Perlu Anda Ketahui, Stres Bisa Sebabkan Kulit Rusak

Ilustrasi: wanita mengalami stres (pexels: Ana Bregantin)Ilustrasi: wanita mengalami stres (pexels: Ana Bregantin)

Seiring berkembangnya zaman ketika permasalahan hidup semakin komplek dan rumit, banyak orang yang menderita stres. Selain bisa membuat emosi menjadi labil, ternyata stres bisa berdampak pada fisik. Jika tidak segera ditangani, stres ternyata mampu menyebabkan kerusakan pada kulit.

Dampak Stres pada Kesehatan Kulit

Stres dalam artian umum adalah pola reaksi serta adaptasi umum dalam menghadapi penyebab stres (stressor) yang dapat berasal dari dalam maupun luar individu yang bersangkutan.[1] Bentuk gejala stres pada tiap orang berbeda-beda, tergantung dari kemampuan individu untuk menghadapinya.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, selain menyerang psikologis, stres juga mampu menyerang fisik tanpa disadari penderitanya. Beberapa orang merasakan efek negatif stres pada penurunan kesehatan kulitnya, serta memperburuk sejumlah kondisi kulit, termasuk psoriasis, eksim, jerawat, dan rambut rontok. Namun, dampak stres pada kulit bukan jalan satu arah, tetapi dua arah. Bisa diartikan, dampak stres pada kulit tidak hanya disebabkan stres (secara psikologis), tetapi kulit Anda sendiri sudah memiliki stressornya.

Masih dilansir dari sumber yang sama, terdapat sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa folikel kulit dan rambut mengandung mekanisme kompleks untuk menghasilkan sinyal pemicu stres sendiri. Sinyal ini akan diteruskan ke otak untuk menghasilkan stres secara psikologis dan fisik yang dapat dilihat dari perubahan kondisi kulit.

Baca juga:  Update Jenis Bedak Dan Kosmetik Yang Dibutuhkan Untuk Usia 40 Tahun Ke Atas
Ilustrasi: berkaca merefleksi wajah (unsplash: Septian Simon)

Ilustrasi: berkaca merefleksi wajah (unsplash: Septian Simon)

Respon stres sementara yang akut seperti gugup, muka memerah, cemas, dan berkeringat dingin adalah salah satu contoh bentuk adanya gejala stres yang berhubungan antara kulit dan otak. Diketahui, jika Anda mengalami gejala seperti ini secara berulang, maka efek kerusakan kulit yang dihasilkan akan bertahan lama dan terbilang lebih akut daripada kulit yang kemerahan.

Studi terkait hubungan stres dan kulit ini juga mengungkapkan, sumbu otak dan kulit adalah jalur dua arah yang saling berhubungan. Hal ini yang menyebabkan kulit Anda mampu menerjemahkan stres psikologis yang Anda alami dan sebaliknya. Hal ini terjadi karena stres memicu sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA), yakni kelenjar yang berfungsi merespon stres dalam tubuh.

Diketahui juga, stres psikologis mampu merusak penghalang epidermis, yakni lapisan atas kulit yang berfungsi untuk mengunci kelembapan dan melindungi kulit dari mikroba berbahaya. Penghalang epidermis pada orang yang tidak stres terlihat utuh dan inilah alasan mengapa orang yang sehat memiliki kulit yang sehat.

Baca juga:  Mirip Rokok, Duduk Terlalu Lama Bisa Membunuh Anda Perlahan

Jika penghalang epidermis kulit rusak, kulit bisa mengalami iritasi, eksim, luka, jerawat, dan kulit kering. Efek negatif stres juga bisa dilihat dari rambut yang berhubungan dengan kulit kepala, salah satunya adalah kebotakan akibat rambut rontok atau biasa dikenal dengan nama telogen effluvium.

Jika Anda mengalami gejala-gejala stres seperti di atas, tentunya Anda tidak bisa berdiam diri menunggu stres Anda pulih sendiri. Hal ini berbahaya karena beberapa orang yang membiarkan stresnya justru mendapatkan stres akut serta depresi yang mampu memicu kerusakan kulit lebih parah.

Cara Atasi Stres

Ilustrasi: meditasi (unsplash: JD Mason)

Ilustrasi: meditasi (unsplash: JD Mason)

  • Cara paling mudah untuk menangani kerusakan kulit akibat stres adalah mengatasi stres itu sendiri dengan melakukan meditasi. Beberapa orang memilih cara ini karena diklaim ampuh dan lebih efisien. Anda bisa melakukan meditasi secara rutin hingga gejala stres secara fisik hilang.
  • Makan makanan sehat. Beberapa jenis makanan yang mengandung kafein, alkohol, lemak, gula, dan soda diklaim menjadi salah satu pemicu stres. Anda perlu mengurangi atau menghindari makanan tersebut jika ingin mendapatkan kembali kulit yang sehat dan normal.
  • Olahraga secara teratur. Diketahui, olahraga bukan hanya sarana untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga sebagai sarana rekreasi dan bermain. Dengan melakukannya secara teratur, pikiran Anda yang stres bisa mulai rileks karena melakukan hal yang menyenangkan.
  • Salep dan skincare. Untuk mengatasi gejala stres seperti kulit kemerahan, gatal-gatal, dan jerawat, Anda tidak hanya perlu mengobati stres, tetapi juga membantu proses perbaikan kulit. Beberapa orang memilih salep dan sediaan skincare atau perawatan kulit yang terbilang praktis.
  • Meningkatkan kualitas tidur. Kurang tidur bisa menjadi salah satu pemicu gejala stres dan kondisi emosi yang labil. Untuk itu, Anda perlu menjaga jam tidur yang cukup. Maksimal, Anda bisa tidur selama delapan jam setiap hari.
Baca juga:  Makanan Organik Dianggap Lebih Sehat, Benarkah?

Jika gejala stres Anda semakin parah dan cara-cara di atas kurang ampuh, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter. Berkonsultasilah kepada psikiater sekaligus dokter kulit atau dermatologis. Mereka akan membantu Anda untuk meredakan stres sekaligus mengatasi gejala stres yang timbul pada kulit.

[1] Musradinur. 2016. Stres dan Cara Mengatasinya dalam Perspektif Psikologi. Jurnal Edukasi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Vol. 2(2): 183-200.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: