Tips Jaga Kesehatan untuk Wanita Usia 40-an dan 50-an

Ilustrasi: wanita dewasaIlustrasi: wanita dewasa

Memasuki usia 40-an atau 50-an, secara umum wanita akan mengalami rasa cemas karena mendekati masa menopause. Ketika sudah memasuki usia perimenopause tersebut, kaum Hawa perlu pintar-pintar dalam menjaga kesehatannya karena sewaktu-waktu mereka bisa mengalami penurunan daya imun. Lalu, bagaimana tips menjaga kesehatan di usia tersebut?

Sebagian besar wanita di usia 40 hingga 50 tahun akan mengalami gejala cemas ringan karena menopause. Selain dapat menyebabkan penurunan kesehatan, menopause juga bisa mengubah sebagian kecil dari bentuk fisik mereka. Menopause sendiri adalah fase terakhir ketika seorang wanita berhenti mengalami menstruasi. Pada usia 40-an hingga 50-an, perempuan yang memasuki masa menopause akan mengalami penurunan atau kehilangan hormon estrogen.[1] Hal ini menyebabkan gangguan pada aktivitas sehari-hari dan penurunan kualitas hidup.

Dilansir dari WebMD, kualitas hidup yang menurun pada wanita usia 40-an dan 50-an bisa diatasi dengan selalu menjaga kesehatan. Pada usia tersebut, Anda juga perlu melakukan beberapa tes skrining untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda. Untuk lebih jelas mengenai tips menjaga kesehatan di usia perimenopause, Anda bisa melihat ulasan berikut.

Konsultasikan Program KB

alat, kontrasepsi, melahirkan, kehamilan, hamil, hormon, estrogen, produksi, ASI, bayi, pilihan, pil, KB, IUD, implan, suntikan, patch, koyo, metode, penghalang, kondom, klap serviks, diafragma, suntikan, cincin, vagina

Ilustrasi: Pil KB & IUD (sumber: feministing.com)

Kunjungi dokter kandungan Anda dan konsultasikan tentang jenis program KB yang pernah Anda lakukan. Ada kemungkinan bahwa alat kontrasepsi atau pil KB yang pernah Anda pakai bisa mengubah kondisi kesehatan Anda di usia 40-an dan 50-an. Selain itu, Anda juga perlu berkonsultasi pada dokter jika Anda ingin beralih ke alat kontrasepsi lain.

Baca juga:  Nivea White Oil Control Make Up Clear 2in1, Pembersih Wajah Untuk Kulit Berjerawat

Di usia 40-an dan 50-an, masih ada wanita yang terbilang produktif meskipun mulai memasuki masa menopause. Biasanya, untuk menekan angka kelahiran, wanita usia 40-an dan 50-an disarankan untuk mengganti alat kontrasepsi mereka. Pasien bisa beralih ke alat kontrasepsi oral dosis rendah, IUD, patch estrogen, atau metode lain.

Perlu Anda ketahui juga, beberapa jenis pil KB dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembekuan darah pada wanita perimenopause. Selain itu, alat kontrasepsi oral dosis tinggi harus dihindari oleh wanita perimenopause dengan riwayat obesitas, karena risiko  tromboemboli vena meningkat dengan bertambahnya usia.

Atasi Gejala Menopause dengan Tepat

Gerah atau kepanasan merupakan gejala awal menopause (sumber: hellodoktor.com)

Gerah atau kepanasan gejala awal menopause (sumber: hellodoktor.com)

Gejala menopause secara umum, di antaranya hot flash, perubahan suasana hati, dan vagina kering. Berkonsultasilah dengan dokter Anda sebelum gejala menopause muncul. Diskusikan bagaimana cara yang tepat untuk meredakan gejalanya jika muncul. Anda tidak bisa meredakan gejalanya secara sembarangan, karena ini berkaitan dengan hormon dan kondisi kesehatan Anda.

Baca juga:  Update Harga Rangkaian Wardah Renew You Anti Aging Series, Untuk Usia Berapa?

Biasanya, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan terapi penggantian hormon jangka pendek (HRT). HRT juga sering dilakukan oleh para wanita berusia 40-an dan 50-an yang mengalami gejala menopause sedang hingga berat dengan risiko rendah terhadap kanker payudara, penyakit jantung, stroke, dan pembekuan darah.

Jaga Kesehatan Tulang

Latihan fisik untuk menjaga kesehatan tulang

Latihan fisik untuk menjaga kesehatan tulang

Wanita yang mengalami menopause akan rentan terhadap penyakit tulang, seperti osteoporosis. Untuk itu, bagi Anda yang sedang dalam masa perimenopause atau berada di usia 40-an dan 50-an, perlu menjaga kesehatan tulang dengan baik. Konsumsilah makanan dengan kadar kalsium dan vitamin D yang cukup. Ini akan membantu mencegah gejala osteoporosis saat menopause.

Selain itu, Anda juga harus mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dengan cara berolahraga secara teratur, mengikuti senam osteoporosis, tidak merokok, menghentikan kebiasaan minum minuman beralkohol. Anda juga bisa meminta vitamin atau suplemen kalsium dari dokter untuk menurunkan risiko osteoporosis saat menopause.

Baca juga:  Oriahnn, Obat Baru Atasi Menstruasi Berlebihan Akibat Fibroid

Lakukan Skrining

Tes skrining (sumber: headtopics.com)

Tes skrining (sumber: headtopics.com)

Di usia 40-an dan 50-an, pastikan Anda tidak absen dari jadwal mammogram Anda. Lakukan skrining tersebut secara teratur untuk memeriksa apakah ada kanker payudara di tubuh Anda atau tidak. Selain itu, Anda juga harus melakukan tes skrining terhadap penyakit diabetes, kanker serviks, dan kolesterol.

Untuk tes skrining kanker serviks, bisa Anda lakukan saat berusia 30-an hingga 65-an. Pap smear dapat dilakukan setiap 3 tahun sekali atau setiap 5 tahun bersamaan dengan tes HPV. Penting melakukan skrining untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda sekaligus mengatasinya.

Selain itu, bagi Anda yang mengalami penurunan daya imun, disarankan untuk melakukan imunisasi vaksin flu setiap tahun. Anda juga memerlukan vaksin pneumonia jika Anda pernah merokok, memiliki riwayat penyakit jantung atau paru-paru jangka panjang, berisiko diabetes, sering mengonsumsi minuman beralkohol, dan memiliki penyakit hati jangka panjang.

[1] Maita, Liva, dkk. 2013. Karakteristik Wanita dengan Keluhan Masa Menopause di Wilayah Kerja Puskesmas Rejosari. Jurnal Kesehatan Komunitas STIKes Hang Tuah Pekanbaru, Vol. 2(3): 128-131.

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: