Rawat dan Kendalikan Mood Swing Saat PMS Agar Tak Semakin Parah

Ilustrasi: gejala PMS pada wanita (sumber: mckenzienisbet.com)Ilustrasi: gejala PMS pada wanita (sumber: mckenzienisbet.com)

Sebagian besar wanita sudah terbiasa mengalami nyeri sebelum menstruasi. Gejala tersebut lebih akrab dikenal sebagai sindrom pramenstruasi (PMS). Karena sudah terbiasa mengalami perubahan fisik dan emosional saat PMS, maka wanita cenderung meremehkan kondisi yang dialaminya.

Padahal menurut penelitian oleh Perguruan Tinggi Kebidanan dan Ginekolog Amerika, sekitar 85 persen wanita mengalami setidaknya satu gejala sindrom pramenstruasi (PMS) yang berusia sekitar 20-30 tahun. Sekitar 5 persen lainnya mengalami gejala PMS sangat parah sehingga mereka didiagnosis sebagai gangguan dysphoric pramenstruasi (PMDD), bentuk PMS yang lebih serius. Wanita dengan PMDD menemukan bahwa gangguan tersebut tidak hanya mengganggu kesehatan mereka sendiri, tetapi juga menyebabkan masalah serius dalam hubungan mereka di rumah atau bahkan di tempat kerja.

Bagi beberapa wanita, terutama mereka yang menderita PMDD, mengonsumsi obat yang tepat selama beberapa hari setiap bulan dapat mengatasi perubahan kimia yang menyebabkan perubahan suasana hati dan depresi PMS yang parah.

Ternyata kondisi PMS juga tak bisa diabaikan, pasalnya PMS juga mengindikasi kesehatan yang tak stabil pada tubuh. PMS dapat menandakan ketidakseimbangan gaya hidup, masalah reproduksi, bahkan kerap berperan sebagai alarm tanda adanya penyakit lain, seperti menurunnya daya tahan tubuh, kanker, serangan jantung, alzheimer, dan arthritis. Para peneliti menjelaskan kondisi PMS yang buruk juga memiliki kontribusi terhadap hipertensi seperti disfungsi sistem renin-angiotensin aldosteron yang mengatur keseimbangan natrium, volume darah, dan penyempitan arteri hingga hipertensi.

Baca juga:  Bagaimana Sih Siklus dan Tanda Menstruasi yang Normal?

PMS akan mungkin mempengaruhi kesehatan emosional termasuk dengan adanya kombinasi gejala secara teratur pada titik yang sama dalam periode siklus menstruasi. Kondisi yang paling sering dialami ketika PMS adalah kegelisahan, depresi, kesulitan berkonsentrasi, dan lebih cepat ​​marah. Gejala emosional lain akibat PMS seperti kehilangan minat pada aktivitas yang biasa dinikmati, perubahan suasana hati, hingga masalah tidur. PMS menurut gejalanya terdiri atas PMS tipe A, H, C, dan D, kadang-kadang seorang wanita mengalami gejala gabungan, misalnya tipe A dan D secara bersamaan.

Ilustrasi: gejala PMS pada wanita (sumber: honesdocs.id)

Ilustrasi: mood swings (sumber: honesdocs.id)

Mood swing saat menstruasi berkaitan erat dengan naik turunnya kadar hormon estrogen di sepanjang siklus menstruasi. Hormon tersebut mulai naik secara bertahap setelah menstruasi terakhir usai, kemudian mencapai puncak dua minggu setelah mendekati jadwal haid berikutnya. Kadar estrogen mulai menurun drastis sebelum kembali fluktuatif menjelang siklus baru dimulai. Proses inilah yang menyebabkan gejala PMS lainnya. Tak ada tes darah atau scan untuk mendiagnosis PMS, tetapi Anda dapat mengendalikan PMS dengan menggunakan kalender untuk mengamati siklus menstruasi Anda dan catat gejalanya. Jika gejala tersebut sering terjadi saat dua minggu sebelum atau setelah hari pertama haid, kemungkinan hal tersebut adalah PMS.

“Serangkaian gejala ini termasuk perubahan suasana hati, biasa terjadi pada fase siklus haid terakhir (luteal) yang dimulai setelah ovulasi hari ke-14 sampai 28 siklus menstruasi wanita. Begitu pendarahan haid mulai tampak, mood swings biasanya akan hilang,” tandas dr. Elita Mulyadi seperti dilansir Hellosehat.

Baca juga:  Review Neogen Bio-Peel Gauze Peeling, Produk Baru yang Nge-Hits untuk Eksfoliasi Wajah

Meskipun begitu, saat ini banyak pilihan pengobatan untuk meredam PMS mulai dari suplemen nutrisi hingga psikoterapi, yang dapat membantu mengobati gejalanya (jika bukan penyebabnya). Beberapa pengobatan bahkan memerlukan resep dari dokter. Studi lain terbaru dari University of Pennsylvania menemukan bahwa dua pertiga wanita yang diberi antidepresan melihat peningkatan 50 persen dalam gejala PMS fisik dan psikologis.

Gejala wanita yang kerap terjadi ini banyak dipengaruhi faktor risiko meliputi keturunan, masalah mental, kurang olahraga, tertekan, kurang mengonsumsi vitamin B6, kalsium dan magnesium. Lalu, bagaimana penanganan yang tepat dalam mengatasi PMS agar tak memperparah kondisi kesehatan tubuh?

Cara Mengatasi PMS

Ilustrasi: gejala PMS pada wanita

Ilustrasi: gejala PMS pada wanita

Memperhatikan Pola Makan

Pola makan nyatanya dapat mempengaruhi suasana hati yang meledak-ledak menjelang PMS. Memilih dan memilah makanan menjadi cara yang tepat, mulai dari pilihan makanan karbohidrat kompleks dan kalsium yang harus ditingkatkan. Makanan yang kaya buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian adalah bagian penting dari menjaga gejala PMS terkendali. Selain itu, menjelang PMS disarankan untuk menghindari minuman bersoda, alkohol, kafein, gula dan garam yang notabene akan memperberat gejala PMS dan meningkatkan kadar gula dalam darah. Mencukupi kebutuhan tubuh akan zat besi sebelum dan selama menstruasi bisa menurunkan kemungkinan PMS.

Baca juga:  Rekomendasi Alas Bedak (Foundation) Wardah Untuk Pemilik Kulit Wajah Kering

Mengubah Pola Hidup

Pola hidup menjadi kunci utama kesehatan tubuh saat menstruasi. Sebab dalam mengatasi PMS, mengubah pola hidup yang sehat akan meringankan rasa nyeri yang berlebihan dan suasana hati yang tak menentu. Menghindari hal-hal yang meningkatkan stres juga penting dengan melakukan beragam kegiatan positif seperti berolahraga dan yoga. Selain membuat tubuh menjadi lebih nyaman, kegiatan tersebut akan membuat suasana hati lebih tenang ketika mengalami gejala PMS.

Mempertimbangkan Penggunaan Obat

Beberapa jenis obat yang dapat dikonsumsi untuk membantu mengatasi gejala PMS yakni paracetamol. Obat ini dapat meredakan gejala nyeri PMS tentunya dengan dosis penggunaan yang tepat. Tak hanya itu, pil kontrasepsi berbasis hormon juga berperan menstabilkan hormon dalam tubuh sekaligus mengurangi gejala PMS. Anda juga dapat menggunakan antidepresan jika dibutuhkan untuk meringankan keluhan PMS.

Gejala yang populer dialami wanita ini, nyatanya juga dapat dialami pria. Hal tersebut tak hanya fenomena kultural, tetapi kondisi ini terbukti dari hampir seperempat populasi pria yang mengaku mengalaminya dalam survei di Inggris. Hormon pria juga dapat fluktuatif dengan gejala kerap mendadak murung, sedih, dan impulsif tidak seperti biasanya.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: