Obsesi Miliki Kulit Putih, Produk Masker Pemutih Wajah Laris di Pasaran

Wanita - (Photo: melancholiaphotography) Wanita - (Photo: melancholiaphotography)

Memiliki putih dan cerah merupakan impian bagi sebagian . Paradigma ‘orang cantik’ nampaknya juga masih terbatas pada pemilik kulit putih saja, sehingga banyak yang berbondong untuk melakukan banyak hal agar dapat memiliki kulit serta wajah yang putih.

Banyaknya konsumen yang membutuhkan guna merawat kulit, membuat produsen semakin giat untuk terus menawarkan formula dan teknologi tingkat tinggi untuk mengatasi berbagai permasalahan kulit. Banyaknya produk skin care yang berbasis teknologi ini, membuat wanita meninggalkan beberapa produk berbahan natural.

Di indonesia sendiri, produk masker yang dianggap paling laku adalah produk masker yang memiliki fungsi sebagai wajah. Karena dalam budaya lokal menilai mempunyai kulit putih adalah takaran ideal bagi sebagian besar orang, khususnya wanita. Karena hampir menyerupai dengan kebudayaan India, tidak jarang pada budaya lokal Indonesia menganggap bahwa kulit hitam identik dengan kotor, gelap atau berlawanan dengan baik, cerah, serta kemakmuran. Sebaliknya, kulit putih merupakan simbol dari kebersihan dan keindahan.

Hal senada diungkapkan oleh Aquarini Priyatna, seorang penulis buku berjudul Becoming White, yang mengulas tentang banyaknya masyarakat Indonesia yang berobsesi untuk memiliki kulit putih. Obsesi yang semacam ini yang membuat banyak orang mencoba banyak treatment atau , mulai dari pengolesan krim dan masker hingga peeling chemical dan injeksi whitening.

Lantas tak heran jika banyak produk masker kulit pemutih wajah, seperti merek Olay, Wardah, Garnier, Sari Ayu, Mustika Ratu, Ovale, dan lain-lain menjadi hal yang paling dicari dan paling laku di pasaran indonesia. Karena produk kecantikan tersebut memberikan iming-iming bagi konsumen untuk bisa memiliki kulit putih impian.

Masker Pemutih Wajah - (Sumber: www.elevenia.co.id)

Masker Pemutih Wajah – (Sumber: www.elevenia.co.id)

Beberapa puluh tahun lalu, sepasang peneliti bernama Marie Clark dan Kenneth melakukan suatu percobaan yang dikenal dengan sebutan ‘The Doll Experiment’. Penelitian ini mereka lakukan di Amerika. Dalam percobaan tersebut, ditemukan adanya bukti bahwa anak-anak dengan kulit hitam cenderung lebih menyukai boneka berwarna kulit putih. Mereka lebih senang bermain dengan boneka berkulit putih dengan alasan yang putih itu bersih dan baik, sementara boneka berkulit gelap dianggap kotor dan jelek.

Marrie dan Kenneth menyimpulkan hasil penelitian mereka sebagai bukti pengaruh rasisme dan stigmatisasi pada anak-anak yang kala itu rasisme dan pemisahan yang menempatkan masyarakat kulit hitam sebagai warga negara kelas dua di bawah kulit putih masih dianggap sebagai hal yang umum.

Pada tahun 2005 silam, Kiri Davis melakukan penelitian serupa dan berhasil merekam hasilnya melalui film ‘A Girl Like Me’. Kala itu zaman sudah diklaim mengalami perubahan, pembauran dan persamaan hak sudah menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari di Amerika, namun ternyata Kiri Davis mendapatkan hasil yang kurang lebih sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh pasangan Marie Clark dan Kenneth. Setelah sekian banyak perubahan, nyatanya orang kulit hitam masih menganggap mempunyai kulit putih itu lebih baik.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: