Studi: Puasa Mampu Memperpanjang Usia

Ilustrasi: metode puasa (sumber: quora) Ilustrasi: metode puasa (sumber: quora)

Dilansir dari USC News, peneliti USC sedang menggali efek dan manfaat yang dieksplorasi dari siklus puasa pendek dan periodik pada obesitas serta kesehatan jantung. Uji coba menyatakan bahwa dengan melakukan konsep puasa yang tepat, seseorang bisa menjalani hidupnya lebih lama atau memperpanjang usianya.

Perkembangan Puasa menjadi Diet

Bagi umat Muslim, berpuasa adalah hal yang wajib dan termasuk rukun Islam yang ketiga. Dalam subul Al-Salam, para ulama fikih mengartikan puasa sebagai menahan diri dari makan, minum, dan faktor-faktor yang membatalkan puasa lainnya sepanjang hari.[1] Secara universal, kegiatan ini berarti tidak makan dan minum dalam jangka waktu tertentu.

Pola makan dalam berpuasa tampaknya juga telah berkembang dan menjadi inovasi untuk diet sehat. Studi yang dilakukan USC mengenai efek kesehatan dari diet yang meniru puasa pada tikus selama lima hari, menunjukkan bahwa puasa lebih efektif untuk menurunkan lemak dan kalori dibanding diet rendah lemak dan kalori pada umumnya.

Diterbitkan di Nature Metabolism, temuan ini juga menunjukkan bahwa diet yang meniru puasa mampu dijadikan sebagai obat untuk mengatasi obesitas. Dinamakan fasting mimicking diet (FMD), diet yang meniru puasa ini mampu ‘menipu’ tubuh Anda untuk beralih ke mode puasa, sehingga kalori dan lemak dapat terkikis lebih banyak.

Baca juga:  Trend Bentuk Alis Anak Muda Terkini: Feather Brows

Studi Diet Puasa pada Tikus

Untuk membuktikan hipotesis hasil percobaan, eksperimen dilakukan pada dua kelompok tikus yang memiliki nafsu makan tinggi dengan 60% kalori pada tubuhnya berasal dari lemak. Jumlah kalori dan lemak tersebut membuat tubuh tikus menjadi gemuk, tidak sehat, dan obesitas.

Ilustrasi: tikus percobaan (sumber: medicalexpress.com)

Ilustrasi: tikus percobaan (sumber: medicalexpress.com)

Untuk membedakan hasil percobaan, salah satu kelompok tikus diberi FMD selama lima hari dan dua hari diet sehat secara normal. Aturan diet FMD berbeda dengan diet pada umumnya. Tikus akan diberi makanan yang berlemak dan berkalori tinggi, tetapi mereka juga harus melakukan puasa selama beberapa jam. Hal ini dilakukan untuk mengikis lemak yang masuk sekaligus yang ada di dalam tubuh dengan memanfaatkan mode puasa.

Intervensi diet singkat yang dilakukan ternyata cukup untuk membawa kembali ke tingkat normal kolesterol, tekanan darah, dan berat badan. Jika dicocokkan secara teori, mungkin ini akan berdampak baik pada manusia. Karena, obesitas pada manusia berisiko diabetes, sindrom metabolik, dan penyakit kardiovaskular.

Baca juga:  Ingin Meningkatkan Daya Ingat? Berikut Beberapa Cara Yang Bisa Dilakukan

Seorang profesor di USC Dornsife College of Letters, Valter Longo, mengatakan, penemuan utama dari studi yang dilakukan adalah intervensi dengan FMD mampu membuat jantung berfungsi lebih baik. Jika jantung memiliki kinerja yang baik dan tahan terhadap risiko penyakit kardiovaskular, bisa diperkirakan bahwa seseorang bisa hidup lebih lama.

Diet meniru puasa pada tikus tampaknya mampu mencegah obesitas sekaligus meningkatkan fungsi jantung. Untuk mencegah obesitas, jumlah lemak visceral dan subkutan pada tikus dikurangi dan ini tidak menyebabkan massa tubuh hilang tanpa lemak. Jika diperhatikan lebih lanjut, tampaknya siklus FMD mampu mencegah gula darah tinggi.

Menurut peneliti, efek diet mirip puasa pada tikus menunjukkan peran pemrograman ulang sel lemak untuk pencegahan obesitas tikus. Secara khusus, dampak diet pada akumulasi lemak dan penuaan jantung dapat menjelaskan perlindungan dari kematian dini yang disebabkan makanan tinggi lemak dan kalori.

Namun, ada hal yang perlu dijadikan pertimbangan jika FMD dilakukan pada manusia. Setelah tikus dalam kelompok eksperimen kembali makan makanan berlemak dan berkalori tinggi tanpa FMD, perbaikan pemecahan lemak dalam tubuh mereka berlanjut dalam waktu yang lama. Jadi, ada kemungkinan untuk berisiko obesitas jika FMD tidak dilakukan lagi, terutama bagi mereka yang sering mengonsumsi makanan berlemak dan berkalori tinggi.

Baca juga:  Rekomendasi 6 Merek Bedak yang Cocok Untuk Kulit Kering

Para peneliti juga mengimbau agar hasil penelitian tidak disalah artikan. Diet seperti ini mungkin cocok untuk beberapa orang, tetapi tidak dianjurkan untuk mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Selain itu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut apakah FMD memang aman dilakukan manusia.

Pada dasarnya, manusia tidak direkomendasikan mengonsumsi makanan berlemak dan berkalori tinggi yang dikurangi dengan puasa secara berkala. Para ahli sendiri lebih menyarankan untuk melakukan diet ketogenik untuk mengatasi obesitas karena terbilang lebih sehat dibandingkan diet FMD.

[1] Rahmi, Aulia. 2015. Puasa dan Hikmahnya terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Spiritual. Serambi Tarbawi Universitas Serambi Bekkah Banda Aceh, Vol. 3(1): 89-106.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*