan yang lebih tua. Satu dari lima perempuan ini mendapatkan kekerasan emosional dari pasangan atau suami mereka.

Baca juga:  Revlon Evivesse Skin Rescheduling Cream SPF 25 PA++ Review

Tim peneliti mengungkapkan bahwa perempuan-perempuan yang mendapatkan kekerasan emosional ini 50 persen lebih sering mengalami keringat berlebih di malam hari. Mereka pun 60 persen lebih sering merasakan kesakitan saat berhubungan seksual.

Perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual maupun kekerasan fisik dari suami maupun mantan suami juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Perempuan-perempuan ini diketahui 40-44 persen lebih berisiko mengalami hubungan seksual yang terasa menyakitkan.

“(KDRT, kekerasan seksual hingga penyiksaan emosional) dapat mempengaruhi kesehatan perempuan sepanjang hidupnya,” jelas penulis utama Carolyn Gibson, seorang psikolog penelitian klinis di University of California, San Francisco.

Gibson dan tim menilai penyiksaan emosional maupun trama lain menyebabkan perempuan mengalami stres atau rasa tertekan. Stres inilah yang kemudian memainkan peran dalam perubahan hormonal dan kemudian mempengaruhi gejala-gejala menopause pada perempuan.

Gibson mengungkapkan ada beragam bentuk penyiksaan emosional yang didapatkan oleh perempuan-perempuan ini. Beberapa di antaranya adalah menjadi sasaran ejekan, terlalu banyak dikritik, mendapatkan sebutan negatif seperti bodoh atau tidak berharga, hingga mendapatkan ancaman yang ditujukan kepada perempuan itu sendiri, barang yang ia miliki ataupun ancaman yang ditujukan kepada hewan peliharaan kesayangan perempuan tersebut.

Tim peneliti mengungkapkan bahwa penelitian yang mereka lakukan belum menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung dari kekerasan emosional dan gejala menopause pada perempuan. Meski begitu, tim peneliti mengatakan penilaian rutin dan temuan mengenai adanya paparan traumatis pada perempuan dapat membantu penyedia layanan kesehatan untuk memberikan manajemen gejala menopause yang lebih efektif bagi perempuan.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: