Olahraga Teratur, Cara Sederhana Tingkatkan Daya Ingat

Ilustrasi: album foto kenangan (unsplash: Markus Spiske)Ilustrasi: album foto kenangan (unsplash: Markus Spiske)

Manusia memiliki memori (ingatan) dengan kapasitas sangat besar untuk mendukung aktivitas berpikir atau menalar berbagai hal dalam aspek kehidupan.[1] Kualitas penggunaan memori ini tidak hanya terkait dengan cara berpikir, tetapi juga daya ingat. Sayangnya, tidak semua orang memiliki daya ingat yang kuat untuk mendukung kualitas memorinya. Nah, salah satu cara sederhana yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan daya ingat sekaligus kualitas memori Anda adalah dengan olahraga secara teratur.

Studi: Olahraga Meningkatkan Daya Ingat

Dilansir dari Harvard Health Publishing, olahraga secara teratur telah lama diketahui dapat meningkatkan dan mempertahankan aspek-aspek kunci dari fungsi kognitif, seperti perhatian, pembelajaran, dan memori. Ini juga diklaim mampu mengurangi risiko penyakit alzheimer pada orang dewasa dan lansia.

Sebuah struktur di otak yang disebut hipokampus dianggap sebagai pusat pembelajaran dan memori yang berkaitan dengan olahraga. Hipokampus terletak di medial temporal lobe (MTL), pusat aktivitas otak yang terhubung dengan baik dan sangat sensitif terhadap gerakan olahraga. Penyakit alzheimer seringkali digambarkan sebagai sindrom terputusnya hubungan di bagian otak ini.

Ilustrasi: alat peraga otak (unsplash: Robina Weermeijer)

Ilustrasi: alat peraga otak (unsplash: Robina Weermeijer)

Untuk mengetahui apakah olahraga bisa meningkatkan daya ingat dan kualitas memori, baru-baru ini terdapat penelitian terhadap lansia yang sehat dan bertujuan untuk menilai efek olahraga pada koneksi saraf di dalam MTL. Peserta penelitian adalah 34 orang dewasa Afrika-Amerika berusia 55 tahun yang mampu berjalan tanpa tongkat, alat bantu jalan, atau kursi roda serta masih mampu menggerakkan badan untuk berolahraga. Selain itu, terdapat tiga pria dan 31 wanita dengan rata-rata usia 65 tahun yang ikut serta dalam studi ini.

Baca juga:  Dosis & Cara Makan Herb Lax dan Lecithin Shaklee yang Dianjurkan

Peserta direkrut dari berbagai tempat komunitas di sekitar Newark dan New Jersey, termasuk gereja, pusat senior, dan kantor layanan kesehatan lansia. Peserta didiskualifikasi jika memiliki gangguan kognitif ringan atau demensia serta jika mereka menggunakan obat yang dapat memengaruhi kognisi.

Setelah penilaian kesehatan, kebugaran, dan kognitif awal, 17 dari 34 peserta terdaftar dalam program latihan aerobik berbasis tarian selama 20 minggu dalam dua kali pertemuan selama seminggu dan berdurasi 60 menit per sesi. Kegiatan ini tentunya didampingi oleh pelatih senam profesional yang sudah bersertifikat. Selama penelitian berlangsung, peserta menjalani pemantauan jantung.

Studi ini menguji perbandingan fleksibilitas koneksi saraf di dalam MTL peserta selama menjalankan dan tidak berolahraga secara rutin. Para peneliti menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) untuk melihat area otak ini. Mereka juga melakukan tes pembelajaran dan memori pada peserta, serta mengumpulkan informasi tentang kebugaran, indeks massa tubuh (BMI), dan kesehatan.

Baca juga:  Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Memakai Perkakas Rumah Tangga

Para peneliti menemukan, peserta yang berolahraga menunjukkan kemampuan yang lebih besar untuk mengatur ulang dan mengonfigurasi ulang koneksi saraf di otak mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk mempelajari dan menyimpan informasi dengan lebih baik, dan kemudian secara logis menerapkan informasi tersebut dalam situasi baru. Bisa dibilang, kualitas memori dan daya ingat peserta menjadi lebih baik dibandingkan sebelum melakukan olahraga secara rutin.

Ilustrasi: olahraga joging (unsplash: Fitsum Admasu)

Ilustrasi: olahraga joging (unsplash: Fitsum Admasu)

Sementara itu, tidak ada peningkatan indeks massa tubuh (BMI), kesehatan fisik, atau kebugaran aerobik selama 20 minggu intervensi latihan intensitas sedang ini. Namun, peserta dalam program latihan menunjukkan peningkatan dalam kemampuan mereka untuk secara fleksibel menerapkan dan menggabungkan kembali informasi dari pembelajaran sebelumnya. Selain itu, generalisasi, yang mengandalkan kemampuan kita untuk mengasosiasikan, mengintegrasikan, menggabungkan kembali, dan mendapatkan kembali pengetahuan, meningkat secara proporsional.

Baca juga:  Apakah Pewarna Rambut Menyebabkan Kanker?

Studi menambah pengetahuan ilmiah dengan menjelaskan bahwa olahraga dapat secara positif memengaruhi struktur jaringan otak utama di MTL dan memungkinkan peningkatan fungsi kognitif dan daya ingat. Selain itu, penelitian tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas jaringan MTL berpotensi dapat digunakan sebagai penanda biologis untuk mendeteksi penyakit neurodegeneratif dini atau menilai fungsi kognitif sebelum dan sesudah intervensi tertentu.

Perlu Anda ketahui, karena peserta penelitian adalah orang Afrika-Amerika dan sebagian besar wanita, para peneliti mencatat bahwa temuan mereka mungkin tidak berlaku secara umum untuk semua populasi. Meskipun studi tersebut tidak menemukan peningkatan yang signifikan secara statistik dalam ukuran fisik kesehatan, seperti BMI dan kebugaran aerobik, terdapat keuntungan kognitif struktural dan fungsional, seperti mempelajari dan mempertahankan informasi, dan kemudian secara logis menerapkan informasi tersebut dalam situasi baru.

Terlepas dari peringatan dan pertimbangan ini, hasil uji coba memperkuat nilai pelindung saraf dari latihan aerobik. Lebih lanjut, mereka menggarisbawahi bahwa meskipun rutinitas olahraga dilakukan di kemudian hari, hal itu mungkin masih memainkan peran penting dalam mengurangi penurunan kognitif.

[1] Elita, Funny Mustikasari R. 2004. Memahami Proses Memori. Mediator UNISBA, Vol. 5(1): 147-160.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: