Awas, Stres Sebabkan Perubahan Tingkah Laku pada Balita

Ilustrasi: perilaku balitaIlustrasi: perilaku balita

Jika beberapa tahun lalu stres lebih sering diderita oleh individu dengan usia di atas 20 tahun, kini juga bisa dihadapi h remaja dan anak-anak.[1] Bahkan, balita atau bayi juga bisa mengalaminya. Ini tidak hanya disebabkan kondisi lingkungan yang mengalami penurunan kualitas, tetapi juga social distancing yang sedang marak. Akibat stres pada balita tidak bisa disepelekan, karena bisa menyebabkan perubahan tingkah laku yang membingungkan orang tua.

Gejala Perubahan Tingkah Laku pada Balita

Sejak maraknya social distancing akibat pandemi COVID-19, yang membuat semua orang harus tinggal di rumah, banyak orang tua melaporkan perubahan perilaku pada anak-anak mereka. Dilansir dari HuffPost, kebanyakan remaja mengalami perubahan perilaku akibat berjuang mengisolasi diri dan tidak bisa bersosialisasi secara bebas.

Hal ini juga dialami oleh anak-anak hingga balita yang belum bisa berbicara atau sedang belajar berjalan. Kebanyakan balita mengalami gejala kecemasan dan stres, lalu menunjukkannya dalam berbagai cara atau tingkah laku. Hal ini yang membuat orang tua kebingungan, apalagi kebanyakan aktivitas anak mereka sering bertolak belakang dengan kebiasaannya.

Ilustrasi: balita digendong ibu

Ilustrasi: balita digendong ibu

Masih dilansir dari sumber yang sama, stres pada anak usia dini juga bisa membuat mereka mengalami kemunduran dalam berperilaku. Anda bisa mengetahui apakah buah hati Anda mengalami gejala ini atau tidak, dengan cara memperhatikan setiap tingkah lakunya. Sebagai contoh, pada balita yang tadinya sudah bisa makan sendiri, menjadi enggan untuk memegang sendok dan mereka akan mengatakan bahwa makan sendiri adalah hal yang sulit.

Baca juga:  Tips Simpel Menghentikan Kebiasaan Ngompol pada Anak

Selain itu, balita yang tadinya sudah bisa berbicara dengan lancar, bisa mengalami kemunduran berupa kesulitan dalam berbicara. Pada beberapa kasus, stres dan rasa cemas berlebihan bisa membuat anak menjadi gagap dan tidak bisa mengucapkan huruf “R” dengan jelas di usia yang memungkinkan.

Ciri lain anak-anak yang mengalami gejala stres di usia dini adalah sering mengompol. Untuk balita dengan usia di bawah 4 tahun, mengompol adalah hal yang wajar, tetapi Anda harus memperhatikan kebiasaan buang air kecil anak Anda. Jika pada awalnya balita memiliki kebiasaan kencing 3 hingga 4 kali sehari, tetapi dalam kondisi stres, mereka bisa kencing lebih dari 7 kali dalam sehari. Ini buka diakibatkan banyaknya asupan air minum yang masuk ke tubuh mereka, tetapi karena rasa cemas berlebih dan stres.

Perubahan tingkah laku pada balita seperti ini biasanya terjadi dalam waktu yang tidak lama, tetapi Anda perlu waspada jika gejala bertambah parah atau berlangsung lebih dari 2 bulan. Sebagai tips untuk mengatasi hal ini, Anda bisa melihat ulasan berikut.

Baca juga:  Bolehkah Produk Frutablend Dikonsumsi untuk Anak-anak?

Tips Atasi Stres pada Balita

Ilustrasi: perilaku balita

Ilustrasi: perilaku balita

Seorang psikolog anak bernama Jennifer Wills Lamacq mengatakan, jika Anda ingin menghadapi anak-anak yang sedang bertingkah laku tidak wajar atau mengalami perubahan dalam kebiasaannya, Anda harus tenang dan tidak boleh bingung. Rasa cemas dan bingung akan membuat Anda menjadi stres, sehingga memicu depresi pada anak yang ada di dekat Anda. Bisa dibilang, balita adalah individu yang peka dan bisa merasakan gejala emosi orang tuanya tanpa harus bertanya pada Anda.

Anda juga harus bisa mengontrol emosi saat dekat dengan buah hati. Usahakan emosi Anda dalam keadaan baik dan stabil. Lakukan berbagai macam hal untuk membuat emosi Anda selalu dalam keadaan baik. Sebagai contoh, Anda bisa melakukan olahraga, memasak, dan terapi mental. Jika emosi Anda dalam keadaan positif, si kecil juga akan merasa lebih tenang.

Baca juga:  Tanda-Tanda Penuaan Pada Kulit & Bagaimana Cara Mengatasinya

Tips lainnya adalah meluangkan waktu dan memberi perhatian lebih kepada anak Anda. Jika balita mengalami stres, tak jarang mereka juga akan mengalami gejala tantrum. Sebagai solusi, Anda tidak boleh panik dan berikan energi positif Anda kepada anak dengan cara memeluknya. Ini akan membuat si kecil merasa aman dan tidak cemas. Selain itu, Anda perlu mengajarkan kepada anak Anda untuk mengontrol emosi dan gejala tantrumnya.

Jika cara-cara ini belum bisa mengatasi stres pada balita, Anda memerlukan bantuan psikolog anak. Ini adalah cara terakhir untuk menghilangkan gejala cemas dan stres pada anak. Biasanya pihak medis akan menawarkan pelayanan berupa terapi untuk anak atau obat khusus untuk menenangkan anak.

[1] Pranadji, Diah Krisnatuti & Nurlaela. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Stres pada Anak Usia Sekolah Dasar yang Sibuk dan Tidak Sibuk. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB, Vol. 2(1): 57-63.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: