Hindari Diabetes, Ini Beda Gula Alami dan Tambahan

Gula (sumber: klikdokter) Gula (sumber: klikdokter)

Saat Anda memilih makanan dan minuman di supermarket, seringkali terdapat tulisan gula tambahan pada bagian belakang kemasan produk. Hal ini tak jarang membuat bingung, terutama ketika ingin membeli produk yang sudah memiliki cita rasa manis dan mengandung gula, seperti sirup, minuman bersoda, dan permen. Lalu, apa perbedaan gula alami dan gula tambahan?

Efek Samping Gula Tambahan

Dilansir dari Harvard Health Publishing, studi penelitian selama 30 tahun terakhir menunjukkan bahwa konsumsi tinggi gula tambahan, terutama dari minuman manis, berkontribusi terhadap obesitas, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2. Data terbaru pada tahun 2018 dari CDC menunjukkan bahwa 42,7% orang dewasa AS mengalami obesitas (didefinisikan sebagai indeks massa tubuh 30 kg/m2 atau lebih besar).

Masih dari sumber yang sama, obesitas pada masa kanak-kanak merupakan masalah serius di AS, dengan prevalensi obesitas sebesar 19,3% dan memengaruhi sekitar 14,4 juta anak-anak dan remaja usia 2 hingga 19 tahun. Satu dari dua orang dewasa AS menderita diabetes atau pradiabetes, dan sekitar 50% orang dewasa menderita diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Permasalahan tersebut tidak hanya ada di AS, tetapi juga Indonesia. Diketahui, selain obesitas, gula tambahan sangat berkontribusi terhadap penyakit diabetes mellitus di dalam negeri sejak tahun 2015.[1]

Baca juga:  Bahaya Produk Olahan Susu Berkadar Lemak Tinggi

Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolisme yang diakibatkan adanya peningkatan kadar gula darah di atas nilai normal. Untuk itu, disarankan Anda selalu mengecek apa yang Anda konsumsi. Selalu perhatikan label gizi setiap makanan atau minuman, termasuk gula tambahan dan gula alaminya.

Gula tambahan (sumber: eatthis.com)

Gula tambahan (sumber: eatthis.com)

Apa Beda Gula Alami dan Tambahan?

Ada dua jenis bahan pemanis yang harus Anda ketahui saat berbelanja makanan dan minuman, yakni gula tambahan dan gula alami. Gula alami merupakan pemanis alami yang sudah ada pada bahan makanan. Dalam susu, Anda mengenalnya sebagai laktosa dan dalam buah, gula alami lebih dikenal dengan nama fruktosa. Hampir semua makanan dan minuman, termasuk bahan olahan, seperti yogurt, krim, buah kering, dan buah beku, mengandung gula alami.

Sementara itu, gula tambahan merupakan pemanis yang ditambahkan produsen ke makanan dan produk lainnya sebagai penambah rasa dan bahan pengawet alami. Dalam Standard American Diet (SAD), gula tambahan paling umum terdapat pada soda, minuman buah, sereal, kue, permen, dan berbagai macam makanan olahan. Tak hanya itu, gula tambahan sangat umum ditemukan pada kopi sachet, snack, cookies, brownies, pie, es krim, donat, dan pastry.

Baca juga:  Alternatif Pengganti Nasi, Begini Cara Memasak Beras Sorgum

Biasanya, gula tambahan tidak hanya berbentuk glukosa, tetapi ada juga yang berbentuk pemanis. Tentunya, pemanis yang dipakai adalah bahan yang aman. Ciri dari bahan makanan atau minuman yang mengandung gula tambahan berupa pemanis buatan adalah menyisakan rasa pahit di lidah dan tenggorokan. Sementara itu, gula tambahan dalam bentuk alami adalah gula putih, gula merah, gula batu, madu, dan sirup jagung dengan fruktosa tinggi.

Gula tambahan & gula alami

Gula tambahan & gula alami

Tips Mengurangi Gula Tambahan

Karena ada banyak macam gula dalam satu produk, Anda disarankan untuk mengurangi jumlah gula tambahan yang dikonsumsi. Pasalnya, sebagian besar produk dalam kemasan umumnya sudah mengandung gula alami. Seperti yang kita ketahui, terlalu banyak mengonsumsi gula bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis.

American Heart Association (AHA) telah merekomendasikan agar Anda mengurangi jumlah gula yang dikonsumsi, sebaiknya tidak lebih dari enam sendok teh atau sekitar 24 gr sehari untuk wanita. Sementara itu, untuk pria, tidak disarankan mengonsumsi gula lebih dari sembilan sendok teh atau 36 gr per hari.

Baca juga:  Update Cara Mengawetkan Sambal Supaya Tidak Mudah Berjamur

Selain menggunakan takaran dari AHA, Anda perlu mengurangi berbagai produk makanan atau minuman yang mengandung gula tambahan. Lebih baik Anda mengonsumsi makanan atau minuman yang diolah sendiri dan tidak menambahkan banyak gula. Jika Anda merasa hal ini kurang efektif, mungkin Anda bisa beralih mengonsumsi gula diet. Ganti produk gula alami Anda dengan gula diet dan kurangi makanan serta minuman yang manis.

Jangan lupa untuk memeriksakan kadar gula darah Anda secara rutin untuk mengetahui apakah Anda harus melakukan diet gula secara ketat atau tidak. Dilansir dari ALODOKTER, orang dewasa memiliki gula darah normal antara 70-100 mg/dl sebelum dan setelah makan. Kadar gula darah ini bisa naik hingga 140 mg/dl sebelum tidur atau dua jam setelah makan dan ini masih terbilang normal. Kadar gula darah dikatakan berlebihan jika di atas 200 mg/dl dengan catatan pemeriksaan gula darah sewaktu-waktu.

[1] Sriningsih, Atik. 2021. Hubungan Gaya Hidup dengan Gula Darah pada Lansia Penderita Diabetes Mellitus di Desa Rejoagung Kecamatan Semboro Kabupaten Jember (Skripsi). Program Studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*