Pengertian dan Tujuan Pap Smear Untuk Cegah Risiko Kanker Serviks

Ilustrasi: pasien kanker mendapatkan tes pap smear (sumber: yourhealth.net.au)Ilustrasi: pasien kanker mendapatkan tes pap smear (sumber: yourhealth.net.au)

Banyak wanita Indonesia yang masih belum memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan organ kewanitaannya. Akhirnya mayoritas wanita terkena penyakit kanker serviks dan terlambat untuk menyadarinya karena tak pernah melakukan pemeriksaan secara dini ke dokter.

Kanker serviks sendiri disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) yang menular karena pola hidup tidak sehat, sering berganti-ganti pasangan, hubungan seksual sebelum umur 20 tahun, dan pengaruh dari nikotin. Bahkan virus HPV juga bisa ditularkan lewat tangan seseorang yang menyentuh daerah genital atau karena menggunakan kloset duduk yang terinfeksi oleh virus HPV.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), kanker serviks adalah kanker ke-4 yang paling sering dialami oleh kaum perempuan. WHO juga mengungkapkan bahwa kanker serviks telah menjadi penyebab kematian 270 ribu perempuan di negara-negara berkembang pada tahun 2015.

Menurut data ICO HPV Information Center/Globocan 2012, setiap harinya ditemukan 26 perempuan meninggal karena kanker serviks. Hal ini berarti setiap jamnya, ditemukan 1-2 perempuan meninggal karena penyakit ini. Kanker serviks dapat dialami oleh perempuan manapun, maka dari itu, sebaiknya Anda waspada dan melakukan pencegahan sejak dini.

Cara Mencegah Kanker Serviks

Pada tahap awal kanker serviks benar-benar sulit untuk terdeteksi kecuali Anda mengalami infeksi yang ditandai dengan keputihan. Selain itu bisa juga ditandai dengan pendarahan vagina di luar masa menstruasi, keluhan sakit pendarahan setelah berhubungan intim, hingga infeksi saluran pada kandung kemih. Jika sudah memasuki stadium lanjut, kanker leher rahim akan menimbulkan rasa sakit pada panggul, pendarahan, hilangnya nafsu makan, berat badan menurun, hingga anemia.

Baca juga:  Ingin Cepat Hamil? 8 Makanan Ini Diklaim Bisa Tingkatkan Jumlah Sperma!

Kanker serviks baru berkembang dalam kurun waktu 10-20 tahun usai sang penderita terinfeksi HPV. Oleh sebab itu pada stadium awal mungkin penderita akan kesulitan untuk mengetahui dirinya benar-benar menderita kanker serviks. Untuk mengetahui lebih dini kemungkinan seseorang terserang kanker serviks, maka setiap wanita dianjurkan untuk melakukan pap smear minimal 2 tahun sekali dan tes IVA (inspeksi visual dengan asam asetat).

Ilustrasi: penyakit kanker serviks (sumber: kemkes.go.id)

Ilustrasi: penyakit kanker serviks (sumber: kemkes.go.id)

Pap smear adalah pemeriksaan pertama yang dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker serviks. Bahkan, biasanya pap smear dapat mendeteksi pre-kanker yang terjadi pada seseorang. Jika Anda sudah pernah berhubungan seksual, maka pemeriksaan pap smear sebaiknya dilakukan secara rutin selama 3 tahun.

Tes ini sebenarnya dilakukan untuk mengetahui sedini mungkin ada atau tidaknya ketidaknormalan pada serviks. Hasil pap smear yang abnormal cukup sering terjadi dan hal ini tak membuat Anda pasti mengalami pra-kanker atau kanker serviks. Bila memang ada hasil yang abnormal, maka Anda akan diminta untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Papsmear sendiri merupakan pemeriksaan yang dilakukan dengan cara mengambil contoh sel-sel leher rahim untuk kemudian dianalisis agar dapat mendeteksi dini adanya kanker leher rahim. Lewat pemeriksaan pap smear, Anda dapat mengetahui adanya infeksi HPV dan sel-sel abnormal yang dapat berubah menjadi sel kanker. Dengan mengetahui adanya infeksi sejak dini, maka Anda bisa segera melakukan tindakan pencegahan atau pengobatan yang tepat supaya penyakit tersebut tidak semakin parah.

Syarat menjalani pemeriksaan pap smear

  • Wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual.
  • Tidak melakukan hubungan intim selama 48 jam (2 hari) sebelum pemeriksaan.
  • Selama 24 jam sebelum pemeriksaan tidak diizinkan mencuci atau membilas vagina dengan bahan-bahan antiseptik.
  • Tidak sedang haid atau nifas. Pemeriksaan dilakukan setidaknya 5 hari setelah menstruasi.
  • Bagi wanita yang baru melahirkan, operasi rahim, atau menjalani radiasi, sebaiknya melakukan pap smear 6-8 minggu kemudian.
  • Tidak sedang dalam infeksi keputihan yang parah.
Baca juga:  Bisa Dilakukan di Rumah, Inilah Beberapa Perawatan Rahim Turun Beserta Penyebabnya

Sebagian besar kanker ditemukan di stadium lanjut. Padahal, makin dini suatu kanker terdeteksi, makin besar pula kemungkinan kanker ini diobati. Itu sebabnya deteksi dini kanker menjadi kunci utama. Penapisan (screening) dengan tes pap smear merupakan salah satu pemeriksaan rutin yang disarankan untuk kaum wanita. Dengan tes ini bisa dideteksi adanya human papilloma virus (HPV) dan sel penyebab kanker di leher rahim (serviks).

Tujuan Pap smear

Ilustrasi: prosedur pap smear (sumber: everydayhealth.com)

Ilustrasi: prosedur pap smear (sumber: everydayhealth.com)

Tes pap smear dianjurkan dilakukan minimal sekali setahun. Sedikit cairan leher rahim diambil menggunakan spatula atau sikat kecil yang halus oleh bidan atau dokter spesialis kebidanan. Cairan itu lalu diperiksa di laboratorium. Dari hasil pemeriksaan bisa diketahui apakah sel-sel leher rahim tampak normal atau sudah menunjukkan tanda-tanda tidak normal.

Tujuan dari pap smear adalah mencari lesi pra-kanker. Jika ditemukan bisa sembuh 100 persen, tapi jika dibiarkan bisa menjadi kanker. Penelitian menunjukkan, deteksi dini dengan pap smear atau IVA efektif menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker serviks sebesar 85 persen. Apabila ditemukan lesi pra-kanker, dokter akan melakukan konisasi (mengangkat jaringan yang mengandung selaput lendir serviks dan epitel serta kelenjarnya).

Baca juga:  Perawatan Kulit Saat Usia Dewasa

Konisasi dilakukan pada lesi pra-kanker derajat sedang sampai tinggi. Lesi ini bisa jatuh menjadi kanker, sehingga harus dilakukan konisasi. Tindakan ini terbilang aman karena mulut serviks kalau dipotong akan tumbuh lagi. Konisasi juga tidak memengaruhi kehamilan atau aktivitas seksual.

Sementara itu jika ditemukan kanker serviks stadium 1, dokter akan mengangkat rahim. Kemungkinan sembuh pasien juga lebih besar dan kanker tidak punya kesempatan untuk menyebar. Sayangnya, cakupan penapisan di Indonesia masih rendah, kurang dari 5 persen. Penyebaran informasi mengenai manfaat dan pentingnya melakukan screening masih sedikit sehingga masyarakat kurang peduli.

Biaya Papsmear

Hampir di setiap klinik, laboratorium, atau rumah sakit sudah menerima layanan pemeriksaan pap smear dengan peralatan yang memadai. Biaya pap smear di Jakarta saat ini berkisar antara Rp400 ribuan hingga Rp800 ribuan. Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina Jakarta misalnya, membanderol biaya pap smear mulai Rp600.000, atau di Klinik Yayasan Angsa Merah Jakarta Selatan biaya papsmear sekitar Rp580 ribuan. Di klinik atau lab lainnya bisa lebih murah atau mahal tergantung dari lokasi masing-masing.

Selain melakukan pemeriksaan dini, Anda juga harus selektif pada makanan apa saja yang Anda konsumsi, karena makanan yang tidak sehat juga bisa menjadi penyebab munculnya sel-sel kanker. Beberapa makanan yang diketahui dapat meningkatkan risiko kanker antara lain makanan yang dibakar, makanan yang berlemak, makanan cepat saji, makanan yang mengandung banyak gula, dan makanan yang mengandung bahan kimia.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: