Mitos Seputar Pubertas dari Sekolah, Apa Saja?

Ilustrasi: anak berulang tahun (pexels: Pavel Danilyuk)Ilustrasi: anak berulang tahun (pexels: Pavel Danilyuk)

Setiap manusia pasti akan dihadapkan pada masa remaja atau pubertas untuk berkembang menjadi manusia dewasa. Masa pubertas bisa diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan dewasa secara biologis, kognitif, dan sosial emosional.[1] Sayangnya, ada banyak mitos yang beredar di sekolah mengenai pubertas dan sebaiknya tidak dibawa pulang ke rumah untuk diajarkan kepada adik-adik yang baru saja puber.

Berbicara tentang pubertas, seksualitas, dan perubahan tubuh kepada orang tua mungkin terasa sangat tidak nyaman, tetapi ini adalah percakapan penting yang harus dilakukan, apalagi jika Anda adalah pelajar yang duduk di jenjang SMP. Bisa dibilang, ini adalah masa-masa ketika banyak anak mengalami masa puber.

Meskipun begitu, tidak semua pelajaran tentang pubertas atau pendidikan seks dini bisa Anda ceritakan kepada orang tua. Ini karena tidak banyak guru yang membahasnya secara rinci kepada muridnya. Sebaiknya, Anda selalu menyaring setiap informasi yang diberikan sebelum membincangkannya dengan orang tua.

Dilansir dari HuffPost, ada banyak mitos pubertas yang tak sengaja menyebar. Ini bisa disebabkan informan yang kurang detail saat menjelaskan atau cerita usil para siswa. Sebaiknya Anda tidak membawa kabar ini ke rumah dan menceritakannya dengan teman atau orang tua. Bisa jadi, mereka akan syok mendengar mitos yang Anda ceritakan. Lalu, apa saja mitos-mitos ini?

Baca juga:  Cara Sukses Mendisiplinkan Anak Dengan Baik

Pubertas Dibedakan Berdasarkan Gender

Ilustrasi: remaja sekolah (pexels: Max Fischer)

Ilustrasi: remaja sekolah (pexels: Max Fischer)

Di sekolah dan lembaga pendidikan yang belum memiliki program pembelajaran mengenai pendidikan seks dini atau yang tidak mematuhi standar pendidikan seks nasional, biasanya tidak menjelaskan informasi detail mengenai pubertas. Selain itu, mereka memberitahu seputar pubertas kepada siswa berdasarkan gender anak.

Sebagai contoh, anak laki-laki yang pubertas biasanya mulai mimpi basah dan anak perempuan mulai menstruasi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ini, tetapi informasi yang kurang mendetail dan masih mengandalkan stereotip tradisional membuat anak-anak kurang puas.

Ini berdampak pada rasa ingin tahu mereka yang harus dipenuhi. Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan mereka, tak jarang anak-anak mulai mengakses internet. Sementara itu, tidak semua informasi yang bisa mereka dapatkan dari internet akurat, justru bisa menjerumuskan mereka pada konten-konten yang negatif.

Baca juga:  Mengapa Saya Terbiasa Membuang Banyak Waktu?

Ciri Pubertas Terlihat pada Perubahan Tubuh

Ilustrasi: pubertas pada anak laki-laki

Ilustrasi: pubertas pada anak laki-laki

Menurut seorang pakar pendidikan seks dan pendiri Birds and Bees and Kids, satu hal yang mungkin terlewatkan dari program pubertas adalah berbicara mengenai perkembangan otak remaja. Bisa kita ketahui, hampir seluruh pelajaran biologi di sekolah atau pedoman pendidikan seks kebanyakan menjelaskan ciri-ciri pubertas hanya dari fisik.

Bisa dibilang, Anda bisa mengetahui jika Anda sudah memasuki masa pubertas saat mengalami perubahan fisik. Tentunya, hal ini kurang benar, karena ketika Anda memasuki usia remaja, tidak hanya fisik yang berubah, tetapi juga otak. Otak akan terus berkembang di masa puber dan ditandai dengan perubahan cara berpikir anak.

Selain itu, perkembangan otak pada masa puber ditandai dengan gejala emosi yang tidak stabil. Ini karena otak akan dipaksa terus berkembang dan berpikir dengan cara yang baru. Ketika masa pubertas selesai, maka emosi Anda akan menjadi lebih stabil, karena perkembangan otak yang mulai stabil dan sedikit melambat.

Setiap Orang Pasti Menyukai Lawan Jenis

Ilustrasi: sepasang remaja

Ilustrasi: sepasang remaja

Mitos yang sering terdengar dan menjadi salah satu ciri pubertas yang kerap diajarkan di sekolah adalah setiap orang pasti menyukai lawan jenis. Hal ini tidak salah, mengingat otak yang mengalami transisi dari anak-anak ke dewasa mulai berkembang pesat. Namun, hal ini tidak berlaku bagi semua orang.

Baca juga:  Perkembangan Kehamilan Usia 3 Bulan

Tidak semua orang mempelajari bidang identifikasi seksual dengan benar, apalagi melihat banyak sekolah yang masih merasa tabu untuk mengajarkan pendidikan seks dini kepada muridnya. Seringkali, hal ini membuat orang merasa bingung dengan identitas seksualnya, sehingga muncul rasa suka terhadap sesama jenis.

Bisa dibilang, hak paten menyukai lawan jenis dalam konsep ilmu pubertas yang diajarkan pada siswa perlu dikembangkan dan lebih fokus dalam bidang identifikasi seksual. Sehingga, para siswa bisa mengenal dirinya lebih baik saat memasuki usia pubertas. Ini adalah salah satu cara untuk mencegah krisis identitas seksual sekaligus LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender).

[1] Suryani, Lilis, Syahniar, Zikra. 2013. Penyesuaian Diri pada Masa Pubertas. Konselor Jurnal Ilmiah Konseling UNP, Vol. 2(1): 136-140.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: