Mulai Merasa Intoleransi terhadap Laktosa? Anda Tidak Sendirian

Ilustrasi: intoleransi laktosa (sumber: liverdoctor.com)Ilustrasi: intoleransi laktosa (sumber: liverdoctor.com)

Salah satu gejala umum ketika tubuh intoleransi terhadap laktosa pada susu adalah diare.[1] Selain dialami anak-anak, intoleransi laktosa juga kerap dirasakan orang dewasa. Ini mungkin agak membingungkan, terutama bagi Anda yang dulunya bisa minum susu tanpa efek samping, tiba-tiba mulai merasa intoleransi terhadap laktosa. Namun, ternyata hal ini cukup umum, karena banyak orang yang menjadi intoleransi laktosa.

Kemampuan Toleransi Laktosa Manusia

Faktanya, hanya sepertiga orang dewasa saat ini yang dapat mencerna laktosa. Selama bertahun-tahun, para peneliti berasumsi bahwa manusia mengadopsi kemampuan toleransi laktosa ketika nenek moyang prasejarah kita mulai minum susu. Tak heran jika kemudian Anda bisa menjadi intoleransi laktosa setelah toleransi laktosa.

Sebuah studi baru yang diterbitkan pada hari Rabu (3/8) di jurnal Nature oleh University of Bristol oleh peneliti University College London menemukan bahwa kemampuan orang untuk mencerna laktosa baru ada 5.000 tahun lalu. Jaraknya cukup jauh jika dibandingkan dengan bukti bahwa bayi menyusui di sekitar 6.000 SM. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi susu bukanlah alasan peningkatan toleransi laktosa.

“Susu sebenarnya tidak membantu sama sekali untuk meningkatkan toleransi laktosa,” kata Mark Thomas, seorang peneliti University College London, kepada jurnalis Deutsche Welle. “Saya senang dengan metode pemodelan statistik yang kami kembangkan. Sejauh yang saya ketahui, belum ada yang melakukan itu sebelumnya.”

Baca juga:  Apakah Diet Bisa Hilangkan Jerawat pada Orang Dewasa?

Bagaimana Orang Mulai Toleransi Laktosa?

“Studi genetik menunjukkan bahwa persistensi laktase adalah sifat gen tunggal yang paling kuat dipilih untuk berevolusi dalam 10.000 tahun terakhir,” kata Thomas. “Pada sekitar 1.000 SM, jumlah manusia yang mampu mencerna laktosa, yang dikodekan dalam satu gen, mulai meningkat pesat.”

Setelah menemukan bahwa konsumsi susu tidak berada di balik ledakan pertumbuhan ini, para peneliti menguji dua hipotesis alternatif. Satu hipotesis adalah bahwa ketika manusia terpapar lebih banyak patogen, gejala intoleransi laktosa yang dikombinasikan dengan agen infeksi baru bisa menjadi mematikan.

Ilustrasi: bahan makanan sumber laktosa (sumber: indiatimes)

Ilustrasi: bahan makanan sumber laktosa (sumber: indiatimes)

“Kami tahu bahwa paparan patogen akan meningkat selama 10.000 tahun terakhir seiring dengan meningkatnya kepadatan populasi, karena orang hidup lebih dekat dengan hewan peliharaan mereka,” kata Thomas. “Hipotesis lainnya berkaitan dengan kelaparan. Ketika tanaman yang ditanam oleh populasi prasejarah yang tidak toleransi laktosa gagal, susu dan produk susu menjadi satu-satunya pilihan makanan mereka.”

Baca juga:  Waspada Terhadap Gangguan Thelazia Gulosa, Salah Satu Jenis Cacing Mata

Para peneliti menggunakan metode pemodelan komputer yang sama untuk memeriksa apakah ide-ide ini dapat menjelaskan evolusi persistensi laktase dengan lebih baik. Namun, semua teori yang pada akhirnya berhubungan dengan penggunaan susu ini tampaknya tidak membantu. Studi ini sebagian besar berfokus pada populasi Eropa, dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk benua lain.

“Sayangnya, menemukan DNA purba di negara-negara Afrika lebih sulit karena lebih panas,” kata Thomas. “Panas adalah penentu besar apakah DNA bisa bertahan.”

Kemampuan Toleransi Laktosa Bisa Berkurang

Semua bayi biasanya dapat mencerna laktosa. Namun, bagi sebagian besar dari mereka, kemampuan ini akan mulai berkurang setelah mereka berhenti minum ASI. Saat ini sekitar dua pertiga orang tidak memiliki laktase, yang berarti mereka tidak dapat mencerna laktosa, gula utama dalam susu.

Orang yang laktase non-persistent tidak dapat menghasilkan enzim yang disebut laktase, yang memecah laktosa. Ketika enzim ini tidak ada, laktosa bebas beredar di usus besar dan ini membuat bakteri meningkat, sehingga menyebabkan efek samping seperti kram, perut kembung, dan diare yang akhirnya dikenal sebagai gejala intoleransi laktosa.

Baca juga:  Ini Cara Deteksi Kesehatan Tubuh dari Kondisi Kuku

Di sisi lain, hasil penelitian ini bertentangan dengan kepercayaan luas bahwa konsumsi susu nenek moyang prasejarah kita menyebabkan evolusi variasi genetik. Ini yang memungkinkan manusia mampu mencerna laktosa bahkan setelah dewasa. Asumsi ini menjadi kuat, ketika banyak persepsi mengenai manfaat kesehatan susu. Bahkan perusahaan susu, dokter, dan ahli gizi ikut berpendapat bahwa susu menjadi produk penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin D, kalsium, dan protein harian.

Untungnya, para peneliti dengan cepat membantah ide promosi susu tersebut setelah menganalisis DNA dan informasi medis orang-orang di Inggris. Para ahli tersebut menemukan bahwa hanya sedikit manusia dewasa yang tidak mendapatkan gejala intoleransi laktosa setelah minum susu. Selain itu, beberapa orang dewasa dianjurkan minum susu jika memang kekurangan vitamin D dan kalsium.

[1] Aminah, Siti. 2012. Pengaruh Susu Bebas Laktosa terhadap Masa Perawatan Pasien Anak dengan Diare Akut Dehidrasi Tidak Berat (Skripsi). Program Pendidikan Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: