Mengenal Stenosis Aorta (Aortic Stenosis) dan Cara Mengobatinya

Ilustrasi: stenosis aorta (sumber: e3arabi.com)Ilustrasi: stenosis aorta (sumber: e3arabi.com)

Jika Anda merasa mudah lelah dan detak jantung terasa lebih cepat, bisa jadi Anda sedang mengalami stenosis aorta atau biasa dikenal dengan istilah aortic stenosis. Sering dialami lansia, ternyata gangguan kesehatan ini juga bisa dialami oleh orang di usia produktif. Nah, untuk mengobatinya, Anda harus mengetahui penyebabnya.

Stenosis aorta (SA) merupakan salah satu kelainan katup jantung yang umum dan merupakan indikasi untuk dilakukannya operasi penggantian katup.[1] Dilansir dari Harvard Health Publishing, SA juga disebut sebagai kondisi penyempitan katup aorta yang bekerja keras di jantung. Katup aorta sebagai pintu jantung yang terus membuka dan menutup ini adalah tempat mengalirnya darah yang mengandung oksigen untuk dipompa ke seluruh tubuh. Penyempitan katup ini diketahui bisa menyebabkan gagal jantung jika tidak segera diidentifikasi atau pasien tidak dirawat dengan baik.

Masih dilansir dari sumber yang sama, untuk mengetahui SA, harus mengetahui bagian-bagian dari jantung terlebih dahulu. Jantung memiliki dua ruang pemompaan atau bernama ventrikel. Ruang pompa utama jantung adalah ventrikel kiri. Saat jantung berdetak, otot-otot jantung akan berkontraksi, mengeluarkan darah beroksigen yang dikumpulkan di bagian ini melalui katup aorta dan keluar melalui arteri utama.

Pada orang normal, katup jantung akan mudah terbuka, sehingga darah bisa dipompa masuk dan keluar dengan baik. Namun, pada pasien dengan riwayat SA, katup jantung akan mengalami kesulitan untuk membuka. Tak hanya itu, SA menyebabkan katup jantung sulit menutup (regurgitasi atau insufisiensi). Jika katup aorta gagal membuka sepenuhnya, akan terjadi turbulensi dalam darah yang mengalir pada katup. Ini ditandai dengan adanya murmur jantung yang diiringi tekanan darah berlebihan pada ventrikel kiri. Pada kondisi paling kronis, bisa berakibat gagal jantung.

Secara umum, SA disebabkan penumpukan kalsium terkait usia dan jaringan parut pada katup. Lebih dari 20% orang di Amerika yang berusia 65 tahun ke atas dilaporkan memiliki riwayat SA. Penyebab lainnya adalah penyakit jantung rematik dari infeksi yang tidak diobati dan struktur katup abnormal. Untuk lebih jelas mengenai penyebab SA, Anda bisa melihat rincian berikut.

Baca juga:  Dipercaya Dapat Membantu Mengatasi Pori-Pori Besar, Sariayu Masker Ketan Hitam Dijual Dengan Harga Terjangkau

Penyebab Stenosis Aorta

Ilustrasi: dokter menjelaskan stenosis aorta (sumber: broadcastmed.com)

Ilustrasi: dokter menjelaskan stenosis aorta (sumber: broadcastmed.com)

  • Dilansir dari hellosehat, penyebab utama SA adalah penyempitan katup aorta. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini, seperti cacat jantung bawaan. Tidak semua anak memiliki katup aorta yang sempurna. Biasanya, katup aorta normal memiliki tiga helai penutup. Sementara itu, katup aorta abnormal kemungkinan hanya memiliki satu helai penutup (unicuspid), dua helai penutup (bicuspid), atau empat helai penutup (quadricuspid).
  • Seperti yang telah disebutkan, SA bisa muncul akibat penumpukan kalsium pada katup aorta. Hal ini bisa terjadi karena sifat katup aorta yang mampu mengumpulkan deposit kalsium dari darah. Seiring bertambahnya usia, tumpukan kalsium akan menyebabkan katup aorta mengeras dan kaku. Hal ini yang membuat katup menyempit. Konon, kondisi ini lebih umum pada pria berusia 65 tahun dan wanita berusia 75 tahun. Ini juga yang menyebabkan banyak lansia meninggal akibat gagal jantung.
  • Tak hanya itu, demam rematik diketahui adalah salah satu penyebab SA yang umum dan ini tidak hanya terjadi pada lansia, tetapi juga orang dewasa usia produktif. Demam rematik bisa menyebabkan SA jika mengalami komplikasi berupa luka jaringan yang berkembang pada katup aorta. Luka jaringan ini jika tidak segera diobati, akan membuat katup aorta menyempit dan menimbulkan tumpukan deposit kalsium lebih mudah.

Faktor Risiko Stenosis Aorta

  • Cacat katup aorta dari lahir.
  • Usia yang semakin bertambah.
  • Pernah memiliki riwayat demam rematik.
  • Riwayat gagal ginjal kronis.
  • Riwayat diabetes melitus.
  • Riwayat tekanan darah tinggi yang sering kambuh.
  • Kolesterol tinggi hingga bergejala.
  • Kebiasaan merokok.
Baca juga:  Cara Mencegah Maskne, Jerawat Akibat Memakai Masker

Beberapa faktor risiko SA di atas memang tidak semuanya bisa dihindari, apalagi jika menyangkut cacat lahir. Namun, Anda bisa mengurangi faktor risiko lain seperti mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dengan tidak merokok dan menghindari makanan berkolesterol tinggi.

Untuk mengetahui apakah seseorang memiliki SA, dokter akan menggunakan USG jantung atau biasa dikenal dengan ekokardiogram. Dari hasil USG, dokter bias mendiagnosis tingkat SA yang dimiliki pasien, apakah ringan, sedang, atau berat. Sebelum melakukan pemeriksaan seperti ini, pasien juga harus mendeteksi secara dini dengan mencocokkan gejalanya.

Gejala Stenosis Aorta

Ilustrasi: stenosis aorta (youtube: Heartvavlesurgery.com)

Ilustrasi: stenosis aorta (youtube: Heartvavlesurgery.com)

Tanda-tanda dan gejala SA memang akan sulit terdeteksi di fase awal, tetapi Anda bisa mengetahuinya dengan memperhatikan kejanggalan yang terjadi di area dada. SA sering ditandai dengan adanya rasa nyeri pada dada yang menyebar hingga ke lengan dan pada beberapa waktu bisa menyebar ke tenggorokan. Pasien dengan riwayat penyakit ini juga sering batuk berat dan terkadang mengalami pendarahan. Hal ini menyebabkan penderita menjadi mudah lelah dan bisa pingsan.

Tak hanya itu, SA bisa menyebabkan penderitanya memiliki napas pendek, yang menjadi salah satu identifikasi bahwa orang ini mengalami kegagalan jantung sebelah kiri. Masalah pernapasan yang diidap pasien SA selama berolahraga dapat berkembang menjadi masalah pernapasan saat beristirahat. Sebagai contoh, Anda akan terbangun di malam hari karena tidak bisa bernapas.

Selain itu, gejala SA yang paling umum adalah detak jantung yang cepat. Dilansir dari halodoc, pengukuran detak jantung normal dibedakan berdasarkan usia dan untuk orang dewasa memiliki detak jantung sekitar 60 bpm hingga 100 bpm. Detak jantung dikatakan cepat bila melebihi angka normal.

Baca juga:  Rangkaian Produk Sariayu Eyeshadow Pallete Untuk Keindahan Kelopak Mata

Pengobatan Stenosis Aorta

Pengobatan SA tidak hanya didasarkan pada gejala yang terjadi, tetapi juga tingkat keparahan penyakit. Misalnya, ekokardiogram direkomendasikan pada pasien SA dengan diagnosis sedang setiap 1 hingga 2 tahun. Namun, jika pasien memiliki stenosis aorta yang kronis, harus segera berkonsultasi dan mendapatkan perawatan khusus dari dokter spesialis ahli jantung.

Saat ini, American College of Cardiology dan American Heart Association merekomendasikan penggantian katup ketika gejala berkembang dan SA yang didiagnosis parah. Dalam beberapa kasus, katup dengan stenosis akan diganti jika seseorang menjalani operasi jantung terbuka karena alasan lain, seperti operasi bypass jantung untuk penyakit arteri koroner.

Beberapa ahli juga merekomendasikan prosedur balon valvuloplasty untuk mengobati SA. Konon, pengobatan ini merupakan pilihan harang untuk SA bert. Kerusakan katup aorta dapat digantikan dengan katup mekanik atau jaringan. Risiko memiliki katup mekanik adalah peningkatan darah beku, sehingga pasien membutuhkan antikoagulan. Sementara itu, katup jaringan yang biasa dipakai terbuat dari katup sapi, babi, dan donor dari orang lain. Risiko dari katup jaringan adalah gejala SA yang dapat kambuh.

Alternatif lain untuk mengatasi SA adalah melakukan prosedur penggantian katup aorta transcatherer. Katup pengganti yang dipakai adalah katup prosthesis, yakni katup yang terbuat dari jaringan pasien sendiri. Katup buatan ini akan dimasukkan ke sebuah gelembung kateter dan jaringan yang dipakai biasanya diambil dari kaki atau bilik jantung sebelah kiri. Cara ini biasanya merupakan cadangan bagi pasien dengan SA akut yang harus menghindari operasi.

[1] Sari, Rika Permata, Yerizal Karani, Citra Kiki Krevani. 2019. Stenosis Aorta dengan Penyulit Hiperkalemia. Majalah Kedokteran Andalas, Vol. 42(1): 31-40.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: