Pengaruh Teknologi Terhadap Pakaian

pakaian, dalam, celana, pria, wanita, medis, teknologi, komunikasi, aplikasi, sensor, getar, bahan, mesir, kuno, underpants, operasi, merek, Modibodi, panjang, pendek, abad, model, cawat, nyaman, elastis Model dan fashion designer

Teknologi memang berpengaruh terhadap hidup seseorang. Misalnya seperti saat ini, teknologi digital menjadikan segala sesuatunya lebih mudah. Dampak yang nyata terasa mungkin adalah soal komunikasi. Jika dulunya, komunikasi dilakukan dengan bertatap muka langsung atau kirim surat. Kini, sudah bisa chatting hingga video call.

Namun, tidak hanya berpengaruh dalam hal komunikasi, teknologi juga berdampak terhadap dunia . Anda mungkin tidak menyangka jika teknologi bisa berpengaruh terhadap dalam. Di sini tidak akan berbicara mengenai apa itu dalam, tetapi lebih kepada fakta-faktanya.

Jenis pakaian (celana) dalam pendek pertama digunakan oleh orang Mesir Kuno. Celana itu dikenal sebagai schenti, itu terbuat dari bahan tenunan, umumnya kapas dan ram dan menggunakan ikat pinggang. Celana seperti itu disebut juga dengan cawat.

Biasanya, orang dengan kasta bawah (para budak pada saat itu) mengenakan model celana seperti itu. Mereka terlihat hampir tidak berpakaian, hanya memakai cawat saja. Sehingga, banyak yang mengatakan bahwa itu bukan pakaian dalam, tetapi berfungsi sebagai luaran/outwear.

Di Eropa, pertengahan abad 500-1500, pakaian dalam adalah berupa kaos yang terbuat dari linen atau katun, baik untuk atau . Bentuk dari kaos itu mencontoh model dari abad 15 dan 16.

Untuk memberikan perlindungan ekstra untuk organ intim pria, sebuah codpiece berlapis kemudian ditambahkan. Selain perlindungan, codpiece berfungsi juga sebagai simbol energi seksual, yang dirancang untuk meningkatkan aura seksual daripada menyembunyikan area genital.

Kemudian, pada awal hingga pertengahan abad 19, baik pria atau wanita memakai celana panjang dengan model celana selutut yang longgar. Gaya seperti itu dinilai lebih nyaman ketika digunakan, terlebih pada saat mengenakan pakaian berlapis.

pakaian, dalam, celana, pria, wanita, medis, teknologi, komunikasi, aplikasi, sensor, getar, bahan, mesir, kuno, underpants, operasi, merek, Modibodi, panjang, pendek, abad, model, cawat, nyaman, elastis

Foto lawas menampilkan gaya berpakaian masyarakat abad ke-19 (sumber: Pinterest)

Pada akhir abad ke-19, muncul celana ketat tertutup untuk wanita (disebut pantalette). Pada tahun 1882, reformator pakaian, Dr Gustave Jaeger berpendapat bahwa memilih bahan serat wol alami daripada bahan kulit akan membantu menguraikan racun tubuh dengan memungkinkan kulit untuk bernapas. Serat wol juga akan memiliki kualitas elastisitas dari pakaian rajutan yang lebih mungkin digunakan untuk beraktivitas.

Masih di abad ke-19, popularitas celana panjang untuk pria menyebabkan perubahan pakaian dalam pria yaitu long johns memanjang ke pergelangan kaki. Pakaian itu terbuat dari sutra untuk rich wool dan flanel.

Sementara itu, untuk kaum wanita, di awal tahun 1900an, model berpakaian yang adalah berlapis, seperti memakai kamisol dan korset. Selama Perang Dunia I, ada banyak wanita yang melakukan kerja fisik di pabrik, tambang dan pertanian. Dengan demikian, dibutuhkan pakaian utilitarian. Siluet pakaian luar seperti celana panjang longgar dan setelah mulai dikenakan mulai sekitar tahun 1916.

Kemudian, dari tahun 1920an, korset berangsur-angsur diganti dengan versi yang lebih elastis. Dengan bahan seperti itu, menjadikan pemakainya merasa lebih nyaman karena menjadi tidak terlalu ketat ketika digunakan.

Lateks, sebuah benang karet yang diperkenalkan pada tahun 1930, memungkinkan pakaian dalam yang bisa direnggangkan. Hal ini akhirnya berevolusi menjadi gaya underpant yang mirip dengan yang dipakai saat ini. Pada tahun 1938, setelah penemuan nilon serat sintetis, pakaian yang mudah dicuci mulai muncul.

Pada tahun 1945, celana panjang atau celana pendek untuk pria muncul. Di tahun 1959, serat elastomer buatan manusia baru muncul, dan disebut dengan lycra. Bahan itu dikombinasikan dengan kapas atau nilon, menjadikan bahan pakaian yang kuat, bisa direnggangkan dengan baik. Hasilnya adalah celana dalam yang lebih membentuk tubuh untuk pria dan wanita.

pakaian, dalam, celana, pria, wanita, medis, teknologi, komunikasi, aplikasi, sensor, getar, bahan, mesir, kuno, underpants, operasi, merek, Modibodi, panjang, pendek, abad, model, cawat, nyaman, elastis

Peragaan busana wanita (sumber: thedailybeast.com)

Di tahun 1960, celana dalam menjadi lebih simpel modelnya untuk kedua pria dan wanita dengan bagian depan berbentuk seperti huruf Y (hingga akhirnya model seperti itu ditiadakan untuk pakaian dalam pria). Namun, ada yang berpendapat bahwa the thong, atau G-string, sulit untuk didefinisikan sebagai underpant (pakaian dalam), karena garis celana yang tak terlihat.

Pada tahun 1970-an, celana dalam berbentuk nyaris sempurna. Dengan kemajuan dalam teknologi serat dan manufaktur rajutan, celana hari ini bisa sama dengan sepasang celana pendek Aussie Bonds, berkat teknologi tinggi masuknya komunikasi haptik.

Misalnya, perusahaan di Sydney, Wearable-X yang berbasis di New York telah bekerja sama dengan produsen kondom Durex untuk menciptakan pakaian dalam interaktif bernama Fundawear. Fundawear memiliki ‘sentuhan getar’ yang dapat ditransfer dari mana saja di dunia melalui aplikasi ponsel pintar. Pakaian dalam itu mengandung aktuator (yang mirip dengan perangkat yang membuat ponsel pintar bergetar). Pasangan yang mengenakannya dapat berbincang melalui aplikasi, mentransfer sensasi ke pakaian masing-masing.

Sementara itu, merek Modibodi dan Thinx telah mengembangkan celana reusable untuk wanita yang sedang menstruasi atau mengalami inkontinensia. Diproduksi dari bambu, wol merino dan kain microfibre, lapisan celananya seakan bisa ‘bernapas’ dan menjauhkan tubuh dari kelembapan dengan lapisan luar celana yang tahan air. Teknologi kain celana itu memungkinkan Anda bisa membilas celana dalam dengan air dingin, dicuci dengan mesin dan kering, lalu siap untuk digunakan kembali. Sejak diluncurkan pada tahun 2014, Modibodi telah menjadi pemimpin pasar Australia untuk pakaian dalam.

Shreddies merek UK bahkan telah mengembangkan pakaian dalam untuk pria dan wanita yang menggunakan bahan kain penyerap karbon. Pakaian dalam Shreddies menggunakan bahan karbon aktif yang sama yang digunakan dalam pakaian perang kimia.

Pakaian medis untuk pasien pasca operasi dan pasca kelahiran juga banyak tersedia di rumah sakit di negara barat. Pakaian yang disediakan memiliki pelapis kain aditif dan aplikasi cerdas yang berpusat pada tubuh pasien sehingga memiliki kemampuan memantau kondisi fisiologis pasien. Bahkan, para peneliti di University of California telah mengembangkan sensor elektrokimia yang dapat dicetak di bahan berbasis tekstil.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: