Apa Itu OCD Perinatal pada Ibu Hamil dan Setelah Melahirkan?

Ilustrasi: ibu hamil (sumber: babygaga.com)Ilustrasi: ibu hamil (sumber: babygaga.com)

Kesejahteraan mental beberapa wanita diketahui menurun selama kehamilan dan melahirkan. Hal ini ditandai dengan adanya gejala OCD (Obsesif-Kompulsif) yang muncul saat mengandung hingga pada masa postpartum. OCD pada ibu hamil dan wanita muda yang sudah melahirkan ini bisa disebut dengan OCD perinatal. Bagaimana gejalanya dan cara mengatasinya?

Gejala dan Penyebab OCD Perinatal

OCD adalah gangguan kecemasan ketika pikiran Anda dipenuhi gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, sehingga Anda seakan dipaksa untuk melakukan tindakan sesuai gagasan tersebut.[1] Ini juga membuat beberapa orang merasa tertekan dan mengalami mood swing berlebihan.

Dilansir dari guesehat.com, gangguan OCD membuat seseorang memiliki pemikiran obsesif dan perilaku yang kompulsif. Pikiran obsesif merupakan gambaran yang tidak diinginkan, tidak menyenangkan, sering menyusahkan, dan cenderung negatif. Pikiran seperti ini kerap muncul, sehingga membuat pengidap OCD merasa cemas berlebihan.

Sementara itu, perilaku kompulsif merupakan perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dimaksud adalah dalam konteks negatif untuk mengurangi rasa cemas akibat pikiran obsesif. Dalam kasus yang sering ditemukan, penderita OCD akan menggaruk-garuk kepala atau tangan secara berlebihan, mencuci tangan secara berlebihan, dan memeriksa segala hal secara berulang kali.

Baca juga:  Bisakah Wirausaha Meningkatkan Kesehatan Kardiovaskular pada Wanita?

Individu dengan OCD biasanya bergulat dengan pola pikirnya sendiri dan merasa ketakutan jika hal yang diinginkan tidak terjadi dan hal yang paling dihindari yang justru terjadi. Hal ini menjadi obsesi yang menyebabkan perilaku menjadi berulang atau kompulsi.

Pada ibu hamil dan wanita yang baru melahirkan, OCD perinatal disebabkan kondisi bayi yang dikandung atau sudah dilahirkan. Kehadiran janin dan bayi tentunya akan mengubah hidup dan cara berpikir Anda. Selain menjadi momen yang menyenangkan dan berharga, beberapa orang justru merasa cemas dan khawatir, apalagi bagi ibu muda yang belum berpengalaman dan tidak memiliki persiapan apapun. Bisa dibilang, baby blues menjadi faktor pendukung OCD perinatal pada wanita.

Ilustrasi: ibu dan bayi (pexels: Polina Tankilevitch)

Ilustrasi: ibu dan bayi (pexels: Polina Tankilevitch)

Selain itu, OCD pada perempuan hamil dan melahirkan bisa terjadi akibat genetik, pernah mengalami OCD sebelumnya, stres berlebihan, trauma kehamilan, dan sifat dasar yang perfeksionis. Mungkin beberapa penyebab ini bisa Anda hindari, tetapi tidak untuk faktor genetik.

Secara genetik, OCD memang bisa diturunkan dengan pemicu trauma yang berlebihan. Anda mungkin secara tidak sadar akan berperilaku impulsif, tetapi tidak tahu penyebabnya dan bisa jadi ini adalah tanda bahwa OCD prenatal yang Anda dapatkan berasal dari anggota keluarga yang memiliki OCD.

Baca juga:  Intip Khasiat Perasan Air Singkong Untuk Perawatan Kecantikan!

Dilansir dari HuffPost, sebuah studi baru-baru ini menunjukkan OCD lebih sering atau umum terjadi di kalangan wanita hamil dan ibu muda yang masih berada dalam masa postpartum. Penelitian menunjukkan, masalah kesehatan mental seperti ini mungkin tidak dirasakan secara nyata, apalagi gejalanya tidak terdeteksi dengan mudah oleh dokter kandungan dan calon ibu. Namun, satu dari lima wanita dapat menderita OCD parental.

Masih dilansir dari sumber yang sama, perkiraan prevalensi OCD di seluruh periode prenatal terjadi dari awal hingga setelah kelahiran adalah 7,8%. Kemudian, prevalensi dari seluruh periode postpartum hingga minggu ke-38 setelah melahirkan mencapai 16,9%. Ini menunjukkan bahwa angka kesejahteraan mental wanita hamil dan setelah melahirkan cukup rendah atau tingkat kejadian OCD perinatal tinggi.

Meskipun gejalanya tidak mematikan, OCD perinatal cukup berbahaya bagi ibu dan anak. Beberapa wanita dengan gangguan mental seperti ini biasanya tidak fokus dalam memenuhi kebutuhan anaknya dan lebih terobsesi dengan pikirannya sendiri. Tentunya, ini membahayakan tumbuh kembang si kecil. Jika tidak diatasi, wanita hamil bisa mengalami keguguran dan wanita yang baru melahirkan bisa mengalami depresi parah. Lalu, apa yang harus dilakukan jika Anda mengalaminya?

Ilustrasi: konsultasi psikologi (sumber: thejc.com)

Ilustrasi: konsultasi psikologi (sumber: thejc.com)

Cara Mengatasi OCD Perinatal

Mungkin Anda akan merasa kacau dan cemas berlebihan saat mengalami OCD perinatal, tetapi Anda harus tetap tenang dan mencoba melawan pikiran dan perilaku negatif. Jika masalahnya tidak kronis, untuk menghindari gejala yang serius, Anda bisa membicarakannya dengan suami dan mulai menghadiri seminar kehamilan dan cara mendidik si kecil.

Baca juga:  Cemilan Sehat, Ibu Hamil Senang

Namun, jika masalahnya semakin kronis, Anda tidak hanya perlu mengunjungi dokter kandungan, tetapi juga psikiater. Mungkin Anda tidak mendapatkan obat , karena Anda sedang hamil dan harus menyusui setelah melahirkan, tetapi Anda bisa lebih tenang dan menjernihkan pikiran. Selain itu, lakukan meditasi secara rutin bersama pasangan untuk membuat pikiran Anda menjadi lebih tenang dan positif.

[1] Syafaatul, Lia & Hamidah. 2017. Hubungan Antara Dukungan Sosial dan Obsessive Compulsive Disorder pada Remaja Putri dengan Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga, Vol. 6: 71-80.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: