Perlukah Induksi Saat Persalinan Dilakukan?

induksi, persalinan, saat, melahirkan, metode, penelitian, wanita, dokter, konsultasi, di, ketuban, pecah, aman, kontraksi, kesehatan, janin, ibu, bayi, HPL, satu, minggu Ilustrasi: aktivitas rutin dalam kondisi hamil (sumber: todayparents.com)

Selama beberapa tahun, para dan bidan telah berusaha mencari cara untuk meniru fisiologi manusia, serta dorongan yang terjadi di dalam tubuh pada saat akan . Hormon sintesis dapat digunakan untuk memulai dan mempercepat persalinan.

Berbagai peralatan yang khusus untuk membentuk jalan lahir sudah mulai digunakan. Selain itu, stimulasi dari dalam diri sendiri akan memicu transmiter alami saat akan melahirkan.

Tetapi, awal melahirkan merupakan yang rumit. Salah satunya adalah soal induksi. Mengenai mana bagian yang harus diinduksi, kapan dilakukan induksi, dan bagaimana caranya. Kini, ada sebuah studi yang dikenal dengan nama ARRIVE berusaha memberikan penjelasan melalui hasil penelitiannya.

Apa Yang Dipelajari Oleh Penelitian?

Penelitian secara acak dan terkendali telah dilakukan. Penelitian itu melibatkan ribuan wanita yang dibandingkan mengenai hasil dari induksi sebelum melahirkan dengan proses melahirkan tanpa induksi.

Sebelum membahas mengenai penelitian dan hasilnya, perlu diketahui dulu apa itu induksi. Induksi adalah proses stimulasi untuk merangsang kontraksi sebelum kontraksi alami terjadi, dengan tujuan untuk mempercepat proses persalinan. Prosedur ini tidak dapat dilakukan sembarangan, karena mengandung lebih banyak risiko dibandingkan persalinan normal.

Jika setelah tanggal perkiraan kelahiran , Anda belum juga menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan dan tidak ada masalah serius, dokter biasanya akan menunggu dahulu hingga dua minggu. Namun apabila kandungan telah mencapai usia 42 minggu, perlu dipikirkan cara untuk memicu kelahiran .

Mengapa demikian? Karena setelah masa tersebut, risiko komplikasi bayi dan risiko persalinan akan makin tinggi. Mekonium atau tinja bayi jika tertelan dapat menyebabkan pernapasan atau infeksi paru-paru pada bayi. lebih dari 42 minggu juga meningkatkan risiko terjadinya kondisi gawat janin. Untuk menghindari risiko tersebut, diperlukan induksi untuk mempercepat proses persalinan.

Metode Dalam Induksi

induksi, persalinan, saat, melahirkan, metode, penelitian, wanita, dokter, konsultasi, di, ketuban, pecah, aman, kontraksi, kesehatan, janin, ibu, bayi, HPL, satu, minggu

Ilustrasi: metode membrane sweep oleh dokter (sumber: todayparents.com)

Membrane sweep

Cara ini dilakukan dokter atau bidan dengan menyapukan jari mereka di sekeliling leher rahim untuk memisahkan lapisan kantung ketuban dengan leher rahim. Saat pemisahan, terjadi pelepasan hormon prostaglandin yang berperan memicu persalinan.

Mematangkan leher rahim

Dokter akan memberikan pengobatan untuk mematangkan leher rahim, menggunakan obat berisi hormon yang bisa diberikan secara oral (diminum) atau dimasukkan ke dalam vagina. Teknik lain yang dapat digunakan, adalah dengan memasukkan kateter balon ke dalam leher rahim.

Memecahkan air ketuban

Proses ini dilakukan jika kepala bayi telah sampai pada panggul bawah dan leher rahim telah setengah terbuka. Detak jantung bayi Anda akan terus dimonitor sebelum dan sesudah prosedur.

Menggunakan obat-obatan yang diinfuskan ke pembuluh darah

Hormon sintetis yang dapat menyebabkan kontraksi rahim, yaitu oksitosin, diinfuskan ke pembuluh darah. Proses ini dilakukan jika leher rahim telah mulai menipis dan melunak. Hal ini bertujuan memicu kontraksi juga.

Setelah mengetahui secara singkat apa itu induksi dan metode-metodenya, kini kembali ke penelitian yang dilakukan ARRIVE. Semua peserta yang terlibat dalam penelitian adalah ibu hamil yang akan melahirkan anak pertamanya. Dan, masa melahirkan mereka itu adalah seminggu mendekati HPL (Hari Perkiraan Lahir).

Sebagian besar wanita tersebut, serviksnya belum benar-benar terbuka. Tidak ada metode khusus yang digunakan untuk menginduksi persalinan, hanya metode standar untuk masing-masing induksi.

Hasilnya amat menarik. Untuk bayi yang dilahirkan, jumlahnya hampir sama dari kelompok ibu yang mendapatkan induksi dan yang tidak. Bagaimanapun juga, dibanding ibu hamil yang tidak mendapat induksi, prosedur merangsang adanya kontraksi itu telah menurunkan kemungkinan bahwa bayi yang lahir membutuhkan pertolongan pernapasan. Sementara itu, untuk proses menyusui (IMD/Inisiasi Menyusui Dini), tidak ada perbedaan antara kedua kelompok (ibu yang mendapat induksi dan yang tidak).

Apakah ini berita besar? Induksi sebelum melahirkan berhubungan dengan melahirkan metode operasi. Jika digambarkan dalam angka, sekitar 19 persen untuk ibu hamil dengan induksi, sementara ibu yang melahirkan tanpa harus diinduksi adalah 22 persen.

Hal Penting Yang Harus Diketahui

induksi, persalinan, saat, melahirkan, metode, penelitian, wanita, dokter, konsultasi, di, ketuban, pecah, aman, kontraksi, kesehatan, janin, ibu, bayi, HPL, satu, minggu

Kehamilan wanita hispanic (sumber: healthline.com)

Penelitian yang dilakukan di atas melibatkan ibu hamil berusia muda, berkulit gelap atau keturunan etnis Hispanik, dan memiliki asuransi untuk kelahiran. Mungkin saja hasil penelitian yang dilakukan oleh ARRIVE ini tidak bisa sama hasilnya jika dilakukan pada wanita yang ada di seluruh dunia.

Dari seluruh partisipan yang ditunjuk, hanya sekitar sepertiga saja yang bersedia menjadi partisipan penelitian. Hal itu menunjukkan bahwa mungkin para wanita tidak ingin mendapatkan induksi sebelum mereka melahirkan.

Sementara, kesempatan mendapatkan prosedur operasi caesar lebih rendah pada pasien yang diinduksi, persalinan berlangsung lebih lama daripada wanita yang tidak mendapatkan induksi.

Dokter terkadang merekomendasikan untuk dilakukan induksi sebelum melahirkan untuk keselamatan sang bayi, ibu, atau keduanya. Penyakit hipertensi, termasuk tekanan darah tinggi dan preeklamsia adalah kondisi berbahaya yang mewajibkan dilakukan persalinan sesegera mungkin. Jika tidak segera dilakukan persalinan, seiring waktu, kesehatan plasenta yang menyalurkan nutrisi bagi bayi bisa menyebabkan kurangnya pertumbuhan janin dan cairan ketuban bisa segera pecah.

Ketika masalah seperti ketuban pecah terjadi, maka persalinan harus disegerakan. Kondisi lain seperti ibu penderita diabetes yang membutuhkan insulin merupakan salah satu alasan diharuskan persalinan sesegera mungkin. Dan, hasil penelitian yang dilakukan ARRIVE secara tidak langsung menunjukkan bahwa induksi ternyata lebih aman daripada menunggu kontraksi terjadi.

Haruskah Wanita Memilih Untuk Diinduksi Sebelum Melahirkan?

Jadi, haruskah seorang wanita memilih untuk diinduksi sebelum proses melahirkan? Jawabannya mungkin iya, mungkin juga tidak. Apabila seorang wanita hamil anak pertamanya dan berada pada masa satu minggu sebelum melahirkan, mungkin saja wanita itu akan mendapatkan induksi.

Bagaimanapun juga, keuntungan menjadi kurang jelas jika karakteristik wanita hamil berbeda dari partisipan dalam penelitian yang dilakukan ARRIVE. Oleh karena itu, wanita yang akan melahirkan lebih baik berdiskusi dahulu dengan dokter.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: