Standar Kecantikan Menyebabkan Trauma Estetika

Ilustrasi: trauma kecantikanIlustrasi: trauma kecantikan

Secara umum, standar kecantikan wanita yang diciptakan oleh masyarakat dari dulu hingga kini, tampaknya masih sama. Perempuan yang cantik adalah mereka yang berkulit putih dan berpostur tinggi. Standar kecantikan ini sayangnya dapat menyebabkan trauma estetika bagi sebagian besar orang yang tidak bisa memenuhi kriteria tersebut.

Penyebab Trauma Estetika

Meskipun gerakan emansipasi wanita telah marak digaungkan, tetapi alam bawah sadar perempuan masih dikontrol oleh perasaan tentang kondisi secara fisik, yaitu obsesi kecantikan yang sesuai dengan standar. Makna kecantikan sendiri merupakan politik penampilan yang tidak terbatas pada segi psikologi dan nilai seni secara individual, tetapi telah menjadi mesin kebudayaan global, melibatkan iklan, media, dan industri dalam konstruksi standar normatif dari kecantikan yang harus dicapai setiap perempuan di seluruh dunia.[1] Akibatnya, mereka terjebak dalam standar kecantikan, sebuah lingkaran setan yang tidak bisa diputus begitu saja.

Dilansir dari allure, standar kecantikan yang meluas diawali oleh ketentuan yang dibawa oleh sebuah kelompok kecil, termasuk keluarga. Seorang wanita berusia 32 tahun bernama Tonya Russel yang bekerja sebagai freelancer mengatakan, trauma yang pernah dialaminya sewaktu masa kanak-kanak disebabkan oleh standar kecantikan yang tidak masuk akal dalam keluarganya.

Ilustrasi: model cantik

Ilustrasi: model cantik

Sebagai satu-satunya wanita berkulit hitam di sebuah grup berbincang, perempuan tersebut mengatakan, ibunya tidak ingin anak-anaknya keluar di bawah sinar matahari, karena takut kulit mereka akan gosong dan menjadi tidak cantik. Nenek dari wanita ini juga pernah mengatakan, rambut yang dibiarkan berantakan akan membuatnya menjadi jelek.

Baca juga:  Review Manfaat Mustika Ratu Whitening Bengkoang Lulur Krem Body

Seorang psikolog asal Washington bernama Afiya Mbilishaka mengatakan, apa yang dialami oleh Tonya bisa disebut sebagai toksik yang membuatnya menjadi trauma estetika. Trauma estetika adalah gambaran dari pengalaman menyedihkan yang terkait dengan penampilan.

Meskipun Anda tidak membandingkan penampilan sendiri dengan orang lain di sekitar, jika Anda terkena trauma estetika, Anda akan mengalami gejala yang parah. Sebagian besar orang yang mengalami trauma estetika adalah mereka yang memiliki kulit gelap. Tentu saja, ini karena standar kecantikan yang secara global sudah memengaruhi alam bawah sadar.

Trauma estetika adalah masalah yang serius dan tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena bisa memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Orang yang mengalami trauma ini, biasanya akan merasa rendah diri dan kurang percaya diri untuk bertindak, dan akibatnya mereka menjadi pribadi yang lemah dan suka minder.

Baca juga:  Riset Ungkap, Beberapa Jenis Antibiotik Tingkatkan Risiko Keguguran

Efek Samping Trauma Estetika

Ilustrasi: trauma estetika

Ilustrasi: trauma estetika

  • Dilansir dari Kompasiana, standar kecantikan yang mengubah pola pikir dan bertindak ini bisa memicu adanya bullying. Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok wanita pada satu orang perempuan muda, bisa terjadi kapan pun. Ini karena kelompok tersebut merasa iri atau merasa lebih cantik. Hal ini tampaknya sudah biasa di kalangan remaja.
  • Trauma estetika juga bisa membuat seseorang menjadi lupa diri. Ambisi menjadi cantik, membuat banyak wanita menghalalkan segala cara dan ini membuat sifat mereka berubah dalam sekejap. Sehingga, banyak orang yang mulai merasa khawatir dan menjauh.
  • Ambisi ingin menjadi cantik juga hal yang berbahaya. Banyak wanita mudah tergiur dengan cara instan, seperti mengonsumsi vitamin berlebihan, suntik putih, dan menggunakan produk abal-abal. Meskipun mereka akan memiliki kulit yang putih, tetapi mereka juga harus mengorbankan kesehatan sendiri. Sehingga, tak jarang para perempuan ini mengidap sakit yang tidak bisa dibilang ringan.
  • Banyak wanita yang rela menghabiskan uangnya demi sebuah treatment. Ini juga salah satu dampak negatif dari trauma estetika yang dirasakan. Tidak sedikit pula wanita yang rela berutang demi melakukan perawatan. Ini juga salah satu pemicu tindakan kriminal seperti pencurian di kalangan wanita.
Baca juga:  Tips Tidur Berkualitas dan Nyenyak dengan Cepat

Menyembuhkan trauma estetika memang tidak mudah, tetapi Anda harus bersabar dan tetap tegar. Sebagai solusi, Anda perlu berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan tidak melihat media sosial selama beberapa hari. Ini akan membuat alam bawah sadar Anda menjadi tidak terikat dengan standar kecantikan. Sehingga, Anda menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah iri dengan bentuk fisik orang lain.

Di sisi lain, trauma estetika terkadang juga dibutuhkan. Bagi seseorang yang memiliki berat badan berlebih, biasanya akan merasa minder jika berjalan di tengah-tengah orang yang kurus. Ini adalah motivasi bagi wanita gemuk untuk berolahraga dan mendapatkan berat badan ideal dengan bentuk tubuh yang proporsional.

[1] Rizkiyah, Iin & Nurliana Cipta Apsari. 2019. Strategi Coping Perempuan terhadap Standarisasi Cantik di Masyarakat. Marwah: Jurnal Perempuan, Agama dan Jender Universitas Padjadjaran, Vol. 18(2): 133-152.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: