Studi: Peminum Alkohol Berisiko Terkena Kanker, Termasuk Kanker Kulit

Minum, meminum, konsumsi, alkohol, kanker, sel, kulit, pertumbuhan, kematian, Amerika Serikat, penyakit, penelitian, studi, hasil, peneliti, jurnal, risiko, pemicu, kasus, membunuh, melanoma, karsinoma, berbahaya, kesehatan, tubuh, minuman, per, hari, pria, wanita, DNA, wine, anggur, antioksidan, studi, Ilustrasi: minuman beralkohol jenis wiski

Akhir-akhir ini, alkohol menjadi sorotan. Komite Pencegahan dari American Society of Clinical Oncology merekomendasikan untuk meminimalisir minum alkohol, karena dianggap sebagai ‘faktor risiko yang dapat memicu pertumbuhan sel ’. Alkohol diperkirakan bertanggung jawab untuk 3,5% dari semua kematian akibat di Amerika Serikat.

Apakah alkohol mempengaruhi risiko kanker ?

Jawaban singkatnya adalah bahwa alkohol dapat dikaitkan dengan kanker kulit. Beberapa telah mencoba menjawab pertanyaan ini dengan berbagai hasil. Namun, dua meta-analisis, yang menggabungkan hasil dari sejumlah lain, menemukan bahwa asupan alkohol dikaitkan dengan perkembangan karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa (dua jenis kanker kulit yang paling umum) dan melanoma.

Salah satu penelitian menemukan bahwa risiko karsinoma sel basal meningkat sebesar 7% dan karsinoma sel skuamosa meningkat sebesar 11% untuk setiap peningkatan 10 gram asupan alkohol yang disuling (atau satu bir standar atau gelas kecil anggur) per hari. Studi lain menemukan peningkatan 20% dalam melanoma pada peminum (dibandingkan dengan mereka yang tidak minum alkohol atau hanya minum sesekali) dan peningkatan risiko berdasarkan jumlah asupan alkohol, dengan peningkatan risiko 55% bagi mereka yang minum 50 gram alkohol (atau lima bir) per hari.

Bagaimana bisa alkohol menyebabkan kanker kulit?

Sinar ultraviolet menyebabkan mutasi pada DNA dan biasanya kita memperbaiki perubahan ini. Namun, salah satu produk sampingan yang dihasilkan ketika memetabolisme alkohol dapat mengganggu perbaikan DNA, yang akhirnya dapat menyebabkan kanker. Alkohol juga menyebabkan pembentukan sesuatu yang disebut spesies oksigen reaktif, yang juga memiliki kemampuan merusak DNA.

Ilustrasi: gejala kanker kulit (sumber: Reader’s Diggest)

Ada mekanisme lain yang diusulkan, termasuk meningkatkan kerentanan seseorang terhadap kerusakan dari sinar ultraviolet dan menekan sistem kekebalan seseorang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anggur putih memiliki hubungan yang lebih kuat dengan pembentukan kanker kulit, yang mungkin disebabkan oleh tingkat antioksidan yang lebih rendah dalam anggur putih.

Tetapi sebelum Anda benar-benar mengubah praktik sosial Anda, penting untuk mengenali beberapa keterbatasan dalam studi ini. Yang pertama adalah bahwa sinar ultraviolet adalah faktor utama yang meningkatkan karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa, dan konsumsi alkohol telah dikaitkan dengan perilaku yang meningkatkan risiko seseorang terkena sengatan matahari. Jadi, tidak jelas apakah alkohol adalah penyebab kanker kulit atau pengamat. Selain itu, ada faktor tak terukur lain yang tidak diperhitungkan dalam studi ini.

Apa yang harus Anda lakukan?

The American Cancer Society merekomendasikan membatasi konsumsi alkohol untuk satu per hari untuk wanita dan dua per hari untuk pria. Tetapi penting untuk mempertimbangkan risiko yang mendasari Anda untuk mengembangkan kanker kulit, dan untuk memahami bagaimana modifikasi gaya hidup Anda berdampak pada Anda melalui faktor-faktor seperti kebiasaan paparan sinar matahari dan bahkan etnis.

Studi berskala besar juga menemukan konsumsi alkohol atau wine meningkatkan kemungkinan dua jenis . Setiap 10 gram setiap harinya meningkatkan risiko sebesar 11 persen pada satu jenis kanker, dan jenis kulit lainnya sebesar tujuh persen.

Ilustrasi: mencicip aroma dan rasa wine

Kanker kulit yang paling sering ditemui adalah kanker kulit non melanoma (NMSC). Kanker tersebut kebalikan dari kanker kulit melanoma yang merupakan kanker kulit paling berbahaya karena kemampuan metastasis dini. Inggris merupakan salah satu negara yang paling banyak penduduknya yang terkena kanker kulit. Setiap tahunnya, jumlah penderita juga mengalami peningkatan.

Seorang dermatologi Dr Eunyoung Cho dari dari Universitas Brown, Rhode Island mengatakan salah satu cara untuk mengurangi kanker kulit tersebut adalah mengontrol perilaku seseorang dalam konsumsi alkohol.

“Mengingat prevalensi kanker kulit dan minuman beralkohol yang tinggi, maka memodifikasi perilaku konsumsi alkohol mungkin dapat membantu mengurangi secara substansial potensi risiko terkena kanker kulit non melanoma. Ini adalah temuan penting mengingat ada beberapa cara untuk mencegah kanker kulit,” ucapnya.

Tahun 2016, para peneliti juga menemukan jika segelas anggur putih setiap hari meningkatkan risiko kanker kulit melanoma, jenis penyakit yang ketiga dan paling mematikan sebanyak 13 persen. Bahkan, sekitar 3,6 persen kasus kanker kulit di seluruh dunia dikaitkan dengan alkohol termasuk kanker hati, kanker pankreas, kanker usus dan kanker payudara.

Penyebabnya adalah zat etanol dalam alkohol yang memetabolisme menjadi asetaldehida senyawa yang dapat merusak DNA. Menurut Cho, secara umum metabolisme etanol berperan penting dalam karsinogenesis alkohol. “Metabolisme etanol juga menghasilkan produksi spesies oksigen reaktif yang menyebabkan kerusakan DNA dan berkontribusi terhadap mutasi,” tuturnya.

Minum, meminum, konsumsi, alkohol, kanker, sel, kulit, pertumbuhan, kematian, Amerika Serikat, penyakit, penelitian, studi, hasil, peneliti, jurnal, risiko, pemicu, kasus, membunuh, melanoma, karsinoma, berbahaya, kesehatan, tubuh, minuman, per, hari, pria, wanita, DNA, wine, anggur, antioksidan, studi,

Ilustrasi: wanita mengonsumsi minuman beralkohol

Dalam penelitiannya tersebut, Cho mengumpulkan data dari 13 penelitian sebelumnya termasuk yang diikuti peserta dari Inggris. Dia membandingkannya dengan konsumsi alkohol pada 95.241 kasus kanker kulit non melanoma.

Studi yang diterbitkan dalam British Journal of Dermatology tersebut mendefinisikan jika minuman standar sebanyak 10 gram alkohol sama dengan segelas kecil anggur atau setengah liter bir. Dari situ ditemukan jika faktor risiko karsinoma sel skuamosa kulit naik 11 persen dan karsinoma sel basal naik tujuh persen. Keduanya merupakan tumor yang muncul di lapisan terluar dari kulit. Tidak seperti kanker kulit melanoma, dua jenis sel tersebut biasanya mudah diobati.

Cho mengatakan kanker kulit non melanoma terutama mencakup karsinoma sel basal (BCC) dan karsinoma kulit (cSCC) menyumbang sebagian besar kanker kulit dan juga merupakan keganasan paling umum di Amerika Serikat. “Mereka yang lahir pada tahun 1994 memiliki risiko seumur hidup 28-33 persen diperkirakan untuk BCC dan 7-11 persen untuk cSCC. Selain itu, tingkat insiden BCC dan cSCC meningkat di seluruh dunia,” ucapnya.

“Dalam analisis meta kami, asupan alkohol yang lebih tinggi dikaitkan secara signifikan dengan peningkatan risiko BCC dan cSCC yang tergantung pada dosis,” tuturnya.

Diketahui, setiap tahunnya Inggris memiliki 100 ribu kasus baru kanker kulit. Penyakit tersebut telah membunuh lebih dari 2.500 orang atau sama dengan tujuh orang meninggal setiap harinya karena penyakit tersebut.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: