Survivor Kanker Mungkin Punya Peluang Lebih Rendah Terkena Demensia

Penderita kanker & dokter (sumber: flexjobs.com)Penderita kanker & dokter (sumber: flexjobs.com)

Para peneliti telah menemukan lebih banyak bukti dari fenomena yang membingungkan, orang dewasa yang lebih tua yang selamat dari kanker tampaknya agak terlindungi dari demensia. Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir telah menemukan bahwa penderita kanker memiliki risiko yang relatif lebih rendah terkena Alzheimer.

Penelitian baru menambahkan lapisan lain. Analisis menunjukkan bahwa bahkan sebelum diagnosis mereka, orang dewasa yang lebih tua yang mengembangkan kanker memiliki keunggulan dalam hal kinerja memori.

Pengertian Demensia dan Alzheimer

Demensia dan alzheimer yang menyerang otak sering dianggap remeh. Padahal, demensia dan alzheimer tak hanya membuat seseorang menjadi pikun. Demensia dan alzheimer merupakan masalah kesehatan serius karena dampaknya tak hanya dirasakan oleh pasien, namun juga dirasakan oleh keluarga atau caregiver.

Marc Wortmann, Direktur Eksekutif Alzheimer’s Disease International, mengatakan, salah satu penyebab demensia dan alzheimer menjadi masalah serius adalah belum adanya obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Marc menegaskan bahwa semakin tingginya angka harapan hidup manusia, semakin banyak pula jumlah masyarakat lanjut usia (lansia) di bumi.

“Di sisi lain, pemahaman masyarakat soal demensia dan alzheimer juga masih tergolong rendah,” ujarnya. “Mungkin sudah biasa orang yang sudah tua dianggap pelupa ini dan itu. Tapi, alzheimer dan demensia merupakan penyakit yang menyerang otak. Bisa jadi yang dilupakan bukan hanya satu atau dua benda, tapi juga lupa keluarga dan lingkungan sekitar.”

Baca juga:  Berikut Cara Alami Memutihkan Wajah Dengan Beras

Survivor Kanker Berisiko Lebih Kecil Terkena Demensia

Ilustrasi: dokter memeriksa hasil foto rontgen pasien alzheimer demensia

Ilustrasi: dokter memeriksa hasil foto rontgen pasien alzheimer demensia

Di antara orang Amerika yang lebih tua yang dilacak selama 16 tahun, mereka yang mengembangkan kanker biasanya memiliki keterampilan memori yang lebih tajam, baik sebelum dan setelah diagnosis, dibandingkan mereka yang tetap bebas kanker. Para peneliti mengatakan itu semua mendukung teori bahwa beberapa proses biologis yang berkontribusi pada kanker sebenarnya dapat melindungi terhadap demensia.

Tetapi pertanyaan besar yang tersisa adalah, apa mekanisme itu? “Kami benar-benar tertarik untuk memahami apa yang (mereka) bisa lakukan, karena itu mungkin menunjukkan jalan ke strategi untuk mencegah demensia,” kata peneliti senior, Maria Glymour, seorang profesor di Universitas California, Fakultas Kedokteran San Francisco.

Temuan penelitian didasarkan pada lebih dari 14.500 orang dewasa AS yang lahir sebelum 1949. Antara 1998 dan 2014, mereka menjalani tes fungsi memori secara berkala. Selama waktu itu, 2.250 baru didiagnosis menderita kanker. Rata-rata, studi ini menemukan, orang dengan kanker secara konsisten berkinerja lebih baik pada tes memori. Pada dekade sebelum diagnosis kanker, ingatan mereka menurun pada tingkat yang lebih lambat 10,5 persen dibandingkan rekan-rekan mereka yang tetap bebas kanker.

Setelah diagnosis, pasien kanker biasanya melihat ingatan mereka memburuk dalam waktu singkat. Tetapi setelah itu, tingkat penurunan ingatan mereka berlanjut pada kecepatan yang sama seperti sebelum diagnosis, yang berarti mereka mempertahankan keunggulan dibandingkan orang dewasa yang lebih tua yang bebas kanker.

Baca juga:  Kelola Stres dan Cemas Dengan Metode Mindfulness

Ada teori-teori mengenai studi ini. Beberapa mekanisme yang memungkinkan sel-sel kanker untuk tumbuh dan menyebar mungkin, di otak, melindungi sel-sel dari kematian. Tim Glymour menunjuk pada contoh enzim yang disebut PIN1. Aktivitasnya meningkat pada kanker, tetapi menurun pada alzheimer. Di antara peran-peran lain, enzim tersebut dianggap membantu mencegah penumpukan protein abnormal di otak yang merupakan ciri khas alzheimer.

“Tetapi, masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum semua bagian dapat disatukan,” ucap Glymour. “Satu pertanyaan adalah apakah hanya jenis kanker tertentu yang terhubung dengan risiko penurunan daya ingat dan demensia yang lebih rendah. Dalam studi sebelumnya, hubungan tersebut secara mengejutkan konsisten di antara berbagai kanker.”

Penderita kanker (sumber: foxnews.com)

Penderita kanker (sumber: foxnews.com)

Olivia Okereke, seorang direktur psikiatri geriatri di Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston, mengatakan bahwa hubungan antara kanker dan risiko alzheimer yang lebih rendah membingungkan dan ‘terdengar berlawanan dengan intuisi’. Karena, kanker, dan beberapa perawatan kanker, dapat benar-benar berdampak pada keterampilan mental seperti perhatian, pemrosesan informasi, dan memori jangka pendek.

“Tapi, asosiasi ini telah dicatat dalam studi selama bertahun-tahun sekarang,” kata Okereke, yang menulis editorial yang menyertai penelitian. “Studi baru ini sebagai kontribusi yang sangat berguna, karena itu menunjukkan keunggulan ingatan yang ada sebelum orang pernah mengembangkan kanker, kemudian bertahan sesudahnya.”

Baca juga:  Review Krim Malam Larissa Nomor 6

Perokok Lebih Berisiko Terkena Demensia

Penelitian terhadap sekitar 46 ribu pria berusia di atas 60 tahun ini dilakukan sejak 2006 silam hingga 2013. Mereka menemukan, pria yang tidak pernah merokok atau berhenti, lebih kecil berisiko terjangkit penyakit dibandingkan perokok yang aktif. Dampak merokok bisa mengembangkan kemungkinan perokok terkena demensia.

Bagi mereka yang tidak pernah merokok mempunyai 19 persen kemungkinan lebih kecil terkena demensia dibandingkan yang tidak. Kemudian, mereka juga mempunyai 18 persen kemungkinan lebih rendah terjangkit alzheimer daripada perokok aktif. Responden yang telah berhenti merokok selama empat tahun atau lebih memiliki kemungkinan 14 persen lebih kecil terkena demensia, dan 15 persen untuk alzheimer.

“Merokok mempunyai dampak buruk pada kesehatan otak dan bisa membuat peningkatan risiko penurunan kognitif, serta demensia telah terlihat pada beberapa penelitian sebelumnya,” ujar Direktur Senior Operasi Medis dan Ilmiah Alzheimer Association, Heather Snyder, PhD. “Sebagai contoh, sebuah meta analisis dari 19 penelitian sebelumnya menemukan bahwa orang yang tidak pernah merokok cenderung kurang berisiko terkena demensia dibandingkan perokok.”

Penelitian lebih lanjut memang masih diperlukan untuk mengetahui efek negatif rokok terhadap jantung dan pembuluh darah. Menurut Snyder, yang sudah peneliti lihat adalah ada hubungan antara kesehatan jantung dan otak. Merokok juga meningkatkan risiko pembekuan darah di otak sehingga menyebabkan stroke.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: