Kurangi Rasa Sedih untuk Menghindari Efek Samping yang Mematikan

Ilustrasi: mengalami kesedihan (pexels: Mart Productions)Ilustrasi: mengalami kesedihan (pexels: Mart Productions)

Emosi sedih bersifat sangat pribadi dan tidak mudah diungkapkan, kecuali kepada saudara dan teman terdekat, ini membuat beberapa orang kerap terpuruk dalam kesedihan dan tidak bisa lepas dari rasa negatif tersebut.[1] Padahal rasa sedih yang tak kunjung hilang diklaim bisa menyebabkan efek samping yang mematikan bagi kesehatan tubuh.

Banyak orang yang hidupnya terganggu karena terlalu terpuruk dalam kesedihan dan ini tidak baik. Beberapa orang bahkan kehilangan harapan hidupnya karena terlalu lama bersedih. Untuk itu, Profesor Psikiatri dan Radiologi Dr. Martha E., Shenton membagikan cerita kesedihannya dalam Harvard Health Publishing yang dirangkum sebagai berikut.

Efek Samping Kesedihan

Shenton yang juga bekerja di Brigham and Women’s Hospital, Boston mengalami kesedihan yang mendalam ketika George, suaminya meninggal akibat kanker. Setelah bertemu ahli medis dan memeriksakan kesehatan suaminya, pasangan suami istri ini dikejutkan bahwa kanker yang diderita George sudah menyebar ke seluruh tubuh.

Tak hanya George yang merasa risau, Shenton justru lebih sedih menghadapi kenyataan pahit ini. Tidak ada fakta nyata untuk bersiap menghadapi kesedihan. Rasa tidak nyaman ini tidak bisa dihindari oleh manusia dengan berbagai macam kondisi.

Baca juga:  Rekomendasi 4 Day Cream Wardah untuk Kulit Berminyak

Bukan hanya saat mendengar ucapan dokter, kesedihannya dikhawatirkan bisa memicu stres setelah kematian orang yang dicintainya. Jika ini tidak segera diatasi, stres tersebut bisa menyebabkan efek samping mulai dari psikis hingga fisik. Untuk psikis, stres bisa berkembang menjadi depresi.

Sementara itu, pada gangguan fisik, stres bisa menyebabkan penyakit kardiovaskular, sindrom hari (kardiomiopatia takotsubo), kanker, dan bisul. Distress emosional sering memicu tekanan fisik yang dikenal sebagai gejala somatik. Cara setiap orang menghadapi duka berbeda-beda dan beberapa orang, termasuk Shenton tampaknya menghadapinya dengan kesedihan berlanjut yang menjadi kesedihan antisipatif.

Gelombang Kesedihan Antisipatif

Diagnosis George adalah kanker prostat metastatik stadium lanjut, menyebar ke kelenjar getah bening dan tulang. Tidak akan ada operasi, tidak ada radiasi, dan tidak ada kemoterapi untuk mengobatinya, hanya perawatan paliatif yang memungkinkan. Selama perawatan, George hanya ingin berbicara dengan istrinya.

Ilustrasi: mengalami kesedihan (pexels: RODNAE Productions)

Ilustrasi: mengalami kesedihan (pexels: RODNAE Productions)

Di hari-hari lain George hanya ingin berbicara dengan pasien kanker lainnya. Ini membuat Shenton merasa terhanyut bersama suaminya dan bisa memahami perasaannya. National Cancer Institute menggambarkan perasaan ini sebagai kesedihan antisipasi, reaksi yang mengantisipasi kehilangan yang akan datang.

Baca juga:  Rekomendasi Produk SK II untuk Hilangkan Jerawat

Seiring waktu, sepasang suami istri tersebut kembali ke rutinitas sehari-hari. Terkadang mereka tertawa dan tidak memikirkan penyakitnya. George bahkan merencanakan pesta tahunan untuk sahabatnya yang akan menjadi pengusung jenazahnya. ‘Pesta pengusung jenazah’, demikian sebutannya, adalah peristiwa yang membuat orang tertawa sampai mereka menangis. Setiap tahun, di penghujung malam, Shenton tahu air mata itu untuk mengantisipasi kehilangan.

Gelombang Kesedihan Akut Setelah Kematian

George meninggal pada Mei 2020. Terlepas dari gladi resik pengusung jenazah, tidak ada doa bersama setelah pemakaman. Dalam beberapa minggu pertama itu, waktu terasa sangat cepat. Shenton merasa terombang-ambing. Sisi tubuhnya sakit karena menangis dan lututnya menjadi tidak stabil. Wanita itu juga tidak ingat jam makan.

“Di rumah duka, ketika saya melihat George di peti mati, ruangan besar itu tampak terang dari lampu yang menerpa lantai kayu yang mengilap,” kata Shenton. “Kemudian, saya menyadari bahwa ruangan itu jauh lebih kecil dan lebih redup daripada yang saya ingat, lantainya tidak mengilat tetapi ditutupi oleh permadani oriental.”

Reaksi dan persepsi fisik seperti itu biasa terjadi pada kesedihan akut. Kematian orang yang dicintai disertai dengan gelombang tekanan fisik yang dapat mencakup nyeri otot, sesak napas, perut mual, dan kesulitan tidur. Makanan mungkin tidak memiliki rasa, dan beberapa mengalami halusinasi visual. Orang yang berduka mungkin tidak percaya bahwa orang yang mereka cintai telah meninggal.

Baca juga:  Apa Itu OCD Perinatal pada Ibu Hamil dan Setelah Melahirkan?

Cara Mengatasi Kesedihan Akut

“Hidup saya sekarang harus dikonfigurasi ulang dan dibayangkan ulang tanpa George. Melepaskan kesedihan terjadi dengan terbata-bata,” kata Shenton. “Perlahan-lahan, saya memperhatikan bahwa lebih banyak kenangan saya tentang George adalah kenangan yang bahagia, perlahan-lahan menghilangkan intensitas kesedihan awal yang menyita semua. Seiring waktu saya mulai sembuh dari rasa sedih.”

Jika Anda juga sedang berjuang melawan rasa sedih akut karena kehilangan, para ahli menyarankan beberapa hal mendasar, seperti cobalah makan, tidur, dan berolahraga secara teratur. Selain itu, berkonsultasilah dengan seorang profesional jika setelah berbulan-bulan Anda masih mengalami gejala kesedihan akut. Perawatan yang efektif dapat membantu dengan baik.

[1] Amperawan, Dody Leyno, dkk. 2014. Makna Kesedihan Bagi Remaja. Jurnal Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Vol. 10(2): 74-79.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: