Musim Pandemi, Ini Tips Aman Anak Kembali Belajar di Sekolah

Sekolah tatap muka (sumber: pintek.id)Sekolah tatap muka (sumber: pintek.id)

Selain kecanggihan teknologi, pandemi menjadi alasan anak-anak harus belajar di rumah secara daring. Namun, setelah pandemi berakhir, anak-anak bisa kembali belajar tatap muka di sekolah, dan akan menjadi hal yang membahagiakan bagi siswa yang jenuh belajar secara daring. Meskipun demikian, sebagai orang tua, Anda harus memperhatikan tips kembali belajar di sekolah supaya anak aman dari penyakit menular, seperti influenza, TBC, hingga COVID-19 atau coronavirus.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, pandemi sangat memengaruhi cara belajar anak. Para orang tua yang mendapati buah hatinya harus belajar di rumah saat pandemi merasa sedikit cemas ketika akhirnya anak-anak harus kembali lagi ke sekolah. Meskipun pandemi mulai surut, ada beberapa hal yang dikhawatirkan saat si kecil kembali ke sekolah, di antaranya fleksibilitas pembelajaran, konsep belajar tatap muka, dan protokol kesehatan. Nah, supaya Anda bisa menghilangkan rasa cemas ini, Anda bisa melakukan tips berikut.

Tips Aman Kembali ke Sekolah

  • American Academy of Pediatrics (AAP) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merekomendasikan agar semua staf dan siswa di atas usia dua tahun harus menggunakan masker dalam ruangan.
  • Vaksinasi pada anak dan staf pengajar dilakukan untuk mencegah penyakit, sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh sebelum kembali ke sekolah.
  • Mengenakan pakaian tertutup dalam sekolah untuk mencegah virus menempel di tubuh.
  • Sering mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer di dalam lingkungan sekolah.
  • Tidak jajan sembarangan di sekolah, terutama di luar area sekolah.
Baca juga:  Tips Agar Anak Tetap Bersosialisasi Selama Pembelajaran Jarak Jauh

Selain melakukan tips di atas, para siswa juga harus menaati prosedur pembelajaran tatap muka yang telah disahkan pemerintah supaya aman. Berikut adalah prosedur pembelajaran tatap muka di Indonesia.

Prosedur Pembelajaran Tatap Muka

Sekolah tatap muka (sumber: detik)

Sekolah tatap muka (sumber: detik)

  • Tingkat SMA, SMK, MA, MAK, SMP, MTs, SD, MI, dan program kesetaraan harus menjaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 18 peserta didik per kelas.[1]
  • Tingkat SDLB, MILB, SMPLB, MTsLB dan SMLB, MALB harus menjaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal lima peserta didik per kelas.
  • Tingkat PAUD harus menjaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal lima peserta didik per kelas.
  • Jumlah hari dan jam pembelajaran tatap muka terbatas dengan pembagian rombongan belajar (shift). Ini dapat ditentukan satuan pendidikan dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan.
  • Menggunakan masker kain tiga lapis atau masker sekali pakai (masker bedah) yang menutupi hidung dan mulut sampai dagu. Masker kain digunakan setiap empat jam atau sebelum empat jam saat sudah lembap/basah.
  • Cuci tangan pakai sabun (CTPS) dengan air mengalir atau cairan pembersih tangan.
  • Tidak melakukan kontak fisik seperti bersalaman dan cium tangan.
  • Wajib sekolah dalam kondisi sehat dan jika mengidap penyakit harus dalam kondisi terkontrol.
  • Boleh masuk sekolah jika tidak memiliki gejala pandemi, termasuk orang yang serumah dengan warga satuan pendidikan.
Baca juga:  Tanda-tanda Anda Memiliki Gangguan Kecemasan yang Patut Diwaspadai

Prosedur dan tips aman kembali belajar tatap muka di sekolah di atas tentunya dibuat bukan karena cuma-cuma. Pakar kesehatan dan pendidik percaya bahwa siswa yang kembali ke sekolah untuk belajar harus diprioritaskan untuk menghindari dampak yang sangat besar dari melewatkan tatap muka pada kesejahteraan psikologis dan nilai akademik. Tentunya, keselamatan tenaga pendidik dan staf sekolah ikut diprioritaskan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketika prosedur pembelajaran tatap muka dilakukan di sekolah, maka penularan pandemi dapat diatasi. Selain itu, pada beberapa kasus ditemukan siswa dengan usia di bawah 12 tahun belum memenuhi syarat untuk vaksinasi, sehingga prosedur aman belajar tatap muka di sekolah perlu dijunjung tinggi. Ini dilakukan untuk mencegah penularan tanpa vaksin.

Sementara itu, bagi anak Anda yang usianya sudah 12 tahun ke atas, Anda bisa mendaftarkannya untuk divaksin. Ini sebagai perlindungan ekstra saat buah hati mulai sekolah kembali. Tak hanya memperkuat daya tahan tubuh, setidaknya jika anak Anda tertular virus, gejalanya tidak seburuk orang yang belum vaksin, sehingga risiko kematiannya lebih rendah.

Baca juga:  Kafein Ringankan Gejala Anak ADHD? Lalu Apa Efek Sampingnya?

Jika Anda ingin mendaftarkan anak untuk vaksin, pastikan Anda memahami langkah-langkah sebelum vaksin, seperti harus makan dengan gizi seimbang dan tidak boleh sakit. Selain itu, anak-anak yang akan divaksin tidak boleh kelelahan karena bisa memengaruhi efek samping setelah vaksin, seperti demam.

[1] Kemenkes. 2021. Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 3/KB2021, Nomor 384 Tahun 2021. Nomor HK.1.8/MENKES/4242/2021, Nomor 440-717 Tahun 2021.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: