Perbedaan Usus Bayi yang Lahir Normal dan Operasi Caesar

Ilustrasi: perbedaan usus bayi normal & caesar Ilustrasi: perbedaan usus bayi normal & caesar

Bagaimana cara bayi dilahirkan ternyata memainkan peran penting dalam perkembangan susunan bakteri di dalam usus yang dapat mempengaruhi kesehatan pencernaan dan pernapasan mereka, terutama selama tahun pertama kehidupan bayi.

Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian terhadap 120 bayi di Eropa, mengungkapkan bahwa anak-anak yang dilahirkan melalui operasi caesar memiliki keterlambatan dalam perkembangan susunan mikrobioma usus – kumpulan mikroorganisme kompleks yang hidup di saluran pencernaan – dan lebih banyak mempunyai bakteri yang berpotensi berbahaya, dibandingkan dengan bayi yang lahir secara normal. Perbedaan susunan mikrobioma ini pula yang diduga membuat bayi yang lahir dengan jalan operasi caesar lebih rentan mengalami infeksi pencernaan dan pernapasan. 

Marta Reyman, dokter dari Rumah Sakit Anak Wilhelmina di Utrecht, Belanda, yang turut berpartisipasi dalam penelitian ini mengatakan, “Dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan secara normal, anak-anak yang lahir dengan bedah caesar memiliki lintasan yang berbeda dari kolonisasi bakteri, yang dapat berimplikasi pada kesehatan pernapasan di masa depan,” katanya. 

Ada lebih dari 1.000 jenis bakteri hidup di usus, masing-masing mempunyai peran penting dalam kesehatan kita, misalnya membantu mencerna makanan, merangsang pengembangan sistem kekebalan tubuh, dan melindungi tubuh dari infeksi. Dan gangguan perkembangan normal mikrobioma usus telah dikaitkan dengan berbagai penyakit termasuk penyakit usus, asma, alergi, dan kanker.

Namun setelah lahir, bayi perlahan-lahan membangun sistem kekebalan tubuh mereka sampai keadaan yang relatif stabil tercapai. Sehingga perbedaan susunan mikrobioma usus pada bayi yang lahir dengan cara normal dan bayi yang lahir melalui operasi caesar akan berkurang seiring bertambahnya usia mereka.

Bayi lahir caesar juga umumnya memiliki kekebalan atau imunitas tubuhnya lebih rendah dibandingkan dengan bayi lahir normal. Untuk meningkatkan imunitasnya, mereka harus diberi air susu ibu yang mengandung probiotik. 

Penelitian menunjukkan, bayi lahir caesar butuh waktu enam bulan untuk mencapai mikrobiota usus yang serupa dengan bayi lahir normal sehingga bayi caesar memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai jenis penyakit. Demikian dipaparkan Prof Patricia Conway dari Universitas New South Wales, Australia.

Ilustrasi: bayi lahir caesar (sumber: popmama.com)

Ilustrasi: bayi lahir caesar (sumber: popmama.com)

Saluran pencernaan penting artinya bagi kesehatan tubuh manusia. Fungsi utamanya adalah mencerna dan menyerap zat gizi agar kebutuhan tubuh dapat terpenuhi. Pada saluran cerna yang sehat, mukosa usus mampu menyerap mikronutrien penting dan menolak toksin serta patogen. Dua per tiga sistem kekebalan tubuh berada di saluran pencernaan ini. 

Saluran cerna yang sehat banyak didominasi oleh koloni bakteri baik – lazim disebut probiotik. Agar berfungsi optimal, probiotik harus dikonsumsi dalam keadaan hidup dan tetap hidup mencapai saluran usus dalam jumlah yang mencukupi. 

Saat lahir, bayi meninggalkan kandungan ibu atau lingkungan yang nyaris bebas kuman dan memasuki dunia luar yang serba terkontaminasi sehingga butuh daya tahan cukup untuk mencegah timbulnya penyakit infeksi mikroorganisme. ”Jadi terkait dengan hal itu, metode persalinan menentukan jenis mikrobiota yang nantinya akan menghuni usus anak, dan selanjutnya akan berdampak pada daya tahan tubuhnya,” kata Patricia Conway. 

Metode persalinan umum adalah persalinan normal (melalui jalan lahir ibu) dan bedah caesar. Beberapa tahun terakhir, jumlah ibu yang memilih melahirkan caesar meningkat. Di Amerika Serikat, angka kelahiran caesar meningkat lebih dari 40 persen, di Eropa 30 persen, di Amerika Latin dan sebagian negara Asia mencapai 50 persen sejak 1996.

”Padahal angka kesakitan bedah caesar lebih tinggi dibanding melahirkan normal, yakni 27 dari 1.000 persalinan, sedangkan melahirkan normal hanya 9 dari 1.000 persalinan,” ujar ginekolog dari Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Andon Hestiantoro. 

Saat baru lahir, saluran cerna bayi lahir normal nyaris steril, bebas kuman. Pada proses persalinan normal, bakteri dari ibu dan lingkungan sekitar membentuk kolonisasi pada saluran cerna anak. Pada persalinan normal, bayi berpindah dari rahim yang nyaris steril ke lingkungan luar melalui proses yang lama yang melibatkan kontraksi berjam-jam. 

Sebagai imbasnya, bayi kontak secara alami dengan mikroflora normal ibu dan kemudian mikrobiota itu berkoloni di ususnya. Mikrobiota yang memegang peran utama mengaktifkan sistem kekebalan adalah kelompok Bifidobacteria dan Lactobacilli. Sebaliknya, pada bayi caesar, proses persalinan dilakukan di ruang steril. 

Ilustrasi: bayi yang lahir normal

Ilustrasi: bayi yang lahir normal

Bayi diambil langsung dari rahim ibu tanpa kontak dengan area rektum dan vagina ibu, jadi tidak ada kesempatan kontak dengan mikrobiota normal di jalan lahir. Selain itu, untuk menghindari pascaoperasi, ibu biasanya diberi antibiotik yang disalurkan ke bayinya melalui placenta. Akibatnya, kolonisasi bakteri yang menguntungkan di saluran cerna terhambat. Akibatnya, proses penguatan pada saluran cerna dan imunitas bayi pun terhambat. “Jadi, agar tidak terkena infeksi dan penyakit alergi, bayi caesar harus mendapatkan ASI yang mengandung probiotik untuk meningkatkan imunitasnya,” tutur Patricia Conway. 

Bagaimana perbedaan dalam kolonisasi bakteri ini mempengaruhi kesehatan bayi dan risiko penyakit? Sebuah studi besar dari Denmark meneliti perkembangan penyakit kekebalan kronis selama rentang 30 tahun pada lebih dari dua juta anak yang lahir, baik melalui operasi caesar atau melalui persalinan pervaginam, menggunakan database National Registry. Ada perbedaan mencolok dalam perkembangan alergi, artritis remaja, dan defisiensi imun selama lima tahun pertama kehidupan pada anak-anak yang lahir melalui operasi caesar dibandingkan dengan persalinan pervaginam.

Studi ini mengonfirmasi meta-analisis dari studi yang lebih kecil di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa kelahiran sesar adalah faktor risiko untuk pengembangan alergi dan penyakit autoimun. Persalinan sesar telah meningkat dari 5% pada tahun 1970 menjadi 25% pada tahun 2010 di AS, sementara pada saat yang sama kejadian penyakit autoimun telah meningkat di masyarakat Barat selama beberapa dekade terakhir, dan mungkin ada korelasi.

Peneliti mempelajari bahwa perubahan besar dalam kolonisasi usus terjadi setelah seksio sesarea elektif (yang dilakukan untuk kenyamanan pasien atau dokter), dan bukan pada seksio sesarea yang terindikasi secara medis (karena kegagalan persalinan atau tekanan lain pada bayi baru lahir). Seorang ibu hamil harus mempertimbangkan memilih untuk melakukan operasi caesar jika persalinan pervaginam merupakan alternatif yang tersedia dan aman secara medis.

Bagaimana orang tua baru dapat mengelola kolonisasi yang berubah setelah seksio sesarea elektif untuk mendukung mikrobioma bayi mereka yang baru lahir? Kolonisasi dipengaruhi oleh diet (ASI vs susu formula) dan menyapih makanan padat. Ibu harus sangat mempertimbangkan menyusui, karena menyusui membantu membangun kolonisasi alami.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: