Berkedok Self-Love Ternyata Toxic, Ini Tanda-Tandanya!

Ilustrasi: bayangan wajah pada cermin (unsplash: Elisa Ph.)Ilustrasi: bayangan wajah pada cermin (unsplash: Elisa Ph.)

Seringkali orang berpikir untuk menjadikan dirinya seperti orang lain dan minder dengan kekurangan atau kelemahannya, untuk itu diperlukan rasa cinta terhadap diri sendiri atau self-love.[1] Kendati demikian, tak sedikit orang yang menyatakan segala tindakan yang mereka lakukan adalah self-love, ternyata malah menjadi toxic, baik bagi dirinya maupun orang lain. Hentikan self-love, jika Anda mulai merasa itu hanyalah kedok dari tindakan yang toksik. Untuk itu, Anda perlu mengetahui tanda-tanda toksik yang dibungkus self-love.

Apa Itu Self-Love?

Dilansir dari HuffPost, self-love bisa bersifat toksik jika mencintai diri sendiri dipakai untuk alasan perilaku negatif. Padahal, dalam sebuah artikel ilmiah tahun 2021 yang diterbitkan The Humanistic Psychologist, tidak ada gagasan bahwa self-love digunakan untuk kepentingan negatif. Dalam jurnal tersebut dikatakan, self-love adalah tentang kontak diri untuk memberikan perhatian, penerimaan, perdamaian, perawatan, dan perlindungan diri sendiri.

Kedengarannya bagus, bukan? Kita semua harus mencintai diri kita sendiri, mengangkat diri kita sendiri, dan bersikap baik kepada diri kita sendiri. Namun, terlepas dari popularitasnya, konsep self-love digunakan sebagai topeng untuk menyembunyikan perilaku yang sebenarnya toksik.

“Mencintai diri sendiri adalah tentang memberi diri Anda izin untuk menerima cinta dan dukungan tanpa syarat dari diri Anda sendiri, terlepas dari ketidaksempurnaan yang melekat sebagai manusia,” kata Hala Abdul, seorang psikoterapis dari Kanada. “Namun, self-love dapat dinodai ketika disalahgunakan sebagai alasan untuk menghindari perilaku tertentu, yang sering kali dapat menimbulkan toksik dalam hubungan interpersonal Anda.”

Baca juga:  Tutorial Trend Make Up (Blush On) Untuk di bawah Mata Ala Wanita Jepang

Jadi, bagaimana Anda tahu jika perilaku self-love Anda toksik? Berikut tanda-tandanya.

Tanda Toxic Berkedok Self-Love

Ilustrasi: self love (unsplash: Giulia Bertelli)

Ilustrasi: self love (unsplash: Giulia Bertelli)

Ketika Self-Love Menyakiti Orang Lain

“Beberapa orang berpikir bahwa mengatakan atau melakukan apapun yang mereka inginkan adalah bentuk dari self-love,” kata Michelle Baxo, penulis ‘Power Love Dating.’ “Namun, hal seperti ini bisa menyakiti orang lain dan itu adalah bentuk ekspresi self-love yang toksik. Orang-orang seperti ini melewatkan tujuan sebenarnya di balik tindakan self-love.”

Jika Anda merasa Anda melakukan tindakan tersebut, sebaiknya segera hentikan. Tidak akan ada yang tahan berdekatan dengan orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri tanpa memikirkan orang di sekitarnya. Namun, jika Anda memiliki teman atau orang terdekat yang seperti itu, beritahu mereka secara perlahan tentang kesalahannya dan berikan kesempatan untuk berubah. Jika itu tidak berhasil, maka pertimbangkan untuk menghindar darinya.

Baca juga:  Jadi Lifestyle di Kalangan Anak Muda, Berapa Harga Menu Kopi di Starbucks?

Ketika Self-Love Menjadi Alasan untuk Lari dari Masalah

Lari dari konflik akibat diri sendiri atau yang hanya melibatkan diri Anda bukan termasuk ekspresi self-love. Mungkin, beberapa orang merasa jika mereka mencintai diri sendiri, mereka tidak boleh tersakiti, sehingga mereka akan selalu lari dari masalah dan ini termasuk toksik.

“Jika Anda merasa ingin menghindar dari konflik atas nama self-love, itu adalah hal yang negatif dan menjadi toksik,” kata Alice Mills Mai, pemilik Centering Wholeness Counseling. “Konflik merupakan hal yang umum untuk membuat diri Anda berkembang dan menjadi pribadi yang lebih baik.”

Ketika Self-Love Dibumbui Toxic Positivity

Love-self itu sangat rumit dan tidak semua orang benar-benar melakukannya karena mereka memang mencintai dirinya sendiri. Ada banyak orang yang tersenyum di depan cermin dan mengatakan ‘aku mencintai diriku dan bahagia’, tetapi tidak dengan apa yang mereka lakukan. Setelah bercermin, tak sedikit orang melakukan aktivitas yang membuat mereka merasa lelah, bosan, dan ingin menyerah, tetapi setiap pagi masih berkata ‘aku mencintai diriku dan bahagia.’

Baca juga:  Tips-Tips Mendapatkan Kulit Sebening Kaca Ala Artis K-Pop

Itu adalah bentuk toxic positivity yang Anda lakukan terhadap diri Anda sendiri. Untuk itu, akui bahwa diri Anda sedang tidak baik-baik saja jika memang begitu kondisinya. Setelah itu cari tahu kegiatan apa yang bisa membuat Anda bahagia untuk mengatasi rasa tidak bahagia Anda dan itulah yang disebut self-love sebenarnya.

Ketika Self-Love Meningkatkan Sifat Egois

Egois adalah sifat manusia secara umum, tetapi bisa diturunkan dan dinaikkan. Nah, beberapa orang awam yang mencoba untuk mencintai dirinya sendiri, tanpa sadar malah terbawa suasana dan menjadi sangat egois baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Alih-alih melakukan tindakan self-love, itu justru akan menghancurkan Anda.

“Mencintai diri sendiri adalah tentang menerima ketidaksempurnaan diri sendiri dan seseorang untuk berkembang dengan cara yang sehat,” tutur Clara Marie Manli, psikolog Klinis. “Namun, mereka yang hanya bisa menerima ketidaksempurnaan diri sendiri, tetapi tidak bisa menerima kekurangan orang lain adalah bentuk ekspresi dari toksik.”

[1] Adriati, Ira, Irma Damajanti, Elvine Gunawan. 2020. A Guide to Self-Love. Bandung: Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: