Waspada, Minuman Beralkohol Bisa Rusak Otak Remaja

Ilustrasi: mengonsumsi minuman beralkoholIlustrasi: mengonsumsi minuman beralkohol

Di Indonesia, banyak remaja yang mengalami berbagai masalah sosial hingga akhirnya membuat mereka mengonsumsi minuman beralkohol, bahkan rata-rata yang minum minuman keras masih berusia 12 hingga 15 tahun.[1] Padahal, hal ini sangat berbahaya, tidak hanya terhadap mental anak, tetapi juga kesehatan. Alkohol diklaim bisa merusak otak di masa remaja dalam jangka waktu yang lama.

Kenapa Alkohol Bisa Rusak Otak Remaja?

Secara umum dan legal, alkohol bisa didapatkan oleh orang dewasa dan di Tanah Air, Anda baru boleh minum alkohol saat memasuki usia 21 tahun. Sementara itu, di beberapa negara lain, minuman keras bisa didapatkan oleh remaja usia 18 tahun hingga 20 tahun. Aturan tersebut dibuat tidak hanya untuk meminimalkan konsumsi minuman keras, tetapi juga untuk menurunkan risiko kesehatan dan efek samping minum minuman beralkohol.

Menenggak minuman keras pada orang dewasa tidak hanya menyebabkan mabuk atau hangover, tetapi juga bisa merusak citra Anda di hadapan orang sekitar. Selain itu, kandungan alkohol yang terlalu tinggi pada minuman diketahui tidak baik untuk kesehatan ginjal dan hati.

Baca juga:  Waspada, Cahaya Biru Ponsel Bisa Rusak Kulit Wajah

Dilansir dari Harvard Health Publishing, ada tiga periode dalam kehidupan ketika otak mengalami perubahan besar dan sangat rentan terhadap efek alkohol. Dua dari periode tersebut berada di awal dan akhir kehidupan. Di awal kehidupan, ketika seorang wanita hamil minum minuman keras, dapat merusak perkembangan otak janin, menyebabkan masalah fisik, ketidakmampuan belajar, dan masalah perilaku.

Ilustrasi: minuman beralkohol

Ilustrasi: minuman beralkohol

Lalu, di akhir kehidupan, efek samping minum minuman keras akan mulai terasa saat Anda berusia 65 tahun dan masih memiliki kebiasaan tersebut. Kandungan alkohol pada minuman akan memperburuk fungsi otak Anda dan menyebabkan beragam penyakit kronis, di antaranya sakit jantung, kanker, dan demensia.

Periode ketiga adalah masa remaja dan ini sering dialami oleh mereka yang mulai minum minuman keras di bawah umur. Remaja adalah usia ketika seseorang memasuki masa transisi antara kana-kanak dan dewasa. Pada usia ini, otak akan tumbuh dan berubah dari otak seorang anak menjadi otak orang dewasa. Dalam perkembangannya, otak memerlukan dukungan berupa nutrisi dari makanan yang bergizi yang sehat. Sebaliknya, jika Anda mengonsumsi minuman keras yang mengandung alkohol, proses perkembangan dan pertumbuhan otak akan terganggu. Hal ini yang menyebabkan risiko gangguan ingatan dan kerusakan otak.

Baca juga:  Mengatasi Anak Penderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder)

Sebagai orang tua, Anda perlu waspada jika remaja di rumah Anda mulai menyukai minuman keras. Sebagian besar orang tua mungkin tidak mengetahui apa yang dilakukan anaknya di luar dan bagaimana atau dengan siapa mereka bergaul. Untuk itu, Anda perlu mengawasi mereka dengan baik. Namun, pastikan juga Anda tidak terlalu berlebihan dalam mengontrol hidup anak Anda. Anda hanya perlu memastikan bahwa mereka hidup dengan baik dan benar.

Remaja di bawah umur yang mulai mengonsumsi alkohol biasanya dipicu oleh berbagai hal, termasuk lingkungan pertemanan yang tidak sehat dan kondisi keluarga yang kurang harmonis. Selain itu, banyak juga remaja yang mengikuti gaya hidup orang tua yang alkoholik. Jika Anda tidak ingin anak Anda minum minuman keras di usia dini, Anda juga perlu menyingkirkan minuman berbahaya itu dari dapur atau lemari pendingin di rumah.

Baca juga:  Kafein Ringankan Gejala Anak ADHD? Lalu Apa Efek Sampingnya?
Ilustrasi: pengonsumsi minuman beralkohol

Ilustrasi: pengonsumsi minuman beralkohol

TipsĀ  Cegah Anak Minum Minuman Beralkohol

Berikan pengetahuan secara rinci pada anak Anda yang berusia 12 hingga 18 tahun tentang bahaya minum minuman keras, terutama jenis penyakit yang bisa disebabkan minuman keras. Selain itu, berikan penjelasan jika minuman beralkohol tidak boleh dikonsumsi jika anak Anda belum cukup umur.

Anda juga perlu membuat peraturan yang ketat di rumah tentang minum minuman keras. Sebagai orang tua yang bijak, Anda harus memiliki aturan minum selagi ada anak di rumah, apalagi jika anak Anda mulai memasuki usia remaja. Sebagai contoh, Anda boleh minum minuman keras saat anak-anak tidak ada di rumah atau tidak minum saat di depan mereka. Peraturan ini bisa berlaku dengan baik jika ada konsekuensinya. Sebagai contoh, bagi Anda yang melanggar peraturan, harus berhenti minum minuman beralkohol selama 1 bulan atau 1 tahun.

[1] Wardah, Fatma Rizkia, Endang R. Surjaningrum. 2013. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga, Vol. 2(2): 96-102.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: