Kabar Gembira, Menikah Turunkan Risiko Demensia pada Wanita

Menikah Turunkan Risiko Demensia pada Wanita - www.gorhamsavings.bank

Menurut sebuah penelitian, menikah ternyata memiliki banyak sekali manfaat. Di antara manfaat yang ada, salah satunya adalah risiko demensia yang lebih rendah pada wanita. Dengan melakukan sebuah prosesi pernikahan, risiko demensia pada wanita dikatakan dapat diturunkan. Hal ini berkaitan erat dengan tingkat depresi, stress, dan cara kerja otak seorang wanita.

Demensia pada Wanita

Sebelum membahas tentang demensia yang terjadi pada wanita, Anda juga perlu mengetahui makna di balik kata demensia. Demensia merupakan kumpulan dari berbagai gejala penurunan fungsi kognitif otak. Hal ini disebabkan oleh kematian sebagian sel yang ada di otak. Demensia juga sering menyebabkan hilangnya ingatan dan penurunan cara berpikir atau disebut pikun.

Selain itu, demensia pada beberapa orang dapat menyebabkan perubahan tingkah laku serta kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Hilangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari ini juga disebabkan oleh penurunan memori. Penurunan memori pada otak seseorang akan berdampak pula dengan kemampuan mereka untuk beraktivitas. 

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, sudah lebih dari 48 juta orang di dunia yang mengalami demensia. Walaupun demensia dapat terjadi pada pria, sebagian besar kasus demensia tampaknya diderita oleh wanita. Hal ini karena wanita cenderung memiliki kepekaan lebih terhadap lingkungan. Karena perubahan hormon juga, seorang wanita seringkali mengalami ketidakstabilan emosi.

Pengendalian emosi juga berperan penting dalam menurunkan tingkat risiko terhadap demensia. Jika seseorang mudah emosi dan tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik, ada banyak sekali sel otak yang mudah rusak. Semakin banyaknya sel-sel otak yang rusak inilah penyebab utama dari demensia pada wanita. 

Wanita Sakit Demensia - www.getold.com

Wanita Sakit Demensia – www.getold.com

Menurut penelitian, wanita yang sudah menikah memiliki peluang jauh lebih rendah untuk didiagnosis dengan gangguan tersebut. Ini berbanding terbalik dengan mereka yang bercerai, belum menikah, dan janda. Dan, sebuah pernikahan tampaknya lebih baik untuk menurunkan risiko demensia daripada pacaran.

Diteliti pula, orang yang bercerai memiliki risiko lebih besar terhadap demensia dibanding dengan mereka yang masih dalam ikatan pernikahan. Wanita yang bercerai dikatakan memiliki risiko 30% lebih tinggi untuk demensia dibanding dengan wanita yang masih dalam usia pernikahan. Seorang profesor sosiologi bernama Hui Liu menegaskan bahwa ada banyak teori mengapa pernikahan dapat mencegah gangguan tersebut. 

Perceraian atau belum menikah dapat menyebabkan stres secara finansial dan dilema terhadap hidup tanpa pasangan. Orang yang menikah, tentu saja secara finansial memiliki taraf lebih baik dan tidak khawatir terhadap hidupnya. Ada juga faktor-faktor lain yang menjadi alasan mengapa menikah dapat menjaga kesehatan wanita, seperti manfaat psikologi yang mereka dapatkan. 

Jika seorang wanita bercerai, ini dapat menyebabkan stres finansial dan emosional. Secara langsung, stress dapat memengaruhi fungsi mental atau kognitif. Depresi dari sebuah perceraian dapat meningkatkan risiko penyakit demensia pada wanita. Demensia menyangkut bagian otak bernama korteks. Korteks berkembang sebagai pusat pemrosesan secara kognitif. Korteks mengatur tingkat fungsi otak dan jika korteks berada di bawah tingkat fungsi normal, saat itulah wanita dapat mengalami demensia.

Untuk mencegah demensia sejak dini, perlu adanya dukungan secara emosional. Seorang ahli psikologi menjelaskan bahwa wanita yang menikah dapat menemukan jaringan sosial. Dalam hal ini pula, seorang wanita akan mendapatkan dukungan secara moral dan emosional melalui pasangan dan keluarga secara lebih. Dengan menikah, seorang wanita dapat meningkatkan integrasi sosial yang mendukung kesehatan kognitif mereka.

Menikah dapat Menurunkan Risiko Demensia

Sebuah penelitian dengan studi kasus apakah menikah dapat menurunkan risiko demensia pada wanita, tampaknya mengundang antusias masyarakat. Penelitian ini diikuti lebih dari 15.000 orang dengan usia sekitar 52 tahun, bahkan beberapa di antaranya adalah lansia. Pada awal proses penelitian, tidak ditunjukkan adanya tanda demensia oleh peserta yang hadir.

Risiko Demensia pada Wanita - newsnetwork.mayoclinic.org

Risiko Demensia pada Wanita – newsnetwork.mayoclinic.org

Untuk melakukan penelitian, para ahli menggunakan wanita dengan status telah menikah dan masih berada dalam usia pernikahan. Hal ini bertujuan untuk memprediksi mental peserta dengan mengukur fungsi kognitif mereka setiap 2 tahun terakhir. Studi ini menggunakan metode langsung melalui telepon.

Dari riset tersebut, terbukti bahwa wanita yang telah menikah dan masih dalam usia pernikahan memiliki risiko demensia lebih rendah. Hal ini dibuktikan dengan interaksi yang mereka lakukan secara terus-menerus satu sama lain. Dengan ini, mereka tetap membuat korteks dapat terus aktif dan mencegah kerusakan sel otak. 

Dengan begitu pula, wanita yang memiliki rumah tangga dengan umur cukup lama akan terhindar dari demensia. Hasil penelitian tersebut juga membuktikan bahwa dengan menikah, seorang wanita bisa terhindar dari demensia. Dalam jumlah persentase, wanita lajang ataupun cerai memiliki kemungkinan risiko tinggi terhadap demensia dengan tingkat hingga 42%. Ini berbeda dengan wanita yang sudah menikah atau masih dalam status pernikahan. Dalam persentase, wanita yang sudah menikah memiliki risiko demensia 20%.

Bagi Anda yang sudah memasuki usia pernikahan, akan lebih baik jika Anda segera menikah. Selain karena usia, juga untuk kesehatan Anda. Di samping risiko demensia yang lebih kecil, salah satu manfaat lain dari menikah bagi seorang wanita yaitu meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik lagi. Dengan menikah, tidak hanya secara finansial saja, tetapi juga secara psikologis seorang wanita akan mendapatkan manfaat lebih.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: