Apa Saja Merk Gelatin Halal Menurut LPPOM MUI?

Jeli gelatinJeli gelatin

Bagi Anda yang gemar mengonsumsi makanan bertekstur kenyal, pastinya sudah tidak asing dengan gelatin. Selain memiliki peran penting dalam dunia kuliner, gelatin juga punya manfaat di dunia kesehatan dan kecantikan. Sementara ada banyak produk gelatin dalam berbagai merk, apa saja brand gelatin yang halal?

Gelatin Halal Menurut LPPOM MUI

Gelatin merupakan salah satu produk olahan yang didapatkan dari hasil hidrolisis kolagen, yang merupakan jenis protein utama pada daging, tulang, atau kulit hewan. Kolagen sebagai bahan dasar pembuatan gelatin diperoleh dari proses ekstraksi kulit, daging, dan tulang hewan segar.[1] Karena bahan dasarnya, tidak semua produk gelatin dapat dikatakan halal, apalagi mengacu pada hukum kehalalan makanan atau barang pakai.

Dilansir dari Slamet Purwanto, gelatin halal adalah produk turunan protein bernama kolagen yang mendapat sertifikasi halal dari lembaga yang berwenang, seperti MUI di Indonesia. Untuk mendapatkan sertifikat gelatin halal, produsen atau penjual produk perlu mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh lembaga tersebut. Sehingga, mereka tidak bisa sembarangan dalam membuat produk.

Produk yang sudah jadi harus diteliti oleh LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia) untuk diketahui status halal atau haramnya. Untuk mengidentifikasi gelatin halal, produk dilihat bahan dasar atau komposisinya. Informasi produk gelatin akan dilihat melalui product data sheet atau MDS (Material Safety Data Sheets) yang dikeluarkan oleh perusahaan terkait.

Baca juga:  Dengan Berbagai Varian Produk dan Rasa, Bisnis Kue Basah Mendatangkan Keuntungan Hingga Ratusan Juta Rupiah
Butir gelatin halal (sumber: shopee.co.id)

Butir gelatin halal (sumber: shopee.co.id)

Untuk mempermudah proses identifikasi dan agar prosesnya lebih detail, LPPOM MUI memiliki 2 kategori seleksi bahan, yaitu bahan positive list dan bahan non positive list. Jika sebuah produk gelatin mengandung bahan positive list, maka produk tersebut tidak perlu melalui proses seleksi selanjutnya.

Produk yang tidak perlu melalui proses seleksi bahan, artinya dapat dinyatakan halal. Yang termasuk positive list, contohnya bahan tambang, bahan kimia, bahan nabati, bahan yang dihasilkan dari daging hewan yang halal, hewan yang hidup di air, bahan mikrobial, polimer berbasis selulosa, polimer sintetik, air, dan es batu. Sementara itu, jika bahan pada produk gelatin tidak mengandung atau tidak termasuk positive list, harus diidentifikasi kembali dan diseleksi sebelum disertifikasi.

Dalam proses mengidentifikasi keharaman sebuah produk, gelatin tidak bisa dinyatakan halal jika mengandung porcine. Porcine merupakan istilah industri yang dipakai untuk sesuatu yang berkaitan dengan babi. Selain dikenal dalam dunia industri, istilah porcine juga dikenal dalam dunia medis. Selain porcine, ada banyak istilah yang dikaitkan dengan produk babi (termasuk kulit, tulang, daging, darah, dan bagian tubuh lainnya), contohnya PIG, PORK, Bacon, Lard, Sow Milk, Sow, Ham, dan masih banyak lagi.

Baca juga:  Berada di Bawah Pengawasan Dokter, Krim LBC No 16 Dianggap Bisa Samarkan Noda di Wajah

Sebagai pengganti porcine, untuk membuat gelatin halal, biasanya produsen menggunakan bovine. Bovine merupakan produk bahan gelatin yang terbuat dari subfamili bovid, seperti sapi, bison, kerbau, dan hewan ruminansia lainnya. Bovine yang sering dipakai di Indonesia untuk membuat gelatin adalah bovine sapi. Ini karena mudah didapatkan dalam jumlah banyak.

Selain gelatin berbahan dasar sapi, banyak juga orang yang menggunakan kulit ikan dengan kandungan kolagen tinggi untuk membuat gelatin. Sayangnya, gelatin ikan harganya lebih mahal dibanding gelatin sapi. Ini karena cara ekstraksi yang rumit dan cara memperoleh kolagen yang sulit.

Untuk mendapatkan sertifikat halal, tidak hanya dilihat dari bahan dasarnya, tetapi juga harus melalui beberapa proses. Ada 4 metode yang harus dilakukan untuk mengetahui halal atau tidaknya sebuah produk gelatin. Metode pertama, yaitu metode spektroskopi inframerah. Ini merupakan teknik analisis produk dengan prinsip interaksi antara sampel yang diuji dengan radiasi elektromagnetik pada area inframerah.

Jeli gelatin (sumber: ebay.com)

Jeli gelatin (sumber: ebay.com)

Setelah melalui metode tersebut, barang akan melalui proses DSC yang menggunakan metode differential scanning calorimeter. Ini adalah teknik untuk mendeteksi adanya produk turunan babi pada keadaan tunggal maupun campuran pada gelatin yang diuji coba.

Baca juga:  Info Lengkap Cara Membuat Susu Almond Booster ASI

Teknik yang tak kalah penting berikutnya adalah metode kromatografi yang melibatkan fase diam dan gerak. Tujuannya yaitu untuk mempersiapkan gelatin yang mengandung produk non-halal untuk dianalisis lebih lanjut. Teknik paling akhir untuk uji kehalalan produk, yaitu menggunakan metode electronic nose. Teknik tersebut memakai sensor gas kimiawi elektronik untuk mengetahui aroma yang kompleks dari gelatin.

Merk Gelatin Halal

  • Gelita
  • CGL
  • Harmony
  • Green Valley Halal Gelatin

Itulah sejumlah merk gelatin yang dinyatakan halal dan mudah ditemukan di pasaran Indonesia. Selain itu, ada juga beberapa produk gelatin halal yang biasanya dijual dalam kemasan plastik. Sebaiknya, sebelum membeli produk repack seperti ini, Anda menanyakan komposisi dan sertifikasi kehalalannya.

[1] Suryati, dkk. 2015. Pembuatan dan Karakterisasi Gelatin dari Ceker Ayam dengan Proses Hidrolisis. Jurnal Teknologi Kimia Unimal, Vol. 4(2): 66-79.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: