Tidur Sendiri, Bersama Anak, Atau Bersama Pasangan, Mana yang Lebih Baik?

Ilustrasi: keluarga tidur seranjang (sumber: studyfinds.org)Ilustrasi: keluarga tidur seranjang (sumber: studyfinds.org)

Tidur merupakan kebutuhan dasar setiap makhluk hidup, termasuk manusia untuk kelangsungan hidupnya dengan memperhatikan dua komponen utama, yakni kualitas dan kuantitas tidur.[1] Ada berbagai faktor yang bisa mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur, salah satunya adalah dengan siapa Anda tidur. Dalam hal ini, ada perdebatan mengenai tidur sendiri, bersama anak, atau bersama pasangan, mana yang lebih baik?

Tidur Sendiri atau dengan Pasangan?

Anda mungkin berpikir bahwa tidur sendiri dengan kasur yang luas akan membuat Anda merasa lebih segar di pagi hari, daripada tidur dengan seseorang yang mungkin memiliki kebiasaan tidur mendengkur atau berguling-guling. Namun, dilansir dari Web MD, sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang dewasa yang berbagi tempat tidur dengan pasangannya memiliki kuantitas dan kualitas tidur lebih baik.

Tidur bersama pasangan dikaitkan dengan tingkat insomnia rendah dan lebih banyak waktu tidur. Para peneliti juga melaporkan, orang yang tidur bersama pasangannya akan lebih puas dengan kehidupan dan hubungan mereka, karena tingkat stres, depresi, dan kecemasan lebih rendah.

“Meskipun Anda tidur di sebelah seseorang yang mungkin mendengkur dan berguling-guling, itu tidak menjadi masalah,” kata Michael Grandner, peneliti kesehatan dari University of Arizona di Tucson. “Namun, berbeda jika Anda tidur dengan anak-anak.”

Baca juga:  Apakah Benar Wanita Cenderung Lebih Mudah Kecanduan Daripada Pria?

Tidur dengan Pasangan atau dengan Anak?

Peserta penelitian yang tidur dengan anak mereka hampir setiap malam melaporkan lebih banyak insomnia, lebih banyak stres, dan kesehatan mental yang lebih buruk pada pagi hari. Ini sangat berbeda ketika Anda tidur dengan pasangan.

“Apakah itu karena anak-anak lebih banyak bergerak di malam hari atau lebih cenderung menendang Anda? Siapa yang tahu?” kata Grander. “Untuk penelitian ini, para peneliti menggunakan data dari 1.007 orang dewasa usia kerja di Pennsylvania.”

Ilustrasi: keluarga seranjang bersama (sumber: scarymommy.com)

Ilustrasi: keluarga seranjang bersama (sumber: scarymommy.com)

Para peneliti menemukan bahwa orang yang tidur dengan pasangannya tertidur lebih cepat, lebih lama, dan memiliki risiko sleep apnea yang lebih kecil. Sementara itu, mereka yang tidur di ranjang yang sama dengan anak mereka memiliki peluang lebih tinggi untuk sleep apnea, insomnia yang lebih parah, dan kontrol yang lebih sedikit atas tidur mereka.

Alasan untuk temuan baru ini bersifat spekulatif, tetapi Grandner menyarankan bahwa keamanan atau sosialisasi mungkin menjadi akarnya. Sepanjang sejarah, misalnya, manusia cenderung tidur berkelompok di sekitar api. Mungkin pada tingkat tertentu, orang hanya merasa lebih aman ketika orang dewasa lain berada di tempat tidur.

Baca juga:  Tren Menggelapkan Warna Kulit (Tanning), Bahayakah?

Tidur Sendiri atau dengan Anak?

“Mungkin ada beberapa keuntungan evolusioner yang dimanfaatkan manusia, khususnya anak-anak yang ingin tidur dengan orang tuanya. Namun, saat ini kita sudah tidak perlu tidur di luar ruangan dan di sekitar api. Tidak ada mangsa yang berkeliaran di dalam rumah,” kata Gardner. “Meskipun begitu, terkadang anak-anak masih sulit tidur sendiri.”

Dr Rafael Pelayo, seorang profesor klinis dalam kedokteran tidur di Stanford University di California, mencatat sejarah tidur berkelompok, terutama dengan anak sebagai cara untuk tetap aman dari pemangsa. Tidak ada yang benar-benar tidur sepanjang malam, katanya, mencatat bahwa orang dewasa yang tidur dengan anak cenderung bangun pada interval 90 menit sepanjang malam.

Beberapa orang tua yang sulit tidur dengan anaknya mengungkapkan, mereka merasa cemas dengan anaknya, apakah si kecil bisa tertidur pulas atau mengigau dan mimpi buruk. Rasa cemas di malam hari ini yang membuat orang dewasa mengalami insomnia. Selain itu, tak jarang anak-anak akan membangunkan orang tuanya untuk bermain di tengah malam atau ingin buang air kecil.

Baca juga:  Tips Memperbaiki Keintiman dalam Kehidupan Seks Rumah Tangga

Untuk itu, sangat penting mengajarkan si kecil tidur sendiri di kamarnya. Bangun rasa percaya diri mereka supaya mau tidur sendiri. Anda bahkan bisa mendekorasi kamar anak dengan berbagai benda kesukaannya, seperti boneka, mainan mobil-mobilan, atau mengecat warna tembok seperti kesukaannya. Ini akan membuat si kecil betah di kamarnya sendiri.

Jika anak Anda masih terlalu kecil, Anda bisa mulai mengajari anak secara bertahap. Dimulai dari membacakan dongeng sebelum tidur di kamar si kecil hingga anak terlelap, lalu biarkan mereka mencoba tidur sendiri tanpa harus dibacakan dongeng. Cara ini terbilang afektif, apalagi jika anak Anda cenderung takut tidur sendiri.

[1] Fenny, Supriatmo. 2016. Hubungan Kualitas dan Kuantitas Tidur dengan Prestasi Belajar pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran. Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia Universitas Sumatera Utara, Vol. 5(3): 140-147.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: