Tak Repot Beli Obat Mahal, Yuk Mulai Manfaatkan Obat-Obatan Herbal!

Ilustrasi: obat-obatan herbal (sumber: sunova.in)Ilustrasi: obat-obatan herbal (sumber: sunova.in)

Banyak obat kimia yang dinilai manjur, malah menimbulkan efek samping. Bahkan, tak jarang orang mengalami gejala alergi seperti mual dan muntah. Untuk itu, Anda bisa beralih ke obat-obatan herbal yang dinilai bebas efek samping dan memiliki manfaat baik untuk kesehatan. Apalagi, untuk obat herbal keluarga, ada yang bisa Anda dapatkan secara cuma-cuma tanpa harus beli.

Obat Herbal Diakui Secara Ilmiah

Dilansir dari Deutsche Welle, sudah banyak obat herbal dari ekstrak tanaman yang dinilai memiliki manfaat medis beredar di pasaran. Sebelum teknologi berkembang, manusia sudah mengekstraksi tanaman tertentu yang memiliki sifat anti-inflamasi selama ribuan tahun.

Meskipun obat herbal dianggap tidak ilmiah, sudah ada lebih dari sepertiga obat modern memiliki bahan tambahan alami. Tak hanya dari tumbuhan, beberapa jenis obat ada yang terbuat dari mikroorganisme dan hewan.

Sekarang, para peneliti dari Scripps Research Institute di negara bagian California AS telah menemukan bahwa bahan kimia yang diekstraksi dari kulit pohon Galbulimima belgraveana memiliki efek psikotropika yang dapat membantu mengobati depresi dan kecemasan. Pohon itu hanya ditemukan di hutan hujan terpencil di Papua Nugini dan Australia Utara. Pohon ini juga telah lama digunakan oleh masyarakat adat sebagai obat penyembuhan terhadap rasa sakit dan demam.

“Ini menunjukkan bahwa pengobatan Barat belum memojokkan pasar pada terapi baru,” kata Ryan Shenvi, PhD, seorang profesor kimia di Scripps Research. “Ada obat-obatan tradisional di luar sana yang masih menunggu untuk dipelajari.”

Baca juga:  Kenapa Mengejar Kebahagiaan Adalah Hal yang Sia-Sia?

Di sisi lain, contoh obat medis semi herbal yang cukup terkenal adalah Opiat. Obat ini terbuat dari ekstraksi tanaman opium yang dipakai mengobati rasa sakit selama lebih dari 4.000 tahun. Beberapa obat yang termasuk opiat adalah morfin dan kodein dengan efek kuat terhadap sistem saraf pusat. Selain itu, masih banyak obat herbal yang mempunyai segudang manfaat seperti berikut.

Jenis Obat Herbal untuk Mengobati Penyakit

Bunga Rosella

Bunga rosella (sumber: steemit.com)

Bunga rosella (sumber: steemit.com)

Bunga rosella merupakan salah satu tanaman yang kerap dijadikan tanaman hias. Selain itu, kelopaknya bisa dijadikan sebagai pewarna alami sekaligus teh herbal. Sebagai bahan baku obat herbal, kelopak bunga rosella kering mengandung vitamin C dan antioksidan. Pigmen utama bunga rosella diidentifikasi sebagai daphniphylline, yang digunakan untuk mengobati hipertensi, demam, dan kerusakan hati.[1]

Kacang Velvet (Kacang Beludru)

Kacang velvet (sumber: healthifyme.com)

Kacang velvet (sumber: healthifyme.com)

Kacang beludru (Mucuna pruriens) telah digunakan dalam pengobatan Ayurveda India dan China kuno selama lebih dari 3.000 tahun. Teks kuno memberitahu kita bagaimana tabib menggunakan ekstrak kacang untuk mengurangi tremor pada pasien Parkinson.

Baca juga:  Manfaat & Cara Membuat Virgin Coconut Oil (VCO) dengan Mixer

Studi sekarang menunjukkan bahwa kacang beludru mengandung senyawa yang disebut levodopa, yakni obat yang digunakan untuk mengobati penyakit Parkinson saat ini. Levodopa membantu menghentikan tremor dengan meningkatkan sinyal dopamin di area otak yang mengontrol gerakan.

Sejarah modern levodopa dimulai pada tahun 2000-an, ketika senyawa tersebut disintesis oleh ahli biokimia Polandia Casimir Funk. Beberapa dekade kemudian, para ilmuwan menemukan bahwa levodopa dapat digunakan sebagai pengobatan yang efektif untuk menghentikan tremor pada pasien dengan penyakit Parkinson. Obat tersebut merevolusi pengobatan penyakit dan masih menjadi standar emas untuk pengobatannya saat ini.

Beri Hawthorn

Beri hawthorn (sumber: cksociety.org)

Beri hawthorn (sumber: cksociety.org)

Uji klinis menggunakan standar penelitian saat ini telah menemukan bahwa buah beri hawthorn (Crataegus spp) mengurangi tekanan darah dan mungkin berguna untuk mengobati penyakit kardiovaskular. Berry hawthorn mengandung senyawa seperti bioflavonoid dan proanthocyanidins yang tampaknya memiliki aktivitas antioksidan yang signifikan.

Sifat medis hawthorn pertama kali dicatat oleh dokter Yunani Dioscorides pada abad ke-1 dan oleh Tang-Ben-Cao dalam pengobatan Tiongkok kuno pada abad ke-7. Namun, ekstrak hawthorn belum cocok untuk penggunaan medis di masyarakat luas, karena penelitian sedang berlangsung, dan penelitian yang lebih ketat diperlukan untuk menilai keamanan jangka panjang dalam penggunaan ekstrak hawthorn.

Kulit Pohon Yew Pasifik

Pohon yew pasifik (sumber: conifers.org)

Pohon yew pasifik (sumber: conifers.org)

Pohon Yew termasuk dalam daftar obat herbal dalam mitologi Eropa. Sebagian besar bagian pohon yew sangat beracun, karena bisa menyebabkan kematian. Namun, itu adalah spesies pohon yew di Amerika Utara, sedangkan pohon yew Pasifik (Taxus brevifolia), memiliki sifat medis untuk pengobatan.

Baca juga:  Jenis, Shades, & Review Bedak Maybelline Fit Me

Para ilmuwan di tahun 1960-an menemukan bahwa kulit pohon yew pasifik mengandung senyawa yang disebut taxel. Salah satu taxel ini, yang disebut Paclitaxel, telah dikembangkan menjadi obat kanker yang efektif. Paclitaxel dapat menghentikan pembelahan sel kanker dan menghalangi pertumbuhan penyakit lebih lanjut.

Kulit Pohon Willow

Pohon willow (sumber: pixabay)

Pohon willow (sumber: pixabay)

Kulit pohon willow adalah obat tradisional lain dengan sejarah panjang. Kulit kayu pohon willow dijadikan sebagai obat untuk nyeri sejak 4.000 tahun lalu di Sumeria dan Mesir. Kulit pohon willow mengandung senyawa salisin, yang kemudian menjadi dasar penemuan aspirin, yakni obat yang paling banyak dikonsumsi di dunia untuk mengatasi nyeri.

Tak hanya itu, Aspirin memiliki beberapa manfaat medis, termasuk menurunkan demam dan pencegahan stroke. Penggunaan luas pertama adalah selama pandemi flu 1918 untuk obat panas.

[1] Hartati, N., Sri, dkk. 2017. Seed Physiology and Plant Growth Characterization of Commercial Roselle (Hibiscus sabdariffa L.). Jurnal tumbuhan Obat Indonesia Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Vol. 10(2): 45-95.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: