Waspada, Efek Buruk Obat terhadap Mikrobioma dalam Tubuh Anda

Ilustrasi: obat-obatanIlustrasi: obat-obatan

Kesehatan pada dasarnya tidak hanya dipengaruhi oleh bakteri buruk saja. Jika bakteri buruk dapat menimbulkan penyakit, maka bakteri baik dapat mencegah Anda terkena penyakit. Ada beberapa macam bakteri baik yang bisa Anda dapatkan dari luar tubuh maupun dari dalam tubuh. Bakteri baik dalam tubuh juga perlu diperhatikan, apalagi saat ini sudah banyak ditemukan obat umum yang dapat mengubah bakteri baik atau mikrobioma pada tubuh Anda.

Secara teknis, untuk mendapatkan bakteri baik demi menjaga kesehatan sangatlah mudah. Anda bisa mengonsumsi makanan fermentasi, seperti yoghurt, atau mengonsumsi suplemen khusus. Cara ini dapat meningkatkan produksi bakteri baik dalam tubuh Anda. Jika produksi bakteri baik dalam tubuh Anda mencukupi, maka Anda akan kebal terhadap beberapa macam penyakit akibat virus dan bakteri buruk.

Jika Anda sakit, Anda juga perlu memperhatikan apakah obat yang Anda konsumsi tersebut aman atau tidak. Beberapa jenis obat mungkin akan membuat bakteri baik dalam tubuh Anda sedikit berkurang dan berubah, tetapi beberapa di antaranya tidak. Untuk itu, akan lebih baik jika Anda berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu mengenai obat dan penyakit Anda.

Ada baiknya juga Anda tidak mengonsumsi obat secara sembarangan. Saat ini, sudah banyak dijual beragam obat di apotek atau warung yang bisa dibeli dengan bebas tanpa resep dokter. Jika Anda sudah tidak tahan dengan penyakit Anda dan ingin segera sembuh, Anda bisa menanyakan pada penjual obat mengenai jenis obat apa yang baik untuk Anda. Beberapa jenis obat keras juga tidak disarankan bagi Anda yang pertama kali menggunakannya, karena apat mengubah mikrobioma Anda.

Baca juga:  Review Produk Pencerah Wajah Mustika Ratu Bengkoang Whitening Series
Ilustrasi: bakteri mikrobioma (sumber: genengnews.com)

Ilustrasi: bakteri mikrobioma (sumber: genengnews.com)

Anda juga bisa mencari informasi mengenai obat-obatan yang ingin Anda beli melalui internet. Cara ini lebih mudah dan praktis daripada harus menanyakannya ke warung atau apotek terlebih dahulu. Pastikan bahwa obat benar-benar aman dan tidak mengubah mikrobioma Anda. Jika mikrobioma berubah, ada beberapa kemungkinan buruk yang terjadi.

Seperti obat khusus untuk pencernaan yang keras, ini terkadang dapat menimbulkan perubahan pada mikrobioma di bagian usus dan lambung pasien. Gejala yang ditunjukkan, biasanya gas yang berlebih, sembelit, atau diare. Beberapa orang juga sering mengalami pusing dan mual jika mengalami perubahan mikrobioma.

Mikrobioma yang berubah pun dapat membuat Anda kesulitan menyembuhkan penyakit tertentu, hal ini karena mikrobioma yang semula berupa bakteri baik menjadi bakteri buruk yang tidak bisa melawan bakteri buruk. Kondisi ini juga dapat memperburuk penyakit Anda di kemudian hari. Untuk mengatasinya, Anda perlu pertolongan ahli medis seperti dokter. Konsultasikan penyakit Anda jika Anda mengonsumsi obat tetapi tidak berfungsi dengan baik. Bisa jadi, itu karena mikrobioma Anda mengalami perubahan.

Baca juga:  Beberapa Alas Bedak Wardah Untuk Kulit Berminyak

Penelitian: Obat Dapat Mengubah Mikrobioma

Ilustrasi: penelitian medis

Ilustrasi: penelitian medis

Anda juga perlu mengetahui penggunaan antibiotik dengan tepat, karena antibiotik juga dapat mengubah mikrobioma dalam tubuh Anda. Hindari penggunaan antibiotik bila tidak diperlukan. Apabila Anda mendapatkan obat antibiotik, maka Anda harus menghabiskan sesuai dengan dosis yang diberikan. Jika tidak habis, bisa menyebabkan resistensi antibiotik.

Beberapa obat yang banyak dikonsumsi, mengubah populasi mikroba di usus, dan sejumlah meningkatkan risiko resistensi antibiotik, demikian menurut studi baru di Belanda. Mikrobioma usus mencakup setidaknya 1.000 spesies bakteri dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor berbeda, termasuk obat-obatan. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan mikrobioma usus berhubungan dengan obesitas, diabetes, penyakit hati, kanker dan penyakit neurodegeneratif.

“Kita sudah tahu bahwa efisiensi dan toksisitas obat-obatan tertentu dipengaruhi oleh komposisi bakteri saluran pencernaan,” kata pemimpin peneliti, Arnau Vich Vila, dari University Medical Center Groningen. “Mikrobioma usus telah dikaitkan dengan berbagai kondisi kesehatan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami konsekuensi dari penggunaan obat di mikrobioma usus.”

Penelitian ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan peran mikrobiota usus ketika merancang perawatan dan juga menunjuk pada hipotesis baru yang dapat menjelaskan efek samping tertentu yang terkait dengan penggunaan obat. Dalam studi ini, para peneliti memeriksa 41 kategori obat yang biasa digunakan dan menilai 1.883 sampel tinja dari orang yang menggunakan dan tidak menggunakan obat, termasuk beberapa dengan sindrom iritasi usus (IBS) dan penyakit radang usus (IBD). Delapan belas dari kategori obat memiliki efek besar pada mikrobioma usus, dan delapan meningkatkan risiko resistensi antimikroba.

Baca juga:  Pure Olive Oil, Produk Minyak Zaitun Wardah Yang Tidak Hanya Bermanfaat Untuk Jerawat

Obat yang Mengubah Mikrobioma

Ilustrasi: obat-obatan

Ilustrasi: obat-obatan

  • Inhibitor pompa proton (PPI), digunakan untuk mengobati gangguan pencernaan, tukak lambung, pemberantasan H. pylori, gastro reflux dan Barrett’s esophagus.
  • Metformin, digunakan untuk mengobati diabetes tipe 2.
  • Antibiotik, digunakan untuk mengobati infeksi bakteri.
  • Pencahar, digunakan untuk mengobati dan mencegah sembelit.

Ada juga perbandingan pengguna obat-obatan di atas mengenai perubahan mikrobioma dalam tubuh mereka. Mikrobioma usus pengguna PPI memiliki tingkat bakteri saluran pencernaan bagian atas yang lebih tinggi dan peningkatan produksi asam lemak, sedangkan pengguna metformin memiliki tingkat bakteri E. coli yang berpotensi membahayakan lebih tinggi.

Tujuh kategori obat lain dikaitkan dengan perubahan signifikan dalam populasi bakteri di usus, menurut para peneliti. Sebagai contoh, penggunaan antidepresan SSRI oleh orang-orang dengan IBS dikaitkan dengan peningkatan level spesies bakteri yang berpotensi berbahaya, Eubacterium ramulus. Sementara itu, penggunaan steroid oral dikaitkan dengan tingginya tingkat bakteri metanogenik terkait dengan obesitas dan peningkatan indeks massa tubuh (perkiraan lemak tubuh berdasarkan berat dan tinggi badan).

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: