Sama-sama Obat Antijamur, Apa Perbedaan Ketoconazole dan Griseofulvin?

Ilustrasi: mengoleskan salep (sumber: netdoctor.co.uk)Ilustrasi: mengoleskan salep (sumber: netdoctor.co.uk)

Infeksi jamur bisa menyerang kulit siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Di pasaran sendiri sudah tersedia banyak obat antijamur yang kerap diresepkan oleh dokter, beberapa yang populer adalah Ketoconazole dan Griseofulvin. Lantaran sama-sama berfungsi sebagai obat anti-jamur, banyak orang yang bingung dengan perbedaan antara Ketoconazole dan Griseofulvin. Agar lebih paham, simak ulasannya berikut ini!

Tentang Griseofulvin

Pengobatan sistemik pada umumnya menggunakan griseofulvin. Griseofulvin adalah suatu antibiotik fungisidal yang dibuat dari biakan spesies penisilium. Obat ini sangat manjur terhadap segala jamur dermatofitosis. Griseofulvin lebih cepat oleh saluran pencernaan apabila diberi bersama-sama dengan makanan yang banyak mengandung lemak, tetapi absorbsi total sesudah 24 jam adalah tetap dan tidak dipengaruhi apakah griseofulvin diminum bersamaan waktu makan atau di antara waktu makan.

Umumnya, dosis griseofulvin adalah 10-20 mg/kg berat badan. Untuk anak dengan berat badan yang lebih dari 25 kg dapat diberikan antara 125-250 mg per hari. Dosis rata-rata orang dewasa adalah 500 mg per hari. Pemberian pengobatan dilakukan 4 kali sehari, 2 kali sehari, atau 1 kali sehari.[1]

Baca juga:  Hal Yang Perlu & Tidak Perlu Dilakukan Ketika Memakai Minyak Esensial

Griseofulvin efektif untuk mengobati infeksi kulit dan kuku yang menahun, meskipun penyembuhannya berlangsung sangat lambat, yakni lebih kurang 2-3 bulan, bahkan membutuhkan satu tahun untuk menyembuhkan infeksi kuku. Hal ini disebabkan waktu penyembuhan tergantung pada jangka waktu penggantian jaringan yang terinfeksi oleh jaringan baru.

Efek sampingnya ringan, jarang terjadi dan berupa sakit kepala, gatal-gatal (urtikaria) dan kepekaan terhadap cahaya (fotosensitisasi), juga gangguan hati. Griseofulvin mengurangi aktivitas antikoagulansia (Warfarn) dan memperkuat daya kerja alkohol. Tidak boleh diberikan pada wanita hamil, karena risiko efek teratogen dan keguguran. Zat ini dapat mengganggu pembentukan kromosom pada waktu pembelahan sel.[2]

Obat antijamur Ketoconazole dan Griseofulvin

Obat antijamur Ketoconazole dan Griseofulvin

Tentang Ketoconazole

Ketoconazole yang juga termasuk antijamur golongan azole tersedia dalam bentuk tablet dengan dosis 200-400 mg dikonsumsi 1 atau 2x/hari sesudah makan, selama 2 minggu. Ketoconazole jarang digunakan karena sifat toksisitasnya.

Indikasi Ketoconazole: pengobatan infeksi jamur kulit dan infeksi jamur sistemik (blastomycis, histoplasmosis, paracoccidioidomycosis, coccidioidomycosis, dan chromomycosis). Penggunaannya umum digunakan untuk infeksi tinea versicolor.[3] Karena banyaknya pengobatan lain yang lebih efektif, Ketoconazole bukan pilihan utama dari pengobatan infeksi jamur dan hanya pilihan alternatif jika pengobatan utama tidak ada atau tidak dapat digunakan.

Baca juga:  Waspadai Tanda Infertilitas Sekunder, Ini Cara Mengatasinya

Kontraindikasi obat ini: pasien dengan penyakit liver akut atau kronis, hipersensitivitas terhadap Ketoconazole, serta ibu yang sedang hamil. Efek samping: nausea (mual), muntah, pruritus, kerusakan hati, dan ruam. Ketoconazole dapat berinteraksi dengan antikoagulan, terfenadine, dan astemizole. Pada dasarnya penggunaan obat antijamur sistemik lebih banyak untuk kasus yang berat dan meluas dan tidak merespons obat topikal yang telah digunakan selama 7 hari, atau pada pasien dengan kondisi immunocompromised.[4]

Perbedaan Ketoconazole dan Griseofulvin

Dilansir dari Alodokter, Ketoconazole digunakan untuk mengobati infeksi jamur di kulit, seperti panu, kurap, kutu air, kandidiasis, dermatitis seboroik, dan ketombe yang berkaitan dengan jamur.  Ketoconazole tersedia dalam bentuk krim, tablet, dan sampo.

Ketoconazole bekerja dengan cara menghambat pembentukan ergosterol dan enzim tertentu yang dibutuhkan jamur untuk tumbuh dan bertahan hidup. Dengan begitu, obat ini dapat membunuh jamur sekaligus mencegahnya bertambah banyak.

Baca juga:  LEBIH PRAKTIS, SEGINI HARGA MESIN PENCABUT BULU UNGGAS

Sedangkan Griseofulvin adalah obat untuk mengatasi infeksi jamur di kulit kepala, selangkangan atau lipat paha, kaki, maupun kuku.Griseofulvin juga termasuk dalam golongan obat antijamur. Griseofulvin bekerja dengan cara mengendap di sel keratin yang ada di permukaan kulit, sehingga mencegah sel jamur untuk berkembang biak dan menyerang kulit.

Obat antijamur seperti Ketoconazole dan Griseofulvin tergolong obat keras yang tak boleh dikonsumsi secara sembarangan. Sebaiknya ikuti petunjuk/resep dari dokter untuk mengetahui dosis dan durasi penggunaan obat yang tepat guna meminimalkan efek samping yang ditimbulkan sekaligus mempercepat proses penyembuhan.

[1] Siregar, RS. 2004. Penyakit Jamur Kulit. Jakarta: EGC, hlm 43.

[2] Tjay, TH & Kirana R. 2007. Obat-obat Penting: Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya. Jakarta: Elex Media Komputindo, hlm 102.

[3] Wahyuni, IS dkk. 2021. Infeksi Jamur Rongga Mulut. Pekalongan: Penerbit NEM, hlm 53.

[4] Ibid., hlm 54.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: