Perdebatan Mengenai Siapa Yang Lebih Percaya Diri, Pria atau Wanita?

Pria dan Wanita - (Sumber: playbuzz.com)

Beberapa pendapat mengatakan bahwa pria dikenal lebih percaya diri dibanding wanita. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya hormon testosteron yang ada dalam tubuh pria. Setelah berusia 30 tahun ke atas, kadar hormon ini akan berkurang sekitar satu persen setiap tahunnya. Sementara itu, pada laki-laki berusia lebih dari 65 tahun, kadar hormonnya berkisar antara 300-450 ng/dL.

Sebuah penelitian  mengungkapkan bahwa hormon testosteron mempengaruhi kepercayaan diri laki-laki dalam menarik perhatian kaum wanita. Temuan dari studi penelitian terbaru di Wayne State University memberikan pemahaman mengenai hubungan tersebut.

Pria dan Wanita - (Sumber: playbuzz.com)

Pria dan Wanita – (Sumber: playbuzz.com)

Studi ini meneliti perilaku laki-laki selama tujuh menit yang direkam untuk memperhatikan perilaku pria dalam tujuannya menarik perhatian wanita. Menurut Richard Slatcher, Ph.D., asisten profesor psikologi di College WSU dari Liberal Seni dan Ilmu Pengetahuan dan penduduk Birmingham, Mich, efek testosteron pada perilaku dominasi, jelas terlihat diantara laki-laki sehingga memiliki kebutuhan tinggi untuk dominasi sosial. Ia menemukan bahwa kadar testosteron mempengaruhi dominasi laki-laki termasuk seberapa sering ia merasa tersaingi dengan pesaing mereka dan berapa banyak wanita yang klop dengan mereka.

Tetapi, apakah benar pria lebih percaya diri dibanding kaum wanita? Menurut sebuah penelitian yang dipresentasikan di American Sociological Association menemukan bahwa wanita yang menekuni profesi yang didominasi pria memiliki kadar kortisol lebih tinggi.

Baca juga:  Area Genital dan Selangkangan Menghitam, Normalkah?

Kortisol merupakan hormon yang diproduksi saat pikiran dan tubuh mengalami stres. Dalam studi tersebut menjelaskan bahwa siapapun, baik pria ataupun wanita dapat mengalami stres di tempat kerja karena adanya dominasi gender.

Para peneliti dari Indiana University menghelat eksperimen. Mereka menempatkan seorang pria dengan wanita dan pria lainnya yang ramai membicarakan topik mengenai isu wanita.

Pria Bersama Wanita - (Sumber: dadsteachthebible.blogspot.com)

Pria Bersama Wanita – (Sumber: dadsteachthebible.blogspot.com)

Sementara itu,  wanita di tempatkan dengan orang-orang yang banyak membicarakan topik yang maskulin. Dalam proses tersebut peneliti mencatat tingkat stres hormon kortisol untuk melihat kecemasan mereka. Peneliti menemukan bahwa semua orang memproduksi kortisol secara berlebih ketika mereka berada dalam kelompok yang menempatkan mereka sebagai minoritas.

Di tempat kerja, biasanya ada program pelatihan pengembangan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan karyawan dalam komunikasi dan kemampuan teknis. Menurut laporan World Bank, the Haas School of Business at the University of California, Berkeley, the Universidad National de La Plata in Argentina and the Inter-American Development Bank, menunjukkan bahwa program pelatihan justru mengungkapkan fakta baru. Dari hasil penelitian, karyawan wanita jauh lebih percaya diri dalam berkompetisi di dunia kerja ketimbang karyawan pria.

Peneliti mempelajari 72.500 responden dalam sebuah program pengembangan bernama Youth and Employment Program sepanjang 2002 and 2013. Presentase responden terdiri dari 57 persen wanita dan 43 persen pria, seperti yang dilaporkan oleh National Bureau of Economic Research. Seluruh responden diminta untuk menjalani dua program. Pertama, pelatihan penjuruan yang menggabungkan kemampuan non-akademis dengan kemampuan teknis ringan. Kedua, pelatihan teknis ringan tanpa penjuruan. Peneliti mempelajari efek dari program pengembangan selama 12 hingga 36 bulan ke depan.

Baca juga:  5 Nasehat untuk Wanita Sholehah dalam Kehidupan Dunia

Hasilnya, terdapat perbedaan jelas antara rasa percaya diri karyawan wanita dan pria. Karyawan wanita yang telah menyelesaikan program pengembangan mendapatkan gaji dan kepuasan kerja lebih tinggi selama 12 bulan. Sementara itu, karyawan pria sama sekali tidak memperlihatkan pengembangan apapun. Lalu, karyawan pria yang berpartisipasi pada pengembangan penjuruan justru memperlihatkan dampak negatif. Peneliti mengatakan bahwa karyawan pria sama sekali tidak memperlihatkan peningkatan kemampuan, tetapi program pengembangan membuat mereka terbebani karena merasa mendapatkan ekspektasi yang tidak realistis.

Selain itu, peneliti juga melihat bahwa karyawan pria cenderung tidak berhati-hati dalam mengambil pekerjaan baru, rasa percaya diri menurun, dan mengharapkan gaji yang lebih rendah. Sebaliknya, karyawan wanita justru mengalami peningkatan ekspektasi dan positif pada peluang kerja di masa depan. Peneliti melihat karyawan wanita lebih sukses setelah tiga tahun usai program pengembangan usai, tetapi karyawan pria justru mengalami banyak hambatan karena kurang percaya diri.

Baca juga:  Simak Ciri-ciri Orang Mau Positif Hamil Berikut!

Hasil yang berbeda di dapatkan dari sebuah penelitian yang menyimpulkan, saat mengejar pekerjaan di bidang IPTEK, tingkat kepercayaan diri anak perempuan lebih rendah dibanding anak laki-laki. Meskipun nilai di sekolah para wanita lebih bagus dibanding laki-laki, rasa kepercayaan diri tetap rendah. Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mempelajari mengapa keberhasilan akademis anak perempuan tidak menghasilkan keuntungan ekonomi dalam pekerjaan. Hal ini dikarenakan bahwa pilihan karier menjelaskan mengapa perempuan di negara-negara maju memiliki penghasilan rata-rata 15% lebih sedikit daripada pria.

Penelitian yang menggunakan data dari tes internasional Pisa di lebih dari 60 negara pada tahun 2012, menanyakan mengapa keberhasilan anak perempuan dalam pendidikan tidak diikuti dengan keunggulan yang sama di bursa tenaga kerja. Seorang peneliti, Andreas Schleicher berpendapat, masalah bukan terdapat pada laki-laki dan perempuan melakukan pekerjaan yang sama untuk upah yang berbeda, tetapi tentang pria dan wanita mengejar karier yang berbeda.

Secara khusus, ia mengatakan perempuan masih “sangat kurang terwakili” dalam pekerjaan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, teknik dan matematika, yang dapat menjadi salah satu karier produktif tertinggi. Hasil penelitian juga menemukan bahwa orang tua mungkin lebih mungkin mendesak anak laki-laki untuk berkarier di bidang sains dan teknologi.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: