Sama-sama Obat Jamur Kulit, Apa Perbedaan Nizoral dan Mycoral?

Ilustrasi: gatal di kulit akibat jamur (sumber: livescience.com)

Penyakit kulit yang diakibatkan oleh jamur biasanya sering diatasi dengan penggunaan obat-obatan anti-jamur seperti Nizoral dan Mycoral. Baik Nizoral dan Mycoral merupakan obat keras yang dosis penggunaannya memerlukan resep dokter. Namanya sepintas sama, oleh sebab itu banyak orang yang penasaran apa perbedaan antara kedua merek dagang tersebut.

Ketokonazol (Mycoral, Nizoral), diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna meskipun tidak sempurna, 85-92% obat terikat oleh plasma protein, dengan waktu paro ± 3 jam. Ketokonazoldigunakan secara oral untuk pengobatan mikosis sistemik dan mukokutan. Obat ini kurang efektif terhadap aspergilosis dan sporotrichosis.

Ketokonazol juga aktif pada penggunaan setempat untuk pengobatan dermatomikosis, infeksi tinea, dan kandidiasis kutan. Efek samping yang ditimbulkan antara lain mual dan kemungkinan menyebabkan hepatotoksik. Dosis oral: 200 mg 1-2 dd, sebelum makan. Dosis setempat: larutan atau krim 2% 2 dd, 2-4 minggu.[1] Lantas, apa sebenarnya perbedaan Nizoral dan Mycoral? Berikut ulasan lengkapnya.

Tentang Nizoral

Dilansir dari Klikdokter, Nizoral adalah obat produksi Taisho Pharmaceutical yang mengandung ketoconazole, termasuk golongan anti-jamur azole. Nizoral bekerja dengan menghentikan pertumbuhan jamur. Ketokonazole memiliki aktivitas anti jamur yang luas terhadap jamur jenis Tricophyton Sp, Epidermophytonfloccosum, Pityrosporum Sp, dan Candida Sp.

Baca juga:  Manfaat dan Cara Berolahraga Menggunakan Foam Roller

Nizoral digunakan untuk membantu mengobati infeksi jamur pada kulit, rambut, kuku tangan, infeksi jamur pada saluran pencernaan, infeksi jamur pada daerah vagina dan pencegahan infeksi jamur pada pasien yang mengonsumsi obat dengan risiko infeksi jamur.

Nizoral hadir dalam beberapa sediaan, yakni tablet dengan kandungan Ketoconazole 200 mg, berwujud cream yang mengandung Ketoconazole 20 mg per 1 gram, serta sediaan shampoo (Nizoral SS Scalp Solution)dengan kandungan Ketoconazole 1% dan 2%.

Nizoral tablet & salep

Nizoral tablet & salep

Dosis & Cara Penggunaan Nizoral

  • Nizoral Tablet: Dewasa bisa minum dengan dosis 200 mg per hari. Dosis ini bisa ditingkatkan oleh dokter hingga 400 mg apabila dibutuhkan. Sedangkan untuk anak-anak dosisnya 3 mg/kg bb/hari dosis tunggal atau dalam dosis terbagi.
  • Nizoral Krim digunakan dengan cara dioleskan tipis-tipis pada daerah yang terkena infeksi jamur 1 kali sehari.
  • NizoralShampo digunakan untuk keramas, 1 kali sehari, selama maksimal 5 hari.

Tentang Mycoral

Mycoral adalah obat dengan kandungan Ketoconazole yang berfungsi sebagai obat antijamur yang digunakan pada infeksi tertentu. Obat keras produksi Kalbe Farmaini memilki mekanisme kerja menghambat sintesis ergosterol yang merupakan komponen vital dalam membran sel jamur sehingga mempengaruhi permeabilitas sel. Mycoral tersedia dalam bentuk sediaan tablet dengan kandungan Ketoconazole 200 mg dan krim dengan kandungan Ketoconazole 2%.

Baca juga:  Diklaim Kaya Nutrisi, Dancow Fortigro untuk Usia Berapa?

Dosis & Cara Pemakaian Mycoral

  • Mycoral krim: Oleskan 1 – 2 kali sehari, tergantung beratnya infeksi. Pengobatan harus diteruskan sedikitnya sampai beberapa hari sejak hilangnya semua gejala. Lama pengobatan untuk tinea versikolor biasanya 2-3 minggu, tinea korporis 3-4 minggu, tinea pedis 4-6 minggu.
  • Mycoral tablet: Dewasa infeksi kulit sebanyak 1 tablet (200 mg) sekali sehari pada waktu makan. Apabila tidak ada reaksi dengan dosis ini, dosis ditingkatkan menjadi 2 tablet (400 mg sehari). Tidak boleh digunakan untuk anak di bawah umur 2 tahun. Anak dengan berat badan 15 – 20 kg bisa diberikan dosis 100 mg sekali sehari pada waktu makan.
Mycoral tablet & salep

Mycoral tablet & salep

Perbedaan Nizoral dan Mycoral

Menurut dr. Nadia NurotulFuadah dari Alodokter, baik krim Mycoral maupun Nizoral sama-sama mengandung ketoconazole. “Krim Mycoral dan Nizoral keduanya sama-sama merupakan krim yang mengandung zat aktif anti-jamur, yakni ketokonazole. Hanya saja, kandungan dosis pada kedua krim ini berbeda,” jelas dr Nadia.

Baca juga:  Manfaat Daun Puring dan Cara Merawatnya

Kedua krim Mycoral dan Nizoral digunakan untuk mengatasi gatal di kulit akibat infeksi jamur, seperti tinea korporis, tinea kruris, tinea manus dan pedis, tinea versikolor, kandidiasis kulit, dermatitis seboroik, dan sebagainya. “Kedua krim ini bukanlah tergolong sebagai obat bebas yang bisa digunakan sembarangan tanpa resep dokter. Hal ini dikarenakan, gatal pada kulit tidak selalu disebabkan oleh jamur,” imbuh dr Nadia.

“Jika penyebab gatal yang Anda alami bukanlah infeksi jamur, maka penggunaan krim Mycoral ataupun Nizoral tentu tidak akan berefek signifikan. Sebaiknya, Anda periksakan dulu keluhan Anda ke dokter. Jika sudah dipastikan gatal yang Anda alami disebabkan oleh jamur yang sensitif terhadap ketokonazole, barulah krim tersebut aman digunakan. Namun, jika berbeda penyebabnya, maka akan berbeda pula penanganannya,” tandas dr Nadia.

[1]Siswandono. 2016. Kimia Medisinal 2 Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press, hlm 82.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: