Pengidap Kanker Payudara Tahap Awal Tak Harus Jalani Kemoterapi, Benarkah?

Pengidap, kanker, payudara, kemoterapi, kesehatan, pemicu, hormon, risiko, sel, tubuh, wanita, studi, peneliti, ahli, penelitian, pengobatan, operasi, efek, uji, genetik, onkologis, fisik, emosi, Para pasien kanker payudara (sumber: health.com)

Mayoritas pengidap stadium awal mungkin dapat mengabaikan kemoterapi, tergantung pada hasil tes gen yang komprehensif. Menurut studi baru yang dilakukan pada hampir 7.000 wanita, ditemukan fakta bahwa penggunaan tes genetik Oncotype DX dapat menentukan apakah para wanita tersebut membutuhkan kemoterapi atau tidak.

Dalam studi baru yang didanai oleh U.S. National Cancer Institute, the Breast Cancer Research Foundation, the Komen Foundation, dan the U.S. Postal Service Breast Cancer Stamp tersebut diketahui bahwa para wanita memiliki jenis tumor payudara spesifik yang dikenal sebagai ‘reseptor hormon-positif, HER2-negatif, dan nodus-negatif’.

Para peneliti beserta ahli mengatakan, temuan tersebut bisa menjadi game-changer dalam kanker payudara. “Setengah dari semua kanker payudara adalah reseptor hormon-positif, HER2-negatif, dan nodus-negatif,” kata penulis studi Dr. Joseph Sparano, yang membantu klinis langsung di Pusat Kanker Albert Einstein di New York City.

“Studi kami menunjukkan bahwa kemoterapi dapat dihindari pada sekitar 70 persen dari wanita ini ketika penggunaannya dipandu oleh tes, sehingga membatasi kemoterapi hingga 30 persen yang dapat kita prediksi akan mendapat manfaat darinya,” kata Sparano dalam rilis berita dari American Society of Clinical Oncology (ASCO).

Tim Sparano dijadwalkan untuk mempresentasikan temuan penelitian pada pertemuan tahunan ASCO, di Chicago, dan penelitian ini juga diterbitkan secara bersamaan di New England Journal of Medicine.

Seorang onkologis setuju bahwa temuan ini bisa mengubah perawatan. “Banyak wanita dengan kanker payudara akan dapat terhindar dari kemoterapi yang tidak perlu,” kata Dr. Erna Busch-Devereaux, ahli bedah payudara di Rumah Sakit Huntington di Northwell Health, di Huntington, NY “Studi penting ini akan membantu memandu rekomendasi yang lebih baik untuk tahap awal kanker payudara,” katanya.

Pengidap, kanker, payudara, kemoterapi, kesehatan, pemicu, hormon, risiko, sel, tubuh, wanita, studi, peneliti, ahli, penelitian, pengobatan, operasi, efek, uji, genetik, onkologis, fisik, emosi,

Dokter merekomendasikan metode pengobatan pada kanker payudara

Tes Oncotype DX melihat 21 gen terpisah dalam sel tumor payudara, dan memberi pasien pertanda yang dapat memprediksi bagaimana kanker mereka bisa berkembang dalam 10 tahun mendatang. Berdasarkan temuan tersebut, keputusan dibuat tentang perlunya kemoterapi pasca .

Studi baru ini berfokus pada 6.711 wanita dengan stadium dini, hormon-reseptor positif, HER2-negatif, nodus-negatif. Semua telah menerima skor Oncotype DX kelas menengah. Para pasien kemudian melanjutkan untuk menerima terapi hormonal saja atau kombinasi terapi hormon plus kemoterapi.

Hasilnya, setelah rata-rata tindak lanjut 7,5 tahun, para peneliti tidak melihat manfaat tambahan dalam kelompok ini untuk menambahkan kemoterapi ke dalam campuran pengobatan. Tidak ada manfaat dalam hal kelangsungan hidup secara keseluruhan, kelangsungan hidup bebas , atau kanker yang menyebar di luar payudara.

Peneliti telah menggunakan uji genetik yang disebut Oncotype DX atau assay gene-21 untuk melihat apakah penderita kanker payudara cenderung memperoleh manfaat dari kemoterapi. Skor yang tinggi menunjukkan kemoterapi dapat bermanfaat dan skor yang rendah tidak begitu bermanfaat.

Tapi percobaan ini berusaha mengamati perempuan di tengah kelompok sampel dalam penelitian ini, yang manfaat dari kemoterapi mereka tidak diketahui pasti. Dr Joseph Sparano, dari Albert Einstein Cancer Center mengatakan percobaan ini bertujuan untuk menyediakan jawaban bagi para perempuan tersebut. “Hasil uji coba kami menunjukkan bahwa 21-gen-assay bisa diidentifikasi ditemukan pada lebih dari 85 persen perempuan penderita kanker payudara dini yang bisa mengesampingkan kemoterapi adjuvan, terutama mereka yang berusia lebih tua dari 50 tahun,” kata para peneliti.

Para peneliti menambahkan, hal ini akan menyelamatkan banyak pasien kanker payudara dari efek samping kemoterapi. “Tapi ada peringatan, bahwa temuan ini hanya berlaku untuk sebagian wanita tertentu.” Beberapa manfaat dari menjalani kemoterapi tetap ditemukan pada wanita yang berusia kurang dari 50 tahun.

Pengidap, kanker, payudara, kemoterapi, kesehatan, pemicu, hormon, risiko, sel, tubuh, wanita, studi, peneliti, ahli, penelitian, pengobatan, operasi, efek, uji, genetik, onkologis, fisik, emosi,

Prosedur kemoterapi yang umum diaplikasikan pada pasien kanker payudara

Namun tetap saja ini adalah berita bagus, karena efek samping jangka pendek dari kemoterapi dapat mencakup segalanya, mulai dari mual, rambut rontok, kelelahan dan infeksi, hingga mati rasa di bagian tangan dan kaki, hingga lainnya. Sementara efek jangka panjang kemoterapi, termasuk infertilitas dan gagal jantung.

“Ketika seseorang memiliki skor menengah, sulit untuk memutuskan apakah iya atau tidak untuk melanjutkan kemoterapi,” kata Bernik. “Sekarang kita tahu banyak dari wanita-wanita ini dapat dengan aman menghindari kemoterapi, kita dapat menghindarkan mereka dari efek fisik dan emosi yang dapat dimiliki kemoterapi.”

Meski tindakan kemo tetap digunakan saat ini, namun hal itu semakin pendek durasi pengobatannya, dan terkadang juga lebih rendah penggunaan dosisnya. Sebagai contoh, penelitian lain yang terkait dengan hasil hasil studi tersebut menemukan bahwa obat imunoterapi, dengan merek Keytruda produksi Merck, terbukti bekerja lebih baik daripada proses kemoterapi pada gejala awal kanker. Selain itu, efek samping yang dihasilkannya juga jauh lebih sedikit.

Studi tentang kanker payudara umumnya berfokus pada kasus-kasus di mana manfaat kemoterapi kian diragukan. Hal ini dikarenakan wanita dengan gejala kanker stadium awal –yang belum menyebar ke kelenjar getah bening– adalah hormon-positif yang berarti pertumbuhannya dipicu oleh estrogen atau progesteron, dan bukan jenis yang ditargetkan oleh obat Herceptin dalam proses kemoterapi.

Proses penyembuhan yang biasa dilakukan adalah operasi, dengan diikuti oleh konsumsi obat penghambat hormon pemicu kanker selama bertahun-tahun. Tetapi, banyak pula wanita yang didesak untuk menjalani kemoterapi dengan alasan membantu membunuh sel kanker di dalam tubuh.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: