Puasa Terbukti Membuat Sistem Imun Mampu Melawan Sel-sel Kanker

Puasa rendah kalori layaknya diet, dibarengi dengan kemoterapi memungkinkan sel tubuh mengenali serta membunuh sel kanker kulit dan payudara. Hal ini berdasarkan penelitian terbaru USC dengan menggunakan tikus sebagai bahan percobaan.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Cancer Cell pada 11 Juli, selang sehari setelah BMC Cancer mempublikasikan penelitian mengenai pilot trial selama tiga hari tentang berpuasa layaknya diet ternyata aman dan layak bagi 18 penderita kanker yang menjalani kemoterapi.

Kedua penelitian diatas dilakukan oleh Volter Longo, profesor dan direktur dari USC Longevity Institute at the USC Leonard Davis School of Gerontology. Penelitian ini juga didampingi oleh seorang ahli bidang onkologi, David Quinn of the Norris Comprehensive Cancer Center at the Keck School of Medicine of USC.

Penelitian yang menggunakan tikus sebagai bahan percobaan dalam menemukan cara untuk melawan sel kanker kulit dan payudara ini menunjukkan bahwa puasa dapat membangkitkan sel imun dan menyingkap sel kanker terhadap sistem imun. Longo mengatakan bahwa hal tersebut dapat menjadi cara yang tidak memakan biaya besar untuk membuat sel kanker lebih rentan diserang dengan sistem imun tubuh serta membuat sel kanker menjadi lebih sensitif terhadap kemoterapi.

Baca juga:  Review Melanox Krim Penghilang Flek Hitam dan Noda Bekas Jerawat

Penelitian dengan menggunakan tikus sebagai bahan percobaan dalam mendeteksi sistem imun tubuh untuk melawan kanker dilakukan oleh Science Translational Medicine, bagian dari jurnal Science, menemukan lima dari delapan kanker pada tikus memberikan respon bahwa puasa sama dengan kemoterapi: memperlambat pertumbuhan dan penyebaran sel-sel tumor.

Penelitian Longo yang lain menunjukkan bahwa diet rendah kalori, fasting-mimicking diet dapat memperlambat multiple sclerosis yang akan membunuh sel-sel yang buruk dan memperbaruinya dengan sel-sel baru.

Selama fasting-mimicking diet, kortison diproduksi dan diketahui dapat membunuh autoimmune cells. Proses ini juga membuat produksi sel-sel yang sehat. Seperti yang telah dipublikasikan di Jurnal Cell Report, baik tikus maupun manusia mempunyai multiple sclerosis, suatu penyakit syaraf yang menyerang sekitar 350.000 orang Amerika, berdasarkan data dari National Institute of Neurological Disorders and Stroke.

Valter Longo, director of the USC Longevity Institute

Valter Longo, peneliti dan Direktur the USC Longevity Institute

Peneliti juga berpendapat bahwa fasting-mimicking diet ketika digunakan bersamaan dengan obat-obatan dari kemoterapi akan menaikkan tingkat sel-sel tulang belakang yang menghasilkan sistem imun tubuh, seperti sel T, sel B, dan sel yang bersifat pembunuh alami yang menerobos ke dalam tumor.

Baca juga:  Penyebab ASI Kurang Lancar & Cara Mengatasinya

Sel T tiruan

Didalam penelitian dengan tikus, peneliti melihat efek signifikan yang lain dari diet: sistem T regulatory yang melindungi dari sel-sel kanker itu terbuang. Peneliti menelusuri dampak ini dari enzim yang dilemahkan, heme oxygenase or HO-1, didalam sel T regulatory mitochondria.

Penelitian sebelumnya mengindikasikan bahwa tingkat HO01 sering diangkat dalam tumor dan berhubungan terhadap beberapa kanker.

Longo mengatakan bahwa ketika ada mekanisme yang lebih efektif dalam menjaga sel T menjauh, dalam beberapa cara, heme oxygenase menipu sistem imun menjadi pemikiran bahwa sel-sel yang buruk seharusnya dibunuh. Serta dengan mengganti heme oxygenase , sel T regulatory juga diambil dari bagian kanker itu sendiri.

Untuk dampaknya terhadap kanker payudara, peneliti mengambil tikus dalam empat hari dengan fasting-mimicking diet rendah kalori dengan obat kemo doxorubicin dan cyclophosphamide, hal ini efektif sebagai dua hari meminum air saja, sebagai diet jangka pendek. Kedua diet tersebut dengan obat memperlambat pertumbuhan tumor ketika dilain pihak menjaga sel-sel yang normal dan sehat. Peneliti berpendapat bahwa terdapat dampak yang sama dalam melanoma.

T-cell sangat berperan dalam mengenali dan menghancurkan sel kanker

T-cell sangat berperan dalam mengenali dan menghancurkan sel kanker
(sumber gambar)

Mereka juga menemukan bahwa tiga sel dari fasting diet dikombinasikan dengan doxorubicin membuat peningkatan sebesar 33 persen dalam tingkat perlawanan terhadap sel darah putih terhadap kanker dan jumlah dua kali lipat dari sel progenitor dalam tulang sumsum. Sel pembunuh kanker juga efektif dalam melawan serta menenggelamkan tumor.

Baca juga:  Harga Di Bawah Rp 20Ribuan, Lipstik Red-A Tersedia Dalam 54 Warna

Apakah hal tersebut merupakan mekanisme yang alami?

Menurut penelitian yang dilakukan peneliti-peneliti dari USC dan Rafael de Cabo dari National Institute on Aging, menyimpulkan pilot trial bahwa puasa hanya dengan meminum air saja dengan kombinasi kemoterapi aman untuk manusia. Kelompok peneliti juga menemukan hasil bahwa berpuasa selama 72 jam berhubungan dengan lower side effect dibandingkan dengan berpuasa selama 24 jam. Hal ini menimbulkan kemungkinan bahwa pengawasan dokter, berpuasa layaknya diet dapat meningkatkan keefektifan dari immunoterapi dalam ragam yang lebih luas dari kanker.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: