Ingin Cegah DBD? Ini Syarat Fogging Menurut Depkes

Fogging (sumber: koranmemo.com)Fogging (sumber: koranmemo.com)

Demam Berdarah Dengue atau DBD merupakan salah satu penyakit yang banyak ditakuti oleh masyarakat Indonesia, khususnya saat musim hujan. Penyakit ini disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghalau penyebaran DBD adalah dengan melakukan penyemprotan atau fogging di suatu wilayah. Namun ada beberapa syarat menurut Depkes untuk melaksanakan fogging.

Berdasarkan informasi dari situs resmi Dinkes Kabupaten Pakpak Bharat, berikut prosedur dan syarat pelaksanaan fogging.

Prosedur & Syarat Fogging

  1. Adanya laporan penderita DBD dari Rumah Sakit/Puskesmas.
  2. Petugas puskesmas melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) di lingkungan penderita DBD untuk mengetahui adakah penderita DBD lainnya dan penderita demam dalam kurun waktu 1 minggu sebelumnya.
  3. Bila ditemukan penderita demam tanpa sebab yang jelas pada saat itu ditemukan pemeriksaan di kulit dan dilakukan uji Tourniquet.
  4. Melakukan pemeriksaan jentik pada tempat penampungan air (TPA) dan tempat-tempat lain yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, baik didalam maupun di luar rumah/bangunan pada radius 100 meter dari lokasi tepat tinggal penderita.
  5. Hasil pemeriksaan adanya penderita DBD lainnya dan hasil pemeriksaan terhadap penderita demam (tersangka DBD) dan pemeriksaan jentik dicatat dalam formulir PE.
  6. Hasil PE dilaporkan ke Dinas Kesehatan.
  7. Berdasarkan hasil PE dilakukan penanggulangan fokus, yakni: bila ditemukan penderita DBD lainnya (1 atau lebih) atau ditemukan 3 atau lebih tersangka DBD dan ditemukan jentik (≥5%) dari rumah/bangunan yang diperiksa, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) DBD, larvasidasi, penyuluhan dan pengasapan dengan insektisida di rumah penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya dalam radius 200 meter; bila tidak ditemukan penderita lainnya tetapi ditemukan jentik, maka dilakukan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD, larvasidasi, dan penyuluhan; bila tidak ditemukan penderita lainnya dan tidak ditemukan jentik, maka dilakukan penyuluhan kepada masyarakat.
Baca juga:  Rekomendasi Produk dan Teknik Untuk Memperkuat Rambut Rusak

Fogging merupakan salah satu bentuk upaya untuk dapat memutus rantai penularan penyakit DBD, dengan adanya pelaksanaan fogging diharapkan jumlah penderita DBD dapat berkurang. Tetapi pendapat masyarakat bahwa fogging merupakan cara yang paling tepat untuk mencegah penyebaran penyakit demam berdarah sebenarnya kurang tepat, karena cara ini hanya bertujuan untuk memberantas nyamuk aedes aegypti dewasa.

Jika di beberapa rumah penduduk masih ditemukan jentik nyamuk, maka penularan demam berdarah masih berlanjut dengan dewasanya jentik yang menjadi nyamuk, mengingat siklus perubahan jentik menjadi nyamuk hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu.Jika di daerah tersebut terdapat penderita demam berdarah baru, maka dimungkinkan akan cepat menyebar.

Di samping itu, fogging dilihat dari segi ekonomi memerlukan biaya yang lebih mahal dan dari segi efek samping kesehatan dapat mengganggu kesehatan dikarenakan kandungan bahan kimia serta dapat juga merusak lingkungan.[1]

Baca juga:  Info Review & Harga Berbagai Varian Bedak Elishacoy, Merek Populer Asal Korea Selatan

Fogging juga kurang bermanfaat jika hanya dilakukan satu kali. Sesudah satu minggu, jentik nyamuk akan menetas kembali dan menyerang penderita baru. Oleh karena itu, minimum fogging dilakukan dua kali dengan selang satu minggu. Sangat baik hasilnya jika fogging dilakukan tiga kali dengan selang satu minggu dan tentu harus dilakukan pada area yang luas.[2]

Selain fogging, pencegahan DBD atau demam berdarah bisa dengan cara melakukan 3M plus. Metode sederhana yang bisa Anda lakukan secara mandiri ini meliputi, menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan penampungan air, seperti bak mandi, ember, dan lain-lain. Kemudian menutup rapat tempat-tempat yang dapat menampung air, seperti kendi, vas, toren air, dan lain-lain. Berikutnya dengan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Langkah plus yang terakhir adalah dengan menaburkan bubuk abate di tempat penampungan air, menggunakan obat anti-nyamuk, menggunakan kelambu, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, dan sebagainya. Kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan secara mandiri tersebut dinilai lebih efektif dibanding sekadar mengandalkan fogging semata.

Baca juga:  Bagaimana Suatu Produk Bisa Dikatakan Sebagai Susu?

[1] Asri, A dkk. 2020. Ilmu Kesehatan Masyarakat Dan Pengendalian Covid-19. Pekalongan: Penerbit NEM, hlm 95.

[2]Satari, HI & Mila M. 2004. Demam Berdarah. Jakarta: Puspa Swara, hlm 58.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: