Terapi Hormon Adjuvant, Mampukah Atasi Kanker Prostat?

Ilustrasi: kanker prostat yang biasanya diderita kaum pria (sumber: thejakartapost.com)Ilustrasi: kanker prostat yang biasanya diderita kaum pria (sumber: thejakartapost.com)

Kanker prostat merupakan salah satu jenis kanker ganas yang berada di kelenjar prostat. Untuk mengatasinya, tidak sedikit pasien yang melakukan operasi dan kemoterapi. Meskipun begitu, masih banyak cara ampuh yang bisa dilakukan untuk mengatasinya, seperti terapi hormon adjuvant.

Apa Itu Terapi Hormon Adjuvant dan Apa Manfaatnya?

Dilansir dari Harvard Health Publishing, seorang atlet pelari mengunjungi dokter untuk pemeriksaan rutin terkait dengan kanker prostat. Ia melakukan tes darah yang menunjukkan peningkatan PSA sekitar 10 ng/ml. Hasil ini jauh di atas kisaran normal, yaitu 0 hingga 4 ng/ml. Untuk mengetahui lebih lanjut apakah benar atlet tersebut mengalami kanker prostat, dokter mengirimnya untuk melakukan biopsi prostat.

Hasil biopsi menyatakan bahwa atlet tersebut tidak mengalami kanker atau negatif. Meskipun begitu, sang atlet masih khawatir karena PSA-nya masih saja meningkat. Sehingga, dilakukan biopsi ulang, dan hasilnya positif menderita kanker prostat. Untuk menentukan seberapa luasnya kanker prostat yang dialami, dokter melakukan MRI endorectal.

Hasil pemeriksaan membuat atlet tersebut kebingungan, apa tindakan yang harus diambil selanjutnya. Apakah ia harus menjalani operasi atau radiasi, hingga akhirnya seorang dokter spesialis kanker menyarankan untuk melakukan terapi hormon adjuvant untuk mengendalikan kanker.

Atlet yang biasa disapa Mr. Kirby ini memilih untuk menjalani prostatektomi radikal dalam menangani kanker prostat. Sayangnya, PSA-nya mulai meningkat dari tidak terdeteksi menjadi 0,7 ng/ml dalam waktu kurang dari setahun. Sehingga, ia mencoba melakukan pengobatan dengan radiasi. Sebelum menjalani pengobatan tersebut, ia harus menjalani terapi hormon adjuvant terlebih dahulu. Setelah menjalani terapi hormon adjuvant untuk kedua kalinya, PSA-nya mengalami penurunan.

Ilustrasi: pasien rumah sakit (sumber: formfast.com)

Ilustrasi: pasien rumah sakit (sumber: formfast.com)

Dari cerita tersebut, bagi Anda yang masih bingung dengan terapi hormon adjuvant, terapi ini merupakan salah satu cara untuk mengendalikan dan mengatasi kanker sebelum operasi atau radiasi. Studi terapi dan pembedahan hormon adjuvant memiliki hasil yang beragam. Penelitian awal menunjukkan bahwa itu dapat mengecilkan tumor, membasmi micrometastases, dan mengurangi kemungkinan menemukan margin positif dalam jaringan yang dieksisi.

Baca juga:  Review Pixy BB Cream Bright Fix untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat

Namun, studi jangka panjang telah menunjukkan bahwa terapi hormon adjuvant dalam hubungannya dengan operasi tidak memperpanjang waktu untuk kekambuhan biokimia atau meningkatkan kelangsungan hidup. Akibatnya, tidak banyak pasien yang memilih pengobatan ini.

Meskipun begitu, sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa pria dengan kanker prostat stadium awal lebih cenderung memiliki remisi jangka panjang ketika terapi hormon diberikan bersamaan dengan terapi radiasi. Bahkan, ketika penyakit ini berkembang secara regional, yang berarti telah berkembang ke jaringan yang mengelilingi kelenjar prostat, terapi hormon adjuvant dapat mengurangi risiko perkembangan dan kambuhnya kanker.

Berlanjut ke kisah Mr. Kirby, setelah melakukan terapi hormon dan tindakan medis lainnya, PSA-nya kembali melambung hingga 3,5 ng/ml. Kali ini, ahli onkologi menyarankan terapi hormon intermiten (IHT), yang melibatkan siklus berulang terapi hormon untuk mengendalikan kanker. Meskipun begitu, atlet tersebut memutuskan untuk menunggu sedikit lebih lama untuk tidak melakukan terapi hormon lagi.

Baca juga:  Penyebab Keloid Membesar dan Cara Menghilangkannya

Sebelum menjalani terapi hormon lagi, Mr. Kirby menggunakan obat untuk mengatasi kanker prostatnya, seperti bicalutamide (Casodex) dan leuprolide (Lupron). Ketika mengonsumsi obat-obatan tersebut, ia mengalami hot flash yang cukup parah selama periode waktu yang cukup lama.

Dalam temuannya, ia mengetahui bahwa bicalutamide hanya perlu dikonsumsi selama 30 hari saja, sehingga untuk ke depannya ia menjalani terapi hormon. Setelah menjalani terapi hormon dan tidak mengalami efek samping dari obat-obatan tersebut, ia kembali mengonsumsi bicalutamide.

Efek Samping Terapi Hormon Adjuvant

Terapi hormon yang dijalani oleh Mr. Kirby tampaknya memiliki beberapa efek samping. Salah satu efek samping yang paling jelas, menurut dokter, yaitu penurunan kadar testosteron. Meskipun begitu, itu tidak memengaruhi sistem saraf di otak ataupun kapasitas intelektualnya.

Ilustrasi: testosteron (sumber: cancertherapyadvisor.com)

Ilustrasi: testosteron (sumber: cancertherapyadvisor.com)

Efek samping lainnya yang dirasakan Mr.Kirby setelah menjalani terapi hormon, yaitu kelambatan dalam bergerak. Ia merasa dirinya lebih lambat, terutama saat berlari. Selain itu, berat badannya juga bertambah sekitar 5 hingga 8 pon, dan karena kadar testosteron yang berkurang, ia mengalami penurunan gairah seksual.

Setelah kembali menjalani terapi hormon, Mr. Kirby awalnya memilih untuk menjalani operasi. Dokternya berkata bahwa ia dapat menjalani operasi atau radiasi karena ia bisa melakukan radiasi jika operasi tidak berhasil. Namun, karena MRI menunjukkan bahwa kanker mungkin telah menembus kapsul prostat, ia harus menjalani radiasi. Radiasi akan lebih baik hasilnya daripada operasi.

Baca juga:  Jangan Asal Ikut Tren Kecantikan, Kenali Dulu Bahaya Dermal Filler!

Yang perlu dicatat, tidak semua kasus sama. Ada sejumlah pertimbangan yang harus dipikirkan, apakah seorang pasien lebih baik menjalani operasi atau radiasi. Hal ini juga terkait dengan efek samping yang dialami oleh pasien setelah melakukan radiasi. Efek sampingnya antara lain mudah lelah, anemia, perubahan kolesterol, perubahan gula darah, nyeri sendi, dan penyakit jantung.

Jika seorang pasien kanker prostat mengalami hal tersebut, biasanya dokter akan menyarankan beberapa opsi lain untuk mengubah metode pengobatannya. Metode pengobatan lain juga disarankan oleh dokter jika pasien tersebut mengalami peningkatan PSA hingga 3,2 ng/ml setelah radiasi.

Tingkat perubahan PSA dari waktu ke waktu, atau kecepatan peningkatan PSA, memberikan indikasi kenaikan pada stadium kanker dan seberapa besar kemungkinannya untuk metastasis. Tingkat PSA yang berlipat ganda dari satu tahun ke tahun berikutnya atau lebih cepat, menandakan kanker yang agresif. Sebaliknya, jika kadar PSA yang naik lebih lambat, mungkin mengindikasikan kanker yang tumbuh lambat.

Terapi hormon sendiri adalah salah satu cara untuk membantu membantu mencegah perkembangan kanker. Karena ini pula, setelah menjalani terapi hormon, PSA Mr. Kirby dapat menurun. Diharapkan dengan menjalani terapi hormon tersebut, para pasien kanker dapat menjalani hidup dalam waktu yang lebih lama.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: