Monogami Tidak Untuk Semua Orang, Kenapa?

Monogami, kondisi, satu, pasangan, suami, istri, wanita laki-laki, pria, setia, cinta, selingkuh, perselingkuhan, berselingkuh, alasan, psikologis, monos, gamos, peneliti, hasil, studi, psikolog, hubungan, poligami, seks, bosan, seksual, Pasangan saling setia seumur hidup

Cinta satu malam atau one night stand dan kasus perselingkuhan kerap terjadi dalam semua jenis hubungan. Sebagian orang mengatakan itu adalah tanda kegagalan monogami. Inilah mengapa kesetiaan seksual sulit dipatuhi dan mengapa itu masih masuk akal. Monogami sendiri berasal dari kata monos yang berarti satu atau sendiri, dan gamos yang berarti pernikahan) adalah kondisi hanya memiliki satu pasangan pada pernikahan.

Hasil studi menunjukkan, mereka yang menjalin hubungan monogami dan berlangsung lama, lebih sehat dari mereka yang single. Di seluruh dunia, sekitar 95 persen spesies mamalia dan 85 persen budaya manusia menganut poligami. Penelitian yang membandingkan status kesehatan pasangan monogami vs poligami, masih cukup langka.

Tetapi, ada studi yang menunjukkan bahwa hidup berpasangan dan menjadi setia, memberi manfaat kesehatan dan kebahagiaan yang lebih banyak dibanding hidup sendiri. Hidup berpasangan dan setia sama dengan tingkat depresi yang lebih rendah, kekebalan tubuh yang lebih tinggi dan kesehatan jantung yang lebih baik, kata profesor psikologi Washington University, Dr. David Barash. Bahkan, tingkat kasus kanker orang yang menikah, lebih sedikit dibanding yang tidak menikah. Ada juga sebuah studi yang meminta para relawan memandangi foto-foto pasangan mereka. Para relawan ini adalah orang-orang yang memiliki hubungan monogami cukup lama.

Tim peneliti menemukan, ketika relawan-relawan ini memandangi foto pasangan masing-masing, produksi hormon dopamin dan serotonin (hormon kebahagiaan) meningkat sama kadarnya dengan yang terjadi pada orang yang baru berpacaran. “Orang-orang yang memiliki hubungan jangka panjang juga menghasilkan hormon oksitosin yang tidak dimiliki oleh orang yang memiliki hubungan jangka pendek,” kata profesor biologi di Indian Institute of Science Education and Research, Dr. Milind Watve.

Baca juga:  Marak Beredar Produk Kosmetik Palsu, Amankah Krim Widodari Skincare Asli?

Namun, banyak orang – terutama yang muda – bertanya-tanya apakah monogami benar-benar satu-satunya bentuk hubungan yang bermakna. Beberapa orang menganggapnya ketinggalan zaman dan memprediksi kematian yang akan segera terjadi.

Walau beberapa pria sepertinya bisa menjalani hubungan monogami bebas masalah, sebagian yang lain merasa tidak siap untuk setia hanya pada satu wanita. Hal ini mendorong para peneliti untuk mencari tahu, apakah ada landasan ilmiah untuk kemampuan monogami seseorang.

Monogami, kondisi, satu, pasangan, suami, istri, wanita laki-laki, pria, setia, cinta, selingkuh, perselingkuhan, berselingkuh, alasan, psikologis, monos, gamos, peneliti, hasil, studi, psikolog, hubungan, poligami, seks, bosan, seksual,

Kerukunan suami istri dalam rumah tangga

Studi dalam jurnal Archives of Sexual Behavior memberikan bukti tambahan, beberapa pria memang bisa lebih sukses menjalani hubungan monogami dibanding yang lain. Ketika para peneliti memindai otak pria yang monogami dan yang tidak, mereka menemukan kunci perbedaan tentang bagaimana otak pria-pria ini bekerja.

Para peneliti merekrut 10 pria, yang selalu menjalani hubungan monogami. Lalu, mereka merekrut juga 10 pria lain yang menjalani hubungan dengan beberapa wanita sekaligus. Melansir Men’s Health. Para pria ini lalu ditunjukkan foto-foto yang eksplisit secara seksual, foto-foto romantis, atau foto-foto yang netral, seperti misalnya pemandangan atau lanskap.

Otak para pria di kedua grup berperilaku sama ketika melihat foto seksi dan foto netral. Tapi ketika melihat foto-foto yang romantis – misalnya pasangan berpelukan atau bergandengan tangan – ada perbedaan yang mencolok.

Baca juga:  Persiapan Umroh untuk Wanita: Siapkan 5 Hal Ini!

Pria-pria yang monogami otaknya memperlihatkan aktivitas yang aktif, pada bagian otak mereka yang berhubungan dengan imbalan, dibanding para pria non-monogami. Para peneliti percaya, foto-foto romantis, lebih memberikan kepuasan bagi para pria yang monogamis tadi, dibandingkan yang tidak.

Namun, bukan berarti hasil penelitian ini memberikan landasan biologis untuk monogami. Para peneliti mengatakan, hal ini hasil dari perilaku yang telah terlatih. Artinya, pria yang monogamis sudah pernah memiliki pengalaman menjalani hubungan romantis yang membahagiakan di dalam hubungan mereka, dibanding kelompok pria satunya.

Pengalaman ini membuat para pria tadi menghubungkan foto-foto romantis dengan perasaan puas. Yang artinya, mereka lebih mungkin untuk mengejar hubungan romantis. Perlu juga diingat, studi ini bisa jadi tidak berlaku untuk pria saja. Walau memang studi ini menguji otak pria, riset lain menemukan, berlawanan dengan kepercayaan yang ada, wanita juga tidak dirancang untuk menjalani hubungan monogami.

Bahkan, sebuah studi baru mengindikasikan, wanita lebih mungkin merasa bosan dengan seks yang mereka dapatkan dari hubungan jangka panjang. Sama dengan kebanyakan studi lainnya, para peneliti belum bisa memastikan, apakah kecenderungan monogami ini bersifat alamiah, atau berdasarkan pola didikan dan kebiasaan.

Monogami, kondisi, satu, pasangan, suami, istri, wanita laki-laki, pria, setia, cinta, selingkuh, perselingkuhan, berselingkuh, alasan, psikologis, monos, gamos, peneliti, hasil, studi, psikolog, hubungan, poligami, seks, bosan, seksual,

Pasangan kurang romantis

Secara sosiobiologi sifat pria itu seperti sifat spermanya yang agresif dan cenderung sulit monogami. Artinya, dalam hubungan pernikahan, kecenderungan laki-laki untuk selingkuh memang lebih besar. Lantas, apa yang dipikirkan laki-laki dan mengapa dia tega berselingkuh meskipun telah memiliki istri yang sempurna?

Baca juga:  Apa Itu Cedera Otak Traumatis dan Bagaimana Penanganannya?

Tak ada data statistik yang menunjukkan prevalensi pria selingkuh. Namun psikolog mengklasifikasikan beberapa hal yang jadi faktor penyebab pria selingkuh. Memang, setiap pria yang berselingkuh memiliki aneka alasan yang berbeda-beda. Psikolog dan terapis hubungan asal New York, Daniel Sapen membaginya dalam tiga hal seperti dikutip laman Everyday Health.

Mengatasi kebosanan rutinitas kehidupan

Menikah bertahun-tahun butuh komitmen kuat untuk tetap setia. Sehingga ketika sudah menikah lama muncul kebosanan terhadap rutinitas yang ada. Ketika kesempatan selingkuh itu ada, sepertinya membuat orang-orang ini merasa ‘hidup’.

Tidak bisa mengatasi masalah

Sapen mengatakan ada perselingkuhan tercipta bukan karena ada kesempatan ataupun kebiasaan pria tersebut. Melainkan perselingkuhan digunakan untuk menutupi masalah yang sedang dihadapi, misalnya masalah berat dalam hubungan. Ada orang selingkuh bukan karena kebiasaan ataupun kesempatan, melainkan mereka tidak mampu melepaskan ketidakpuasan dalam hubungan secara langsung. Sehingga mereka mencari pelarian dengan selingkuh

Tak nyaman dengan hubungan monogami

Ada beberapa orang yang merasa tidak nyaman hanya dengan memiliki hubungan dengan satu orang saja. Sehingga mencari orang lain lagi, bisa membuatnya terpuaskan. “Hubungan seksual yang berbeda bisa jadi penting bagi segelintir orang. Hal ini mampu membuatnya menjadi sosok yang kuat dan merasa bisa diandalkan,” kata Sapen.

Pada orang-orang ini mereka menganggap kejujuran tidaklah penting. Mereka mungkin merasa bersalah ketika melakukan perselingkuhan tapi merasa amat menyenangkan ketika terlibat dalam perselingkuhan lagi.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: