Pilihan Salep Antibiotik untuk Mengobati Jerawat

Ilustrasi: memakai krim wajah (sumber: dermcollective.com)Ilustrasi: memakai krim wajah (sumber: dermcollective.com)

Permasalahan jerawat memang sangat mengganggu. Selain memerlukan perawatan dari dalam, jerawat juga bisa dirawat dari luar dengan penggunaan krim atau salep antibiotik, khususnya dalam kasus jerawat yang parah dan meradang. Salep antibiotik untuk jerawat tersebut biasanya diresepkan dokter dengan dosis dan frekuensi penggunaan tertentu. Salep antibiotik ini tersedia di apotik dalam berbagai merek dengan harga yang juga variatif.

Jerawat disebabkan karena peningkatan aktivitas kelenjar minyak (sebaceous gland) yang memproduksi minyak kulit (sebum) dalam jumlah berlebihan, sehingga menyumbat folikel rambut dan pori-pori kulit. Penyakit kulit ini terjadi karena beberapa hal yang memengaruhinya. Faktor genetik, hormonal, makanan, dan patogen memiliki andil sebagai pemicu munculnya gangguan kulit yang biasa dialami remaja ini. Kondisi hormonal seseorang sangat memengaruhi produksi minyak kulit yang memacu terbentuknya komedo (sumbatan pada pori kulit) atau pembengkakan di permukaan kulit. Peningkatan kadar hormon tersebut banyak terjadi pada usia remaja (15-25 tahun).

Saat komedo atau benjolan di kulit pecah, bagian yang terbuka mudah terinfeksi oleh patogen. Patogen yang menyebabkan jerawat adalah Propionibacterium acnes. Bakteri tersebut bersifat an-aerob dan resisten terhadap beberapa macam antibiotik, terutama antibiotik topikal.

Baca juga:  Rekomendasi 5 Produk Krim Leher yang Bagus

Untuk melawan bakteri penyebab jerawat biasanya pasien harus mengonsumsi antibiotik dan menggunakan obat antijerawat yang digunakan secara topikal. Antibiotik yang biasa digunakan untuk terapi topikal biasanya adalah Erythromycine, Clindamycine, Stivamycine, dan Tetracycline, sedangkan harus diminum berupa Tetracycline dan Oxytetracycline.[1] Sebagai gambaran, berikut ini beberapa jenis obat salep antibiotik yang biasa diresepkan dokter untuk mengatasi jerawat, seperti dilansir dari Hellosehat.

Salep Antibiotik untuk Jerawat

Ilustrasi: salep antibiotik (sumber: netdoctor.co.uk)

Ilustrasi: salep antibiotik (sumber: netdoctor.co.uk)

Clindamycin

Salep Clindamycin merupakan salah satu obat antibiotik topikal yang kerap dipakai untuk mengobati peradangan jerawat. Salep ini bekerja dengan mengurangi jumlah bakteri penyebab jerawat dan mengurangi pembengkakan serta kemerahan pada jerawat. Obat topikal Clindamycin setidaknya butuh waktu antara 4-6 minggu sebelum menunjukkan hasil.

Akan tetapi, Clindamycinkabarnya tidak bisa mencegah penyumbatan pori-pori, sehingga perlu dikombinasikan dengan obat jerawat lain seperti asam salisilat. Dengan memakai kombinasi tersebut, Anda mungkin bisa memperoleh hasil yang lebih cepat sekaligus mencegah resistensi antibiotik. Sayangnya, Clindamycin mengandung alkohol, sehingga mungkin menimbulkan sensasi menyengat atau terbakar di kulit.Clindamycin1% dalam sediaan gel dan larutan merupakan terapi pilihan untuk jerawat, diaplikasikan sebanyak 1-2 kali per hari atau sesuai petunjuk dari dokter.

Baca juga:  Rekomendasi Krim Pencerah Wajah Yang Diklaim Aman, Wanita Perlu Coba!

Erythromycin

Antibiotik topikal lainnya adalah Erythromycin. Salep ini bekerja dengan membunuh bakteri penyebab jerawat serta membantu mengurangi peradangan. Beberapa merek mungkin menyertakan kandungan zink asetat untuk membantu memulihkan kulit dari jerawat. Akan tetapi, obat yang mengandung Erythromycin bukanlah pilihan pengobatan jerawat yang utama. Pasalnya, antibiotik ini tak bisa mengatasi faktor pemicu jerawat lain seperti penumpukan sel kulit mati maupun produksi minyak berlebih.

Salep antibiotik Erythromycin biasanya dikombinasikan dengan obat lain seperti retinoid untuk mempercepat proses penyembuhan.Erythromycin 2% dan 1,5% tersedia dalam wujud gel, krim, cairan, dan swab untuk aplikasi 2 kali per hari atau sesuai dengan resep dokter.Seperti antibiotik lain, pemakaian Erythromycin mungkin menyebabkan efek samping seperti iritasi kulit ringan, sensasi terbakar atau perih pada kulit, serta membuat kulit mudah kering.

Baca juga:  Rekomendasi Sunscreen Bagus dan Berkualitas untuk Kulit Berminyak

Meskipun tampak sederhana, mengatasi jerawat tetap memerlukan pengawasan dokter. Mengapa? Obat-obat oles yang diberikan bekerja dengan “merontokkan” sumbatan pada folikel rambut. Salah satu efek samping yang dapat timbul adalah kulit menjadi sensitif terhadap sinar matahari.

Dengan kadar obat yang sangat beragam, penggunaan obat dengan kadar yang terlalu tinggi malah akan menimbulkan iritasi pada kulit. Akrab dengan kata “resistansi antibiotik”? Resistansi antibiotik merupakan kondisi kebalnya bakteri terhadap pemberian antibiotik tertentu. Nah, penggunaan antibiotik oles maupun minum dapat menyebabkan resistensi jika tidak diminum secara tepat jadwal, tepat dosis, dan tepat sasaran. Karena itu, penting sekali mengatasi jerawat dengan pendampingan dokter.[2]

[1] Lingga, L. 2012. Terapi Bawang Putih untuk Kesehatan (hlm 153). Jakarta: Elex Media Komputindo.

[2] Rianda, D. 2017. Beauty Undercover For Muslimah (hlm 42). Jakarta: Elex Media Komputindo.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: