Mengenal Sustainable Fashion, Style Busana untuk Selamatkan Bumi

Ilustrasi: fashion wanita (pexels: Maria Gloss)Ilustrasi: fashion wanita (pexels: Maria Gloss)

Diketahui, industri tekstil merupakan salah satu perusahaan yang cukup memiliki pengaruh dalam perkembangan ekonomi indonesia, tetapi juga termasuk penyumbang limbah terbesar yang berdampak pada kerusakan Bumi. Untuk menyelamatkan Bumi, dibutuhkan sebuah konsep sehat dalam bidang industri tekstil dan salah satunya adalah menekankan sustainable fashion.

Busana berkelanjutan atau biasa dikenal dengan konsep sustainable fashion merupakan praktik dalam mode yang mengedepankan nilai-nilai lingkungan dan kemanusiaan.[1] Hal ini menyangkut segala hal tentang gaya hidup ke ranah bisnis yang sejahtera dan meninggalkan kerugian seminimal mungkin. Dilansir dari Indonesia Fashion Week, sustainable fashion bisa diartikan sebagai salah satu gerakan yang menuntut agar industri tekstil lebih mementingkan lingkungan serta masyarakat yang memproduksinya.

Tujuan fashion berkelanjutan adalah untuk menyatukan berbagai kelompok dalam industri fashion, seperti perancang busana, produsen, distributor, hingga konsumen yang bekerja sama untuk mengubah cara sebuah item fashion diproduksi dan dikonsumsi dengan cara yang lebih baik. Menerapkan sustainable fashion juga bertujuan untuk bertanggung jawab terhadap bahan produksi secara mentah hingga menjadi kain dan terhadap lokasi serta metode pembuatannya secara lingkungan, termasuk semua orang yang terlibat di dalamnya.

Contoh Sustainable Fashion

Ilustrasi: produk fashion (unsplash: Marcus Loke)

Ilustrasi: produk fashion (unsplash: Marcus Loke)

Konsep fashion berkelanjutan tidak hanya menjadi perhatian banyak pengemban fashion di Indonesia, tetapi juga luar negeri. Banyak pelaku industri mode yang sudah mulai sadar pentingnya sustainable fashion bagi lingkungan dan Bumi. Dilansir dari Vogue, seorang desainer Christy Dawn bernama Christy Peterson telah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk memprioritaskan sustainable fashion pada setiap produknya.

Baca juga:  Berbagai Jenis Produk Eyeliner Beserta Tampilan Kreasinya

Peterson membuat gaun bergaya vintage menggunakan deadstock dan kain sisa untuk menghemat biaya sekaligus untuk menerapkan prinsip fashion berkelanjutan saat membuat produk fashion terbaru. Namun, CEO Cristy Dawn bernama Aras Baskauskas, mengatakan deadstock memang solusi yang lebih baik untuk membantu menyembuhkan Bumi, tetapi ini saja belum cukup.

Untuk memaksimalkan usahanya dalam memulihkan Bumi, Baskauskas dan Peterson telah melakukan transisi dari fashion berkelanjutan ke fashion regeneratif atau regenerative fashion. Ini untuk mengurangi dampak negatif perjalanan menghasilkan produk fashion dengan memaksimalkan dampak positif yang akan terjadi.

Dalam hal mewujudkan citra fashion yang sehat untuk menyembuhkan Bumi, mereka bekerja sama dengan Fibershed dan Nishanth Copra dari Oshadi Studio untuk mengurus pertanian kapas regeneratif di Kali Jokoil, Tamil Nadu, India. Ini adalah tempat mereka mempekerjakan petani untuk menanam dan memanen kapas dengan teknik konvensional (pertanian regeneratif).

Baca juga:  Tips Mudah Atasi Bau Badan dan Ketiak Basah

Dengan cara ini, mereka dan para petani mampu mengubah berhektar-hektar tanah gundul menjadi ladang yang subur tanpa menggunakan bahan kimia. Mereka juga mengelola pertanian secara organik tanpa memakai pestisida kimia dan lebih memilih menggunakan bahan pengontrol hama organik. Sehingga, lingkungan yang tercipta untuk mendapatkan kapas akan lebih sehat, tanpa merusak alam.

Ilustrasi: kebun kapas (unsplash: Trisha Downing)

Ilustrasi: kebun kapas (unsplash: Trisha Downing)

Usaha untuk membuat produk dengan metode tersebut tampaknya membuahkan hasil. Tim Copra yang bekerja sama dengan mereka, diketahui mampu menanam kapas lebih banyak daripada yang diharapkan Baskauskas dan Peterson, yakni lebih dari 24 hektar. Padahal, dari 24 hektar hasil panen kapas itu saja, sudah cukup untuk membuat 6.500 gaun dan 2.000 kaos pria maupun wanita.

Tidak hanya di luar negeri, tampaknya di Indonesia juga sudah banyak industri fashion yang memperhatikan konsep ramah lingkungan untuk membuat sebuah produk. Dilansir dari Okezone, pemerhati fashion Indonesia bernama Valentina Estiningsih menjelaskan, ada banyak bahan ramah lingkungan untuk memenuhi sustainable fashion di Indonesia dan salah satunya adalah kepompong ulat sutera dari tanaman singkong. Budidaya ulat sutera sudah diterapkan di Semarang sebagai penghasilan tambahan UMKM atau pengusaha rumahan.

Baca juga:  Dianggap Miliki Kualitas Internasional, Harga Bee Pollen Madu Pramuka Mulai Rp 80 ribuan

Kepompong ulat sutera yang dipanen tidak langsung diolah pabrik dengan mesin, tetapi akan disortir dan dibersihkan. Beberapa pengusaha juga mencoba untuk menjadikannya sebagai benang yang dipintal menggunakan roda kayu secara tradisional. Diketahui, proses pemintalan benang seperti ini lebih sehat, karena tidak menyebabkan polusi udara yang dapat merusak lingkungan dan Bumi.

Setelah menjadi benang, ada beberapa UMKM yang akan mengambilnya untuk diwarnai, sehingga lebih menarik. Proses pewarnaan benang kepompong ini juga masih tradisional dan tidak mengandalkan mesin pabrik. Beberapa industri akan memakai bahan organik seperti kulit kayu, getah pohon, dan akar tumbuhan sebagai bahan pewarnanya.

Setelah diwarna dan dijemur, benang harus digulung atau dipintal ulang. Benang yang sudah jadi, bisa dipakai atau dibawa ke pabrik tekstil untuk dijadikan kain. Beberapa pabrik di Semarang juga masih ada yang menggunakan alat tenun tradisional untuk menghasilkan kain dan masih menggunakan tenaga manusia sebagai penenunnya.

[1] Kulsum, Umi. 2020. Sustainable Fashion as The Early Awakening of the Clothing Industry Post Corona Pandemic. International Journal of Social Science and Business SMK Negeri 5 Malang, Vol. 4(3): 422-429.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: