Bahaya Terapi Penggantian Hormon Testosteron, Perhatikan Cara Mengonsumsinya

Ilustrasi: wanita sehatIlustrasi: wanita sehat

Banyak yang menyebutkan testosteron sebagai obat penyembuh yang berperan sebagai pengganti untuk menyeimbangkan hormon. Meski begitu, para wanita harus berhati-hati jika mendapatkan lebih banyak testosteron daripada yang dibutuhkan.

Sejumlah anggapan terkait kadar testosteron dalam tubuh yang rendah, kerap dikaitkan dengan kesehatan pria saja. Padahal sebenarnya kadar testosteron walaupun kecil juga dibutuhkan wanita dalam tubuh. Khasiatnya diklaim dapat menjaga fungsi tubuh bekerja dengan lancar, meningkatkan energi, dan menjaga suasana hati, hingga dorongan seksual pada pasangan.

Saat ini banyak dipasarkan seputar terapi testosteron. Pasalnya, terdapat keluhan jumlah hormon tersebut yang rendah menjadi alasan menurunnya gairah seks pada wanita. Hal itu dapat diatasi dengan terapi penggantian hormon yang ditujukan untuk wanita.

Salah satu langkah yang tak disadari wanita yang melakukan terapi hormon pengganti yakni ketika mengonsumsi pil KB. Faktanya, Anda telah meminum dosis turunan testosteron yang sangat kecil. “Informasi paket (pil KB) menyebutnya progesteron, tetapi itu benar-benar turunan dari hormon testosteron,” terang Kepala Bagian Endokrinologi Reproduksi dan Infertilitas di Universitas Chicago, David P. Cohen, MD, seperti dilansir Everyday Health.

Tak banyak yang mengenal hormon testosteron dan fungsinya dalam tubuh. Hormon ini merupakan bagian dari kelas hormon yang dikenal sebagai androgen dan berasal dari ovarium serta kelenjar adrenalin Anda. Bahkan wanita yang indung telurnya diangkat mungkin membuat testosteron yang cukup dengan kelenjar adrenalin untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Baca juga:  Manfaat Kacang Pistachio untuk Wanita, Mulai dari Bagus untuk Kulit Hingga Membantu Diet

“Jika para pria yang memiliki hormon testosteron rendah dapat menghadapi suasana hati tak menentu, perubahan pola tidur, hingga energi dan dorongan seks yang menurun, berbeda dengan wanita yang tidak mengalami efek yang sama,” tambah Dr Cohen.

Wanita dapat lebih mudah tertipu oleh iklan terhadap krim testosteron dan produk lain yang mengolesi testosteron akan menyembuhkan dorongan seksual yang rendah atau suasana hati. Hal tersebut salah bagi wanita, karena hormon tersebut tak terlalu menjadi perhatian.

Peran Testosteron pada Wanita

Ilustrasi: wanita tinggi testosteron

Ilustrasi: wanita tinggi testosteron

Mempertahankan gairah seks

Setelah menopause, wanita mungkin mengalami penurunan gairah seks. Dorongan seks yang rendah ini dapat menjadi hasil dari penurunan kadar testosteron. Pada beberapa wanita, tambahan testosteron digunakan untuk menghidupkan kembali gairah seks. Dr Cohen memperingatkan, bagaimanapun, mengobati libido rendah membutuhkan lebih dari sekadar testosteron. Terapi dan kreativitas juga dapat membantu meningkatkan kehidupan seks Anda.

Menjaga tulang tetap sehat

Keseimbangan testosteron yang lebih baik semakin mendukung pertumbuhan dan kekuatan tulang yang sehat. Sedangkan jika kadarnya terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat membahayakan tulang. Penggantian hormon testosteron setelah menopause dapat membantu beberapa wanita menjaga kesehatan tulang.

Mengelola tingkat rasa sakit

Menurut penelitian dalam jurnal Pain, wanita yang menggunakan pil KB dan memiliki kadar testosteron yang tidak seimbang dengan kadar estrogen mungkin kurang memiliki kemampuan untuk mengelola respons rasa sakit mereka.

Baca juga:  Pure Skin & Pure Nature, Rangkaian Produk Oriflame Yang Dikhususkan Untuk Kulit Berjerawat

Mempertahankan kesehatan kognitif

Perubahan dalam kognisi dan kelelahan kognitif mungkin terkait dengan perubahan kadar hormon. Mengoreksi kadar testosteron dapat membantu mencegah kelelahan kognitif.

Efek Samping Penggantian Hormon

Ilustrasi: hormon testosteron (sumber: medicalnewstoday.com)

Ilustrasi: hormon testosteron (sumber: medicalnewstoday.com)

Beberapa wanita mungkin mendapat manfaat dari jumlah testosteron yang sangat kecil.  Namun ternyata efek samping dari kelebihan testosteron dapat berdampak lebih buruk daripada alasan Anda yang mungkin ingin mencoba terapi penggantian hormon.

Efek samping ini termasuk kerontokan rambut, jerawat, pertumbuhan rambut, perubahan siklus menstruasi, klitoromegali (klitoris yang membesar secara tidak normal), dan pendalaman suara seseorang. Beberapa perubahan ini, seperti klitoromegali dan suara yang lebih dalam bersifat permanen, Cohen memperingatkan.

Wanita yang menggunakan testosteron secara terus menerus juga berisiko mengembangkan profil lipid yang serupa dengan pria, yang berarti peningkatan risiko penyakit jantung. Faktanya, wanita lebih berisiko pada kondisi seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS), di mana para wanita mungkin memiliki terlalu banyak testosteron (atau androgen) dibandingkan dengan kadar hormon lain.

Dalam beberapa kasus, Dr Cohen meresepkan dosis testosteron yang sangat kecil untuk beberapa wanita sesuai dengan kebutuhannya. Namun, dia belum melihat hubungan dosis dengan respons tubuh yang jelas. Jika penggantian hormon sangat dibutuhkan tubuh, maka yang perlu dilakukan adalah observasi pada tubuh dengan dosis yang tepat.

Baca juga:  Mengembalikan Kelembapan Alami Kulit dengan Handbody khusus untuk Kulit Kering

Dosis yang diberikan sudah ditentukan oleh dokter sesuai dengan kondisi kesehatan pasien, tingkat keparahan defisiensi testosteron dan respons tubuh seiring dengan berjalannya pengobatan. Dosis awal untuk mengatasi hipogonadisme pada pria dewasa biasanya sekitar 120-160 mg per hari, sedangkan dosis pemeliharaan sebesar 40-120 mg per hari.

Jika Anda mulai melihat beberapa efek samping, seperti kerontokan rambut pada pria, dokter tentu akan menghentikan atau mengurangi jumlah testosteron tersebut. Sehingga hal yang paling penting dilakukan adalah berkonsultasi terlebih dulu akan kebutuhan terapi hormon sekaligus efek samping yang mungkin dialami.

Mengonsumsi Testosteron dengan Benar

Tablet dan kapsul testosterone sebaiknya dikonsumsi bersamaan dengan makanan. Sedangkan suntikan testosteron akan diberikan dokter secara teratur. Perhatikan dosis yang diberikan dokter dengan benar dan jangan berlebihan.

Jika Anda menggunakan testosteron dalam bentuk gel akan berdampak pada orang lain jika terjadi kontak kulit. Sehingga, Anda harus menutup bagian yang telah diolesi gel dan ibu hamil dilarang terkena paparan gel tersebut. Selama pemakaian obat, Anda wajib melakukan pemantauan dan mengecek kadar hormon tubuh ke dokter.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: