Studi: Penggunaan Smartphone Saat Makan Bisa Picu Obesitas

Ilustrasi: makan sambil bermain gadget dapat memicu obesitas Ilustrasi: makan sambil bermain gadget dapat memicu obesitas

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan pada jurnal Physiology and Behaviour menemukan fakta bahwa orang-orang yang makan sambil menatap layar ponsel pintar, mengonsumsi kalori lebih banyak dibanding yang tidak.

Sebagai bagian dari studi. Ada 62 partisipan berusia 18 hingga 28 tahun yang terlibat. Mereka disajikan berbagai jenis makanan, mulai dari yang sehat seperti buah-buahan, hingga junk food, soda, dan makanan manis.

Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang saat makan malam masih memainkan handphone, melahap 535 kalori lebih banyak, dibanding partisipan lain yang tidak mengoperasikan ponsel pintarnya.

Pengguna ponsel tersebut juga mengonsumsi makanan berlemak, 10% lebih banyak. “Tablet dan smartphone telah menjadi ‘pengganggu’ utama saat jam makan, bahkan untuk anak-anak sekalipun. Oleh sebab itu, penting untuk fokus kepada makanan, karena itu akan memengaruhi pola dan asupan makanan kita,” papar Márcio Gilberto Zangeronimo, pemimpin penelitian dari Federal University of Lavras.

“Bermain handphone saat makan malam mencegah otak untuk memahami seberapa banyak makanan yang sudah kita lahap,” imbuhnya. Penggunaan perangkat elektronik seperti ponsel telah lama diketahui dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Namun sebuah penelitian baru mengungkap bahwa hal ini juga dapat menyebabkan meningkatnya berat badan.

Dilansir dari The Health Site, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa berganti-ganti perangkat elektronik dalam waktu cepat dapat meningkatkan berat badan. Hal ini terjadi karena tubuhmu bakal lebih mudah tergoda terhadap makanan dan juga memiliki pengendalian diri yang buruk.

Anak muda menyantap pizza sambil bermain smartphone (sumber: videoblocks.com)

Anak muda menyantap pizza sambil bermain smartphone (sumber: videoblocks.com)

“Peningkatan paparan terhadap ponsel, tablet, serta perangkat elektronik lainnya merupakan salah satu perubahan paling signifikan terhadap lingkungan tinggal mereka selama satu dekade terakhir, dan hal ini muncul selama periode ketika tingkat obesitas meningkat di banyak tempat,” jelas peneliti utama dari riset ini, Richard Lopez.

Hasil penelitian ini dipublikasikan pada jurnal Brain Imaging and Behaviour. Terdapat 132 partisipan yang dilibatkan pada penelitian ini dengan rentang usia antara 18-23 tahun.

Peneliti mengukur perilaku kompulsif atau penggunaan ponsel yang tak tepat seperti keinginan tergesa-gesa untuk mengecek pesan di ponsel ketika tengah berbicara dengan seseorang. Terdapat juga perilaku pasif seperti gangguan yang berasal dari media yang mengganggu pekerjaan Anda.

Hasil temuan ini menunjukkan bahwa orang-orang dengan nilai yang lebih tinggi, cenderung memiliki Indeks Massa Tubuh lebih tinggi. Selain itu, mereka juga memiliki persentase massa lemak di tubuh yang lebih banyak.

Para partisipan menjalani pemindaian MRI ketika peneliti mengukur aktivitas otak. Sembari diukur, para partisipan ditunjukkan rangkaian gambar makanan yang menarik dan mengandung lemak.

Ketika para orang-orang yang kerap berganti alat elektronik ini melihat gambar makanan, bagian otak yang berhubungan dengan godaan terhadap makanan menjadi lebih aktif. Lopez menyebut bahwa temuan ini penting mengingat hubungan antara meningkatnya obesitas dan kecenderungan penggunaan berbagai alat elektronik.

Makan sambil menggunakan smartphone (sumber: videoblocks.com)

Makan sambil menggunakan smartphone (sumber: videoblocks.com)

Selanjutnya, tim Lopez meminta 72 siswa menjalani pemindaian otak MRI sementara mereka diperlihatkan gambar yang serius. Ketika gambar makanan diperlihatkan, aktivitas meningkat di bagian otak terkait dengan godaan makanan, temuan menunjukkan. Para peserta ini, yang juga cenderung memiliki lebih banyak lemak tubuh, menghabiskan lebih banyak waktu di kafetaria kampus, kata para peneliti.

Tentu saja penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa multitasking membuat seseorang menjadi gemuk, hanya saja tampaknya ada hubungan. Tetapi Lopez percaya bahwa temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara multitasking dan risiko obesitas – kaitannya adalah bagian dari otak yang merespons godaan.

Dalam penelitian selanjutnya, tim Lopez berharap untuk mengetahui apakah orang dengan kontrol diri yang buruk mudah terganggu oleh multimedia, atau apakah orang yang multitask secara elektronik cenderung kehilangan kontrol diri dari waktu ke waktu. Pada titik ini, “berhati-hati dalam melakukan banyak tugas sangat disarankan,” kata Lopez.

“Ditarik ke arah yang berbeda oleh perangkat yang berbeda ini mungkin tidak baik bagi kita secara kognitif, dan itu mungkin memiliki efek pada perilaku lain.”

Seorang pakar mengatakan penelitian ini menawarkan makanan untuk dipikirkan. “Apa yang penelitian ini tidak dapat memberi tahu kami adalah apa yang menyebabkan dan apa efeknya,” kata Dr. David Katz, direktur Pusat Penelitian Pencegahan Yale-Griffin Universitas Yale.

Apakah kecenderungan neurologis yang sama mendukung media melakukan banyak tugas dan makan berlebihan, kata Katz, atau apakah aktivitas itu mengubah otak dan mendorong obesitas secara langsung?

Makan sambil berkomunikasi lewat telepon

Makan sambil berkomunikasi lewat telepon

“Studi ini menimbulkan kekhawatiran tentang asosiasi, dan mengundang kami untuk bertanya lebih banyak tentang hubungan dan menjawabnya dalam studi berikutnya,” kata Katz. “Kita semua mungkin mendengar bahwa makan yang terganggu adalah risiko makan berlebihan, membuat pilihan yang buruk dan menambah berat badan,” tambahnya.

Selain itu, dilansir dari Dailymail, penggunaan ponsel dan gadget lainnya mampu meningkatkan nafsu makan dan menyebabkan kita mudah lapar. Bahkan begitu kuatnya radiasi cahaya dari gadget yang kita gunakan, radiasi tersebut bisa membuat kita lapar meski baru saja makan.

Beberapa gadget yang disebutkan adalah telepon genggam jenis smartphone, tablet atau laptop. Gadget-gadget yang handy semacam ini memang kerap digunakan seseorang untuk melakukan pekerjaan atau hobi mereka. Dan zaman sekarang, orang bisa betah berlama-lama berada di depan ponsel atau layar terpa untuk menikmati internet.

Menurut penelitian di Amerika, efek dari sinar gadget akan muncul setelah 15 menit digunakan. Dampak sinar biru dari gadget ini bisa berlangsung bahkan 2 jam setelah makan. Dengan begitu, tak heran bila kita jadi ingin makan dan makan lagi.

Beberapa survei dalam satu dekade terakhir memang menunjukkan bahwa manusia zaman sekarang memang mudah sekali terkena obesitas. Hal ini bukan saja disebabkan pola makan, namun sepertinya ada hubungan dengan penggunaan gadget yang dimiliki.

Disarankan untuk lebih membatasi penggunaan gadget. Selain untuk mengurangi risiko kegemukan, yang lebih vital adalah menjaga kesehatan mata.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: