Pedoman Diet Baru untuk Bayi dan Balita

Ilustrasi: ibu dan anak (sumber: naturefresh.com)Ilustrasi: ibu dan anak (sumber: naturefresh.com)

Pola makan merupakan perilaku paling penting yang dapat memengaruhi keadaan gizi.[1] Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) telah menerbitkan pedoman diet (pola makan) baru untuk membantu orang dalam berbagai usia supaya tetap sehat. Untuk pertama kalinya, bayi dan balita direkomendasikan untuk berdiet dengan pedoman baru ini.

Bayi Direkomendasikan untuk Diet

Dilansir dari Harvard Health Publishing, pedoman diet baru yang disebut ‘Make Every Bite Count’ ini memiliki aturan bahwa Anda tidak boleh makan makanan yang tidak berkalori atau zero calorie. Selain itu, Anda juga tidak boleh mengonsumsi jenis produk yang merugikan kesehatan, apalagi jika Anda memiliki penyakit atau sedang dalam kondisi tertentu.

Mengonsumsi makanan tanpa memperhatikan jumlah kalori atau kandungan zat berbahaya di dalamnya, bisa membahayakan Anda. Makan makanan tidak sehat juga bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, di antaranya obesitas, penyakit kardiovaskuler, diabetes, tekanan darah tinggi, kanker, kerusakan gigi, anemia, tekanan darah rendah, lemah otot, dan kolesterol tidak stabil.

Diet seperti ini tentunya tidak hanya baik untuk Anda yang sudah dewasa atau remaja, tetapi juga anak-anak dan balita. Makanan sehat sangat penting untuk si kecil, karena tubuh mereka masih berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu, diet ini sangat penting untuk mencegah dan mengatasi obesitas pada buah hati Anda.

Baca juga:  Tips Membuat Makanan Sehat Terasa Lebih Enak dan Menarik

Masih dari sumber yang sama, saat ini sekitar 40% anak-anak di dunia mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Ada beberapa penelitian yang mengungkapkan, obesitas tanpa adanya diet bisa menjadi lebih buruk. Perlu Anda ketahui, obesitas pada anak tidak bisa terjadi begitu saja tanpa campur tangan orang tua. Pasalnya, si kecil sangat bergantung pada orang tua atau pengasuh mereka dalam hal makanan.

Ilustrasi: bayi makan (sumber: webmd.com)

Ilustrasi: bayi makan (sumber: webmd.com)

Untuk mencegah dan mengatasi obesitas pada anak, Anda cukup mengganti asupan yang tidak sehat dengan makanan bergizi sesuai dengan jumlah kalori yang dibutuhkan. Sementara itu, untuk bayi dan balita, Anda harus mengontrol makanan pertama yang masuk ke perut si kecil dan pola makannya.

Untuk bayi, Anda perlu menyusun pola asupan ASI dan idealnya Anda harus menyusui selama 6 bulan pertama. Pastikan Anda memberikan ASI hingga bayi merasa kenyang dan tidak kehausan. Ini sangat penting karena bayi membutuhkan asupan kalori, vitamin D, dan protein dalam jumlah besar untuk perkembangan dan pertumbuhannya. ASI diketahui juga mengandung zat yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh si kecil, sehingga bayi tidak mudah sakit atau tertular virus.

Baca juga:  Apa Itu Unexplained Infertility dan Apakah Ada Obat Untuk Mengatasinya?

Ketika Anda ingin memberikan ASI kepada bayi, Anda juga tidak boleh secara sembarangan. Anda harus responsif, yakni orang tua atau pengasuh dituntut untuk mengerti isyarat apakah bayi lapar dan haus atau tidak. Jika bayi tidak lapar atau tidak haus, Anda tidak perlu memberikan ASI dan sebaliknya. Pemberian ASI melebihi jumlah asupan bisa menyebabkan obesitas pada bayi.

Setelah 6 bulan, Anda baru boleh memberikan makanan padat yang dihancurkan hingga menjadi bubur. Ketika buah hati Anda mulai bisa mengonsumsi makanan padat, ini adalah kesempatan Anda untuk memengaruhi selera makan mereka. Anda bisa menawarkan berbagai makanan dengan rasa dan tekstur yang berbeda.

Meski demikian, Anda perlu memperhatikan pedoman diet baru. Pilihlah makanan yang kaya nutrisi tanpa MSG atau kandungan bahan kimia lainnya. Anda bisa memilih makanan berupa sereal bayi, buah, sayur, dan biji-bijian. Hindari bahan makanan yang berisiko bagi kesehatan si kecil, di antaranya makanan yang berpotensi alergi, makanan yang berlemak, dan makanan yang mengandung pewarna. Untuk lebih detail, Anda bisa memperhatikan rincian berikut.

Ilustrasi: memberi makan bayi (sumber: parents.com)

Ilustrasi: memberi makan bayi (sumber: parents.com)

Pedoman Diet untuk Bayi

  • Bayi tidak boleh mengonsumsi makanan yang mengandung gula. Anak-anak baru boleh makan makanan bergula setelah usianya 2 tahun ke atas. Hal ini karena gula tidak memiliki nilai gizi dan bisa menyebabkan kebiasaan tidak sehat seperti makan-makanan manis hingga dewasa dan ini berisiko diabetes di kemudian hari.
  • Bayi dan anak-anak harus mengonsumsi banyak buah-buahan, biji-bijian, dan sayuran hijau. Pasalnya, semua jenis makanan ini mengandung banyak serat dan vitamin yang baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah sembelit atau sulit BAB.
  • Bayi di atas 6 bulan sudah diperbolehkan mengonsumsi susu instan. Sebaiknya Anda memilih susu yang tidak mengandung banyak lemak dan pilihlah yang mengandung banyak protein serta kalsium. Sementara itu, jika buah hati Anda alergi dengan protein hewani atau susu sapi, berikan susu kedelai yang bebas laktosa dan diperkaya minyak sehat.
Baca juga:  Perkembangan Kehamilan Usia 3 Bulan

Selain pedoman di atas, Anda juga harus memperhatikan porsi makan anak. Anda tidak bisa memberikan makanan dengan porsi orang dewasa, karena terlalu berlebihan. Berikan makanan sesuai dengan porsi si kecil dan biarkan mereka beradaptasi dengan jumlah makanan secara bertahap.

[1] Sugihantono, Anung. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: